Ketika Kota Dipercantik, Warga Masih Menunggu Air dan Rumah

Pada 9 Desember 2025, kami datang ke Aceh Tamiang bukan sebagai wisatawan. Kami datang setelah banjir melanda, membawa bantuan dan ikut membantu warga yang terdampak.

Saat itu, yang kami temui adalah lumpur, bau sisa banjir, rumah-rumah yang belum pulih dan warga yang berjibaku membersihkan tempat tinggal mereka.

Bacaan Lainnya

Kami tidak berhenti di pusat kota. Kami masuk ke pelosok, ke wilayah yang mungkin jarang terlihat ketika wisatawan datang atau pejabat berkunjung.

Hampir setahun kemudian, 24 September 2026, kami kembali.

Berangkat dari Banda Aceh sekitar pukul 10.00 WIB, kami kembali menyusuri Aceh Tamiang. Memasuki kawasan kota, suasananya terlihat berbeda. Lampu-lampu dengan berbagai warna menghiasi jalan. Kota tampak semakin tertata dan indah.

Namun, setelah kegiatan di pelosok selesai, perjalanan membawa kami melewati depan Kantor Bupati Aceh Tamiang.

Kami melihat pagar baru yang sedang dibangun di baris depan kantor. Tiang-tiangnya sudah berdiri tinggi, meski belum selesai. Kami bahkan penasaran, seperti apa desain utuhnya nanti.

Di bagian depan juga berdiri tembok prasasti bertuliskan Kantor Bupati Aceh Tamiang, setelah plang nama kantor yang sebelumnya berada di lokasi itu dirobohkan.

Menurut informasi warga setempat, area tersebut juga sedang disiapkan menjadi lapangan helipad, meski pembangunannya belum selesai.

Pemandangan itu membuat kami kembali teringat pada pelosok.

Di sana, menurut warga yang kami temui, sebagian masyarakat masih tinggal di Huntara. Namun, ada pula warga yang memilih kembali ke rumah karena tidak sanggup terus tinggal di Huntara.

Masalahnya, ketika kembali ke rumah, persoalan baru menanti: air bersih.

Warga mengeluhkan jaringan pipa air yang masih berantakan. Ada pula meteran air yang disebut tersumbat. Dalam kondisi seperti ini, pulang ke rumah belum tentu berarti kehidupan sudah kembali normal.

Kepastian mengenai Hutap juga disebut warga masih belum jelas.

Di titik ini, pertanyaannya bukan lagi soal apakah kota harus dipercantik.

Tentu boleh.

Tetapi mana yang harus didahulukan?

Ketika lampu kota semakin indah, pagar kantor bupati mulai berdiri, prasasti baru dibangun dan area helipad disiapkan, masih ada warga di pelosok yang berjuang keluar dari Huntara karena tidak sanggup terus tinggal di sana, tetapi ketika kembali ke rumah mereka masih berhadapan dengan persoalan air bersih.

Warga juga menilai persoalan pelayanan air melalui PDAM masih membutuhkan perhatian.

Maka, wahai Bapak Bupati, mungkin ada kebutuhan yang jauh lebih mendesak untuk dilihat sebelum kita terlalu sibuk membangun wajah kota.

Sebab bagi warga yang tidak lagi sanggup tinggal di Huntara, pulang ke rumah seharusnya menjadi awal pemulihan, bukan kembali menghadapi persoalan air.

Air bersih bukan kemewahan. Ia kebutuhan paling dasar.

Kami tidak sedang mempersoalkan kota yang dipercantik.

Kami hanya ingin mengingatkan:

Jangan sampai wajah kota dibangun lebih cepat daripada kehidupan warganya dipulihkan.

Sebab pembangunan pada akhirnya bukan tentang bagaimana Aceh Tamiang terlihat dari jalan utama.

Pembangunan adalah tentang bagaimana warga di pelosok bisa kembali hidup layak di rumah mereka sendiri.

Pos terkait