*) Oleh : Irfan Maulana
9 September 2026. Seperempat abad hidup.
Tidak terasa, sudah sejauh ini perjalanan dilalui.
Hari ini terasa sedikit berbeda. Sudah seminggu tubuh meminta untuk berhenti sejenak. Dan hari ini, setelah sekian banyak kesibukan, tidak pergi ke kantor, tidak mengejar pekerjaan, tidak berhadapan dengan rutinitas seperti biasanya. Hanya beristirahat.
Mungkin sederhana, tapi justru dari keadaan seperti ini banyak hal yang kembali dipikirkan.
Tentang hidup.
Tentang perjalanan.
Tentang apa yang sudah dicapai.
Tentang apa yang masih ingin diperjuangkan.
Dan semakin dipikirkan, satu hal yang paling terasa adalah bersyukur.
Bukan karena hidup selalu berjalan sesuai keinginan. Justru banyak hal yang tidak berjalan seperti yang pernah direncanakan.
Ada yang datang tanpa diduga.
Ada yang pergi tanpa diminta.
Ada rencana yang berhasil.
Ada juga yang harus diterima sebagai kegagalan.
Tapi semuanya ternyata punya tempat dalam perjalanan.
Seperempat abad membuatku perlahan memahami bahwa hidup bukan hanya tentang mendapatkan apa yang kita mau. Kadang hidup juga tentang belajar menerima apa yang belum bisa kita miliki. Tentang belajar kehilangan. Belajar menunggu. Belajar gagal. Belajar kecewa. Lalu belajar berdiri lagi.
Satu per satu wishlist hidup mulai tercapai.
Beberapa hal yang dulu hanya berani ditulis dalam angan-angan, perlahan menjadi kenyataan. Tidak semuanya datang dengan mudah. Ada proses panjang yang mungkin tidak banyak diketahui orang lain.
Tapi justru dari proses itulah aku belajar bahwa setiap pencapaian selalu punya cerita di belakangnya. Ada doa. Ada usaha. Ada lelah. Ada keraguan.
Dan ada banyak sekali momen ketika diri sendiri harus meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Di usia ini, aku juga mulai belajar memahami lelahnya tubuh.
Dulu rasanya harus selalu bergerak. Harus selalu produktif. Harus selalu mengejar sesuatu.
Sekarang mulai mengerti bahwa tubuh juga punya batas.
Sakit hampir seminggu ini mungkin menjadi pengingat kecil bahwa tidak semua hal harus dikejar terus-menerus. Ada waktunya bekerja. Ada waktunya berjuang Ada waktunya mengejar mimpi. Tapi ada juga waktunya berhenti sejenak.
Beristirahat tanpa merasa bersalah. Tidur tanpa memikirkan pekerjaan. Menikmati waktu tanpa merasa sedang tertinggal. Karena ternyata, menjaga diri sendiri juga bagian dari perjalanan.
Perlahan mulai memahami bahwa tidak semua hal harus selesai hari ini.
Ada mimpi yang memang membutuhkan waktu.
Ada rencana yang harus ditunda.
Ada target yang belum tercapai.
Dan tidak apa-apa. Aku yakin semua ada waktunya.
Aku masih punya cukup waktu untuk mencoba lagi.
Masih banyak target hidup yang belum dicapai. Masih banyak tempat yang ingin didatangi. Masih banyak hal yang ingin dipelajari. Masih banyak cita-cita yang belum menemukan waktunya.
Tidak perlu terburu-buru. Hidup bukan perlombaan.
Tidak harus selalu melihat pencapaian orang lain untuk menentukan apakah diri sendiri sudah cukup jauh.
Setiap orang punya jalan masing-masing. Punya waktu masing-masing. Punya cerita masing-masing. Yang penting adalah tetap berjalan.
Dan di antara semua hal yang ingin dicapai, ada satu hal yang terasa semakin penting: membahagiakan orang tua.
Walau belum bisa memberikan semuanya. Belum mampu membalas seluruh perjuangan mereka. Tapi setidaknya, ada usaha untuk membuat mereka tersenyum. Ada usaha untuk memberikan sesuatu yang dulu mungkin hanya bisa dibayangkan.
Semoga suatu hari nanti, mereka bisa melihat perjalanan ini dan merasa bahwa semua doa dan pengorbanan mereka tidak pernah sia-sia.
Karena semakin bertambah usia, semakin sadar bahwa keberhasilan bukan hanya tentang jabatan, pencapaian, atau apa yang berhasil dimiliki. Kadang keberhasilan sesederhana melihat orang tua tetap sehat. Bisa membuat mereka tersenyum. Bisa membantu ketika mereka membutuhkan. Dan bisa menjadi seseorang yang membuat mereka merasa tenang.
Untuk urusan hidup yang lain, belakangan ada satu hal kecil yang diam-diam membuat hari terasa lebih menyenangkan: sedang senang memandang seseorang. Tidak tahu akan menjadi cerita panjang atau hanya menjadi bagian kecil dari perjalanan. Tidak perlu dipaksakan. Biarkan berjalan sebagaimana mestinya.
Kalau memang menjadi bagian dari cerita, semoga Allah SWT mudahkan jalannya dan jadikan pandangan ini sebagai awal dari niat yang baik. Semoga, kalau memang ada kebaikan di dalamnya, Allah bantu dengan keajaiban-Nya yang tidak pernah kita sangka. Selebihnya, biar Allah SWT yang menentukan.
Seperempat abad bukan tentang seberapa banyak yang sudah dimiliki. Bukan pula tentang seberapa jauh sudah berlari. Tapi tentang seberapa banyak yang sudah dipelajari, disyukuri, dan diperjuangkan.
Tentang bagaimana menjadi lebih tenang dalam menghadapi hidup. Lebih menerima apa yang tidak bisa dikendalikan. Lebih menghargai waktu. Lebih menghargai diri sendiri. Dan lebih memahami bahwa hidup tidak harus selalu terlihat hebat untuk bisa terasa berarti.
Ingat, masih banyak wishlist yang ingin dicentang.
Pelan-pelan saja.
Tidak harus semuanya sekarang.
Karena ternyata, menjadi dewasa bukan tentang memiliki semua jawaban. Tapi tentang mulai memahami bahwa tidak semua pertanyaan harus dijawab hari ini. Ada hal-hal yang cukup dijalani. Ada hal-hal yang cukup didoakan.
Ada hal-hal yang cukup ditunggu. Dan ada hal-hal yang memang harus dilepaskan. Pada akhirnya, mungkin hidup memang sesederhana itu: terus berjalan, dan berusaha sambil belajar menerima apa pun yang datang di sepanjang perjalanan.
25 Tahun
Belum sampai di semua tempat yang ingin dituju, belum mencapai semua yang diimpikan. Tapi perjalanan masih panjang, dan masih banyak kesempatan untuk mencoba.
Tidak perlu terburu-buru. Yang penting tetap melangkah, tetap belajar, dan tetap percaya bahwa setiap usaha akan menemukan hasilnya pada waktu yang tepat.
Semoga ke depan lebih banyak hal baik yang datang. Semoga yang sedang diperjuangkan dimudahkan, yang belum tercapai diberi jalan, dan setiap langkah selalu membawa lebih dekat pada kehidupan yang diinginkan.
Aku tidak tahu akan seperti apa beberapa tahun ke depan. Tapi aku percaya, akan ada banyak hal baik yang menunggu di depan. Jadi, lanjut saja.
Pelan-pelan, tapi terus maju.
Semoga hari-hari ke depan lebih baik dari hari-hari yang sudah dilewati.
Dan semoga, ketika nanti kembali melihat catatan ini beberapa tahun dari sekarang, aku bisa tersenyum dan berkata. “Ternyata, aku berhasil melewati semuanya.” Amin Ya Robbal Alamin.






