11 Bulan Andalkan Getek, Warga Pedalaman Aceh Tamiang Desak Jembatan Segera Dibangun

11 Bulan Andalkan Getek, Warga Pedalaman Aceh Tamiang Desak Jembatan Segera Dibangun
Warga melintas menggunakan getek sebagai penghubung Desa Ara Sembilan Kecamatan Bandar Pusaka dengan Desa Lubuk Sidup Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, Senin (5/10/2026)(DOK PRIBADI WARGA)

INFONANGGROE.COM – Sudah 11 bulan warga di pedalaman Kabupaten Aceh Tamiang harus mengandalkan getek untuk menyeberangi Sungai Tamiang. Kondisi itu terjadi setelah jembatan utama yang menghubungkan Desa Ara Sembilan, Kecamatan Bandar Pusaka, dengan Desa Lubuk Sidup, Kecamatan Sekerak, hancur diterjang banjir pada 26 November 2025.

Getek, berupa rakit kayu yang digunakan layaknya perahu, kini menjadi pilihan utama warga untuk membawa orang maupun sepeda motor menyeberangi sungai. Sekali menyeberang, warga dikenakan biaya Rp5.000 per orang dan motor.

Bacaan Lainnya

Datok Penghulu Desa Babo, Khairi, mengatakan jembatan gantung sempat dibangun di kawasan tersebut. Namun, lantainya beberapa kali mengalami kerusakan hingga kini bagian dinding jembatan juga telah hilang.

Kondisi itu semakin mengkhawatirkan karena Sungai Tamiang dikenal memiliki banyak buaya. Khairi menyebut pernah ada warga yang dikejar buaya ketika berada di sungai.

“Bahkan, ada warga yang dikejar buaya saat berada di sungai. Jadi, jembatan ini statusnya jembatan Provinsi Aceh. Jalannya juga jalan provinsi. Kami harap ini bisa dibangun tahun ini,” kata Khairi, dikutip dari kompas.

Penggunaan getek juga menyulitkan warga ketika harus membawa barang dalam jumlah banyak. Sepeda motor yang digunakan untuk mengangkut barang memiliki keterbatasan kapasitas sehingga aktivitas masyarakat menjadi tidak praktis.

“Masalahnya kalau kita bawa barang dengan motor kan jumlahnya terbatas. Jadi, ini sangat merepotkan sekali. Kami harap bisa menjadi perhatian pemerintah,” terangnya.

Dampak lainnya dirasakan pelajar dan guru yang setiap hari harus menyeberangi Sungai Tamiang untuk beraktivitas. Bagi mereka, perjalanan dengan getek menjadi bagian dari rutinitas sejak jembatan penghubung tersebut rusak.

“Paling susah itu anak sekolah. Setiap hari harus naik getek,” katanya.

Keluhan serupa disampaikan warga bernama Musliadi. Ia berharap akses menuju wilayah pedalaman Aceh Tamiang menjadi perhatian pemerintah agar warga lebih mudah membawa orang maupun barang menuju ibu kota Kabupaten Aceh Tamiang.

“Sampai sekarang belum ada tanda-tanda kapan dibangun jembatan permanen. Kami harap ini menjadi prioritas utama dalam tahun ini. jangan lagi menunda terlalu lama, kasihan kami yang menggunakan getek tiap hari,” katanya.

Jembatan tersebut diketahui berstatus sebagai jembatan Provinsi Aceh, sementara jalan yang menghubungkan kedua wilayah juga merupakan jalan provinsi. Hingga kini, warga masih berharap pembangunan jembatan permanen segera dilakukan.

Sungai Tamiang merupakan sungai terbesar di Kabupaten Aceh Tamiang. Sungai itu pula yang meluap dan menyebabkan banjir merendam seluruh wilayah Kabupaten Aceh Tamiang pada 26 November 2025.

Pos terkait