Masuk Linge, Tim Emergensi Kemenkes Respon Musyawarah Warga

Masuk Linge, Tim Emergensi Kemenkes Respon Musyawarah Warga

JAKARTA, INFONANGGROE.COM – Tim Emergency Medical Team (TCK-EMT) Komposit dari Kementerian Kesehatan kini bertugas memperkuat layanan kesehatan di Puskesmas Pembantu (Pustu) Jamat, Kemukiman Wih Dusun Jamat, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah. Kehadiran tim medis ini merupakan tindak lanjut langsung dari aspirasi masyarakat yang disampaikan dalam forum Musara Pakat Linge yang digelar pada 8 Februari 2026 lalu.

Saat ini, tim TCK-EMT telah berada di lokasi sejak Sabtu (14/2/2026) untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada warga terdampak banjir bandang di lima desa. Kehadiran tim medis ini dinilai sangat krusial, mengingat wilayah pedalaman Aceh Tengah masih berada dalam fase pemulihan intensif pascabencana.

Bacaan Lainnya

“Penugasan tim TCK-EMT ini merupakan tindak lanjut langsung dari laporan lapangan yang kami sampaikan saat Musara Pakat Linge, termasuk laporan dari dr. Dhea Mangun dari Portkesmas yang tergabung dalam Relawan Aceh Tangguh (ReAct) yang telah melayani warga selama tujuh hari pascabanjir,” ujar dr. Basra Amru, Selasa (17/2/2026).

Menurutnya, kebutuhan layanan kesehatan di kawasan tersebut masih sangat mendesak. Selain kerusakan infrastruktur, keterbatasan akses, serta meningkatnya risiko penyakit pascabencana, Pustu Jamat menjadi fasilitas kesehatan vital bagi masyarakat pedalaman sebelum dirujuk ke puskesmas induk atau rumah sakit.

“Puskesmas Pembantu Jamat menjadi tumpuan utama warga untuk mendapatkan layanan kesehatan dasar dan pertolongan pertama,” jelasnya.

Relawan Aceh Tangguh (ReAct) mengapresiasi langkah cepat dan respons konkret pemerintah pusat dalam menindaklanjuti hasil Musara Pakat Linge yang digelar di Reje Payung, Kemukiman Wih Dusun Jamat. Forum musyawarah itu menjadi ruang penting bagi masyarakat penyintas banjir bandang untuk menyampaikan langsung keluhan, kebutuhan, serta harapan mereka tanpa perantara.

Musara Pakat Linge yang diinisiasi ReAct dirancang sebagai wadah aspirasi masyarakat terdampak bencana agar suara mereka tidak berhenti di tingkat daerah, melainkan sampai ke pengambil kebijakan nasional. Melalui forum tersebut, warga dapat melaporkan kondisi riil di lapangan sekaligus menyampaikan kebutuhan mendesak, terutama di sektor kesehatan, infrastruktur, dan pemulihan ekonomi.

ReAct menilai, forum ini membuktikan bahwa keterlibatan langsung masyarakat dalam proses pengambilan kebijakan mampu mempercepat respons pemerintah. Model dialog terbuka tersebut diharapkan dapat terus diperluas ke wilayah rawan bencana lainnya di Aceh, sehingga kebutuhan warga terdampak dapat ditangani secara cepat, tepat, dan berkelanjutan. (*)

Pos terkait