Bocah 7 Tahun Meninggal Usai Diduga Dibully, Sempat Sebut 3 Anak yang Memukulnya

Bocah 7 Tahun Meninggal Usai Diduga Dibully, Sempat Sebut 3 Anak yang Memukulnya
Suasana rumah duka Muhamad Hasbi Al-Aqib bin Nurwandi (7), bocah SD yang tewas diduga dibully kakak kelasnya, di Kebondalem, Pemalang, Kamis (1/10/2026). Foto: Robby Bernardi/detikJateng

INFONANGGROE.COM – Kabar duka menyelimuti keluarga Aqib (7), siswa kelas 2 SDN 1 Kebondalem, Pemalang. Bocah warga Kebondalem itu meninggal dunia pada Rabu (30/9) sore setelah sebelumnya sempat menjalani perawatan di rumah sakit. Kematian Aqib kini diselidiki polisi karena diduga berkaitan dengan tindakan kekerasan atau perundungan.

Jenazah Aqib kemudian diautopsi oleh Bidokkes Polda Jawa Tengah di RSUD M Azhari Pemalang pada Kamis (1/10). Polisi menyatakan pemeriksaan dilakukan untuk memastikan penyebab kematian korban.

Bacaan Lainnya

Kasat Reskrim Polres Pemalang AKP M Wildan Umar mengatakan, laporan mengenai dugaan kekerasan terhadap seorang anak diterima pihaknya setelah korban meninggal dunia. Polisi kemudian langsung melakukan penyelidikan dan meminta keterangan sejumlah saksi.

“Ya, kami Sat Reskrim bersama Polsek Pemalang Kota menerima laporan dari masyarakat atau adanya informasi bahwa ada seorang anak meninggal dunia yang diduga akibat adanya tindakan kekerasan,” kata Wildan di RSUD M Azhari, Kamis (1/10/2026), dikutip dari detikjateng.

Sejak Rabu malam, polisi telah meminta keterangan awal dari sejumlah saksi, termasuk orang tua korban. Proses autopsi dilakukan untuk mengetahui penyebab pasti kematian Aqib.

“Dan hari ini, kami sedang melaksanakan autopsi kepada korban untuk mengetahui penyebab kematian dari korban,” kata Wildan.

Wildan menambahkan, hasil pemeriksaan jenazah akan didalami bersama tim forensik Biddokkes Polda Jateng.

“Terkait jenazah nanti kami akan jelaskan, kami akan dalami dengan pihak tim forensik Biddokkes Polda Jateng. Karena saat ini terkait dengan pelaksanaan autopsi kami dibantu oleh Biddokkes Polda Jateng secara scientific crime investigation,” tambahnya.

Sementara itu, ibu korban, Diah Indriyanti (36), mengaku terpukul kehilangan anak ketiganya. Ia mengatakan Aqib sempat dirawat selama sembilan hari di RSUD M Azhari sejak Kamis (17/9), kemudian diperbolehkan pulang dan berada di rumah selama tiga hari.

Sebelum meninggal, kondisi Aqib disebut berubah drastis. Anak yang sebelumnya ceria dan memiliki nafsu makan baik itu menjadi pendiam. Diah mengatakan, cerita mengenai dugaan perundungan baru disampaikan Aqib setelah diperiksa dokter.

“Cuma saya merasa udah beda dari pola makan sama pola setiap hari. Anak itu biasanya ceria tapi berubah, pendiam,” katanya.

“Dia baru bercerita itu setelah diperiksa sama dokter, baru dia cerita,” tambah Diah.

Dari cerita yang diterimanya, Diah mengetahui dugaan kekerasan terjadi saat jam istirahat. Ia menyebut Aqib mengaku dipukul dan ditendang.

“Dipukul perut, ada yang menendang pakai sepatu. Dan itu pun saya pertama enggak… enggak tahu kalau anak itu udah dipukul. Saya baru tahu itu kemarin-kemarin,” katanya.

Diah juga melihat adanya memar pada bagian perut dan kaki Aqib. Setelah tiga hari berada di rumah, rasa sakit kembali dirasakan korban hingga akhirnya keluarga membawanya ke rumah sakit pada Rabu sore.

“Memar di perut dan kaki, warna biru-biru lebam,” katanya.

“Tiga hari di rumah, anak merasakan sakit-sakit, mengeluhkan perut sakit.” imbuh Diah.

Kondisi Aqib bahkan membuatnya kesulitan berjalan dan mengeluh kesakitan ketika tubuhnya diangkat.

“Kalau diangkat juga mengeluh sakit,” katanya.

Dalam perjalanan menuju rumah sakit pada Rabu (30/9), kondisi Aqib memburuk hingga akhirnya meninggal dunia. Diah mengaku masih sulit menerima kepergian anaknya yang sebelumnya tidak diketahui menderita sakit berat.

“Harapan kami selaku orang tua udah cukup Aqib saja. Yang lain jangan. Mungkin saya ikhlas enggak ikhlas, karena (anak) enggak sakit nggih. Jadi kan saya merasa… Kok enggak sakit, kok tiba-tiba kayak gitu,” ungkap Diah.

Sementara itu, ayah korban, Nurwandi (43), mengaku telah mendatangi sekolah untuk meminta penjelasan mengenai dugaan perundungan yang dialami anaknya.

Menurut Nurwandi, sebelum meninggal Aqib sempat menunjukkan orang-orang yang disebutnya telah melakukan pemukulan setelah diperlihatkan foto.

“Anak saya itu sebelum meninggal sudah ngomong siapa-siapa yang mukul dia, dilihatin foto terus dia nunjuk. Ada tiga anak, yang dua kelas 5 dan satu kelas 6. Saya mencoba minta kejelasan sekolah, namun belum ada hasilnya,” kata Nurwandi.

Kini keluarga berharap polisi dapat mengungkap secara terang dugaan kekerasan yang dialami Aqib serta memastikan adanya keadilan atas kematian anak tersebut.

Pos terkait