Teungku Haji Idris Tanjongan (Haji Malem): Sejarah Cikal Bakal Jaringan Ulama dan Genealogi Keilmuan Ma’hadal Ulum Diniyah Islamiyah (Dayah Mudi Mesra Samalanga)

Teungku Haji Idris Tanjongan (Haji Malem): Sejarah Cikal Bakal Jaringan Ulama dan Genealogi Keilmuan Ma'hadal Ulum Diniyah Islamiyah (Dayah Mudi Mesra Samalanga)

*) Oleh: Avicenna Al Maududdy, M.Hum

Dalam lanskap sejarah intelektual Aceh, khususnya di wilayah Samalanga, keberadaan Teungku Haji Idris Tanjongan—yang lebih dikenal dengan sebutan Haji Malem menempati posisi yang tidak hanya penting, tetapi juga fundamental. Ia bukan sekadar seorang ulama lokal yang memimpin dayah, melainkan figur poros yang darinya tumbuh jaringan keilmuan, genealogi ulama, dan tradisi intelektual yang kemudian bertransformasi menjadi salah satu pusat pendidikan Islam paling berpengaruh di Aceh, yakni Dayah Mudi Mesra Samalanga. Dalam konteks ini, Haji Malem layak dipahami bukan hanya sebagai individu, tetapi sebagai “mata air” peradaban dayah di Aceh terkhusus di Samalanga.

Bacaan Lainnya

Secara historis, sosok Haji Malem hidup dalam periode ketika sistem pendidikan Islam di Aceh masih bertumpu pada model dayah tradisional yang berbasis pada transmisi keilmuan klasik (turats). Dayah bukan hanya menjadi tempat belajar agama, tetapi juga pusat pembentukan karakter, jaringan sosial, dan reproduksi ulama. Dalam sistem ini, otoritas keilmuan seorang teungku sangat ditentukan oleh sanad keilmuan, kedalaman penguasaan kitab, serta kapasitasnya dalam melahirkan murid-murid yang kelak menjadi ulama besar. Di sinilah posisi Haji Malem menjadi krusial ia tidak hanya mengajar, tetapi membangun fondasi epistemologis dan kultural yang berkelanjutan.

Sebutan Haji Malem sendiri memiliki makna simbolik yang kuat dalam tradisi Aceh. Kata “malem” merujuk pada kedalaman ilmu agama, khususnya dalam bidang fikih, tauhid, dan tasawuf. Dengan demikian, gelar ini bukan sekadar panggilan sosial, melainkan pengakuan kolektif atas otoritas keilmuan dan integritas spiritual yang dimilikinya. Ia dikenal sebagai sosok yang tekun dalam mengajarkan kitab-kitab klasik, disiplin dalam membina santri, serta konsisten menjaga kemurnian tradisi keilmuan Ahlussunnah wal Jama‘ah yang menjadi arus utama di Aceh.

Dalam dimensi keluarga, Haji Malem juga memainkan peran sentral sebagai titik awal lahirnya generasi ulama besar. Ia adalah ayah dari beberapa tokoh penting dalam sejarah keilmuan Aceh, di antaranya Teungku Haji Syihabuddin Idris (Pimpinan Dayah Mudi Mesra Samalanga 1920-1927), Teungku Abdul Hamid yang kemudian dikenal luas sebagai Ayah Hamid Samalanga dan Teungku Juwairiah (Istri Teungku hanafiah/Teungku Abi, pimpinan dayah Mudi Mesra Samalanga 1927-1958). Ketiga figur ini bukan hanya melanjutkan warisan keilmuan sang ayah, tetapi juga mengembangkannya dalam konteks yang lebih luas, baik dari segi kelembagaan, jaringan dakwah, maupun pengaruh sosial-keagamaan.

Teungku Haji Syihabuddin Idris dikenal sebagai sosok yang melanjutkan tradisi keilmuan keluarga dengan tetap berpegang pada model pendidikan dayah klasik. Ia berperan dalam menjaga kesinambungan sanad keilmuan serta memperluas jaringan murid yang tersebar di berbagai wilayah Aceh. Sementara itu, Ayah Hamid Samalanga tampil sebagai figur reformis dalam batas-batas tradisi ia tidak memutus mata rantai klasik, tetapi mampu mengadaptasi sistem dayah agar tetap relevan dengan perkembangan zaman. Di tangannya, Dayah Mudi Mesra berkembang menjadi institusi besar yang tidak hanya dikenal di Aceh, tetapi juga di tingkat nasional.

Adapun Teungku Juwairiah, meskipun seringkali kurang mendapatkan sorotan dalam historiografi formal, tetap menjadi bagian penting dalam struktur keluarga ulama ini. Kehadirannya mencerminkan bahwa tradisi keilmuan dalam keluarga Haji Malem tidak hanya bersifat patriarkal dalam arti sempit, tetapi juga melibatkan peran perempuan dalam menjaga nilai-nilai keislaman dan transmisi kultural dalam lingkup keluarga dan masyarakat.

Jika dilihat dari perspektif genealogi keilmuan, maka Haji Malem dapat diposisikan sebagai simpul awal dari sebuah jaringan ulama yang terus berkembang. Genealogi ini tidak hanya bersifat biologis, tetapi juga intelektual. Murid-muridnya, baik yang berasal dari keluarganya sendiri maupun dari kalangan santri, menjadi agen penyebaran ilmu yang memperluas pengaruh dayah Tanjongan ke berbagai daerah. Dalam konteks ini, Dayah Mudi Mesra Samalanga tidak lahir secara tiba-tiba, melainkan merupakan hasil dari proses panjang yang berakar pada fondasi yang dibangun oleh Haji Malem.

Meskipun tidak banyak karya tulis formal yang dapat diidentifikasi secara langsung sebagai produk intelektual Haji Malem sebagaimana lazimnya ulama dayah tradisional, namun kontribusinya dalam khazanah keilmuan tidak dapat diukur semata-mata dari teks tertulis. Tradisi dayah di Aceh lebih menekankan pada transmisi lisan, pengajaran kitab, dan pembentukan karakter santri. Dengan demikian, “karya” terbesar Haji Malem justru terletak pada generasi ulama yang ia lahirkan serta sistem pendidikan yang ia bangun. Ia adalah representasi dari model ulama yang menjadikan manusia sebagai “kitab hidup”, di mana ilmu tidak hanya diajarkan, tetapi juga diwujudkan dalam praktik kehidupan sehari-hari.

Dalam perspektif sejarah intelektual, kontribusi Haji Malem dapat dilihat dalam tiga dimensi utama. Pertama, sebagai pendiri basis keilmuan yang kokoh di tingkat lokal (Tanjongan-Samalanga). Kedua, sebagai penghubung antara tradisi keilmuan klasik dengan dinamika sosial masyarakat Aceh. Ketiga, sebagai pelahir generasi ulama yang kemudian memperluas dan menginstitusionalisasikan tradisi tersebut dalam bentuk dayah besar seperti Mudi Mesra.

Pengakuan terhadap peran besar Haji Malem tidak hanya tercermin dalam narasi sejarah lisan, tetapi juga dalam upaya simbolik untuk mengabadikan namanya dalam lembaga pendidikan. Salah satu bentuk penghormatan tersebut adalah penamaan Dayah Riyadhul Mubarakah Al-Idrisiyah (Dayah Rimu Tanjongan Samalanga), yang secara eksplisit merujuk pada nama beliau. Ini bukan sekadar bentuk memorialisasi, tetapi juga penegasan bahwa warisan keilmuan Haji Malem tetap hidup dan relevan hingga hari ini. Nama tersebut menjadi penanda bahwa tradisi keilmuan yang ia bangun tidak terputus oleh waktu, melainkan terus bertransformasi dalam berbagai bentuk kelembagaan.

Dalam membaca peran Teungku Haji Idris Tanjongan (Haji Malem) secara lebih utuh, tidak cukup hanya menempatkannya dalam ruang pendidikan dayah semata, tetapi juga dalam konteks pergolakan besar yang membentuk wajah Aceh modern, yakni Perang Aceh. Perang ini bukan sekadar konflik militer antara Kesultanan Aceh dan kolonial Belanda, melainkan juga merupakan perang ideologis, spiritual, dan intelektual, di mana para ulama memainkan peran sentral sebagai penggerak resistensi.

Dalam konteks tersebut, Haji Malem dapat dipahami sebagai bagian dari jaringan ulama pejuang yang berada dalam orbit perjuangan Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman, seorang tokoh kharismatik yang memimpin perlawanan dengan mengintegrasikan jihad fisik dan jihad keilmuan. Tradisi Aceh tidak memisahkan antara medan perang dan ruang pendidikan; dayah justru menjadi basis strategis dalam membangun kesadaran kolektif, legitimasi religius, dan keberlanjutan perjuangan.

Dalam posisi sebagai salah satu wakil atau bagian dari jaringan ulama yang terhubung dengan Teungku Chik di Tiro, Haji Malem memainkan peran yang khas bukan semata sebagai komandan di medan tempur, tetapi sebagai arsitek kesadaran. Ia mengonsolidasikan kekuatan umat melalui pendidikan, mengajarkan nilai-nilai tauhid, jihad, kesabaran, dan keteguhan hati kepada para santri dan masyarakat. Dengan demikian, dayah yang ia pimpin tidak hanya berfungsi sebagai pusat pengajaran kitab, tetapi juga sebagai ruang kaderisasi pejuang yang memiliki landasan spiritual yang kuat.

Dalam perspektif ini, pendidikan yang dikembangkan oleh Haji Malem dapat dilihat sebagai bentuk soft resistance yang justru memiliki daya tahan jangka panjang. Ketika banyak wilayah jatuh secara militer, jaringan ulama dan dayah tetap hidup dan menjadi benteng terakhir identitas Aceh. Para santri yang dididik tidak hanya menjadi ahli agama, tetapi juga menjadi agen perlawanan yang menyebarkan semangat anti-kolonial ke berbagai pelosok. Di sinilah letak signifikansi peran Haji Malem: ia membangun “infrastruktur ideologis” yang menopang perjuangan bersenjata.

Lebih jauh, keterlibatan Haji Malem dalam jaringan perjuangan ulama menunjukkan bahwa genealogi keilmuan yang ia bangun tidak steril dari realitas sosial-politik. Justru sebaliknya, ia lahir dari rahim sejarah yang penuh konflik dan ketegangan. Hal ini kemudian diwariskan kepada generasi berikutnya, termasuk Teungku Haji Syihabuddin Idris dan terutama Teungku Abdul Hamid (Ayah Hamid Samalanga), yang mewarisi bukan hanya tradisi keilmuan, tetapi juga semangat ketahanan, kemandirian, dan keberpihakan pada umat.

Jika ditarik dalam kerangka historiografi Aceh, maka peran Haji Malem dalam masa perang memperlihatkan bahwa ulama dayah tidak dapat dipisahkan dari dinamika perjuangan. Mereka bukan hanya penjaga tradisi, tetapi juga aktor sejarah yang aktif. Haji Malem, dalam hal ini, menjadi representasi dari tipologi ulama Aceh yang memadukan ilmu, amal, dan perjuangan di mana pena dan pedang, mimbar dan medan laga, saling melengkapi.

Dengan demikian, kontribusi Haji Malem dalam Perang Aceh tidak selalu tercatat dalam bentuk kemenangan militer atau strategi tempur, tetapi lebih dalam bentuk pembentukan kesadaran kolektif yang berkelanjutan. Ia mungkin tidak selalu disebut dalam narasi besar peperangan, tetapi pengaruhnya hidup dalam jaringan ulama, dalam tradisi dayah, dan dalam semangat perlawanan yang terus diwariskan lintas generasi. Dari sinilah kita dapat memahami bahwa kemenangan sejati dalam konteks Aceh bukan hanya bertahan secara fisik, tetapi juga menjaga keberlangsungan identitas, iman, dan ilmu sesuatu yang telah dirintis oleh Haji Malem melalui jalur pendidikan.

Dengan demikian, memahami sosok Teungku Haji Idris (Haji Malem) berarti menelusuri akar dari sebuah peradaban kecil yang kemudian tumbuh menjadi kekuatan besar dalam dunia pendidikan Islam di Aceh. Ia adalah figur yang bekerja dalam diam, tetapi menghasilkan gema yang panjang dalam sejarah. Dari Tanjongan, ia menanam benih; melalui anak-anak dan murid-muridnya, benih itu tumbuh; dan dalam institusi seperti Dayah Mudi Mesra, ia menjelma menjadi pohon besar yang menaungi generasi demi generasi.

Pada akhirnya, Haji Malem bukan hanya bagian dari masa lalu, tetapi juga bagian dari masa kini dan masa depan. Warisan intelektualnya tidak berhenti pada sejarah, melainkan terus hidup dalam praktik pendidikan dayah, dalam nilai-nilai yang diajarkan, dan dalam jaringan ulama yang terus berkembang. Ia adalah bukti bahwa satu sosok dengan visi keilmuan yang kuat dapat membentuk arah sejarah sebuah komunitas bahkan sebuah peradaban.

*) PENULIS Adalah Dosen Tetap Prodi Pengembangan Masyarakat Islam di Universitas Islam Al-Aziziyah Indonesia (UNISAI) Samalanga, Kab. Bireun, Aceh

Pos terkait