Anaknya Jadi Korban Pemukulan, Anggota DPRA Minta Usut Kasus Tewasnya Mahasiswa

Anaknya Jadi Korban Pemukulan, Anggota DPRA Minta Usut Kasus Tewasnya Mahasiswa
Foto: Ilustrasi. (Getty Images/iStockphoto/stefanamer)

INFONANGGROE.COM – Meninggalnya mahasiswa Politeknik Pelayaran (Poltekpel) Malahayati Aceh, Muhammad Rasya Fadilla (18), di RSUD Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh mendapat perhatian dari DPR Aceh. Ketua Komisi VI DPR Aceh Nazaruddin alias Tgk Agam meminta polisi mengusut secara menyeluruh perkara tersebut.

Rasya, mahasiswa program Diploma III (D-III) Studi Nautika asal Kota Lhokseumawe, sebelumnya menjalani perawatan setelah mengalami demam tinggi, nyeri tenggorokan, dan muncul ruam kemerahan di sekujur tubuh. Ia sempat mendapat perawatan di klinik Poltekpel Malahayati sebelum akhirnya dirujuk ke RSUDZA Banda Aceh.

Bacaan Lainnya

Kasus ini juga menjadi sorotan setelah muncul informasi mengenai dugaan pemukulan yang dialami mahasiswa di lingkungan pendidikan tersebut. Tgk Agam mengungkapkan, anaknya sendiri pernah mengalami kejadian serupa sebelum Rasya meninggal.

“Sebelum kejadian yang menimpa Muhammad Rasya Fadilah, anak saya juga pernah dipukul oleh seniornya. Anak saya mengatakan, ‘Ayah, saya dipukul, saya tidak sanggup lagi,’” kata Tgk Agam dalam keterangannya, Senin (28/9/2026), dikutip dari detiksumut.

Menurut Nazaruddin, anaknya mengaku dipukul sekitar 16 kali, termasuk pada bagian rusuk dan sejumlah bagian tubuh lainnya. Ia juga menyebutkan inisial senior yang diduga melakukan pemukulan tersebut.

Persoalan yang dialami anaknya, kata mantan Wali Kota Sabang itu, sebelumnya telah disampaikan kepada pihak Poltekpel Malahayati. Namun, berdasarkan cerita yang diterimanya dari sang anak, dugaan pemukulan kembali terjadi.

“Kami meminta pihak berwajib agar kasus yang menimpa Muhammad Rasya Fadilah dan anak saya diusut tuntas serta diproses sesuai hukum. Anak kami diantar ke sana untuk dididik, bukan untuk dipukul,” ujarnya.

Tgk Agam berharap penyelidikan tidak hanya mengungkap penyebab meninggalnya Rasya, tetapi juga menelusuri rangkaian kejadian yang dialami korban sebelum menjalani perawatan hingga akhirnya meninggal dunia.

Di sisi lain, polisi masih melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab kematian Rasya. Kasatreskrim Polresta Banda Aceh Kompol Miftahuda Dizha Fezuono mengatakan pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan medis.

“Berdasarkan keterangan awal, korban sebelumnya mengalami demam dan nyeri tenggorokan, kemudian menjalani perawatan di klinik Poltekpel Malahayati Aceh sebelum dirujuk ke RSUDZA,” kata Kasatreskrim Polresta Banda Aceh, Kompol Miftahuda Dizha Fezuono dalam keterangannya, Senin (28/9/2026).

Dizha menjelaskan, korban saat itu tengah mengikuti masa ospek di kampus. Polisi masih menunggu hasil visum dan CT scan untuk mengetahui penyebab kematian. Autopsi tidak dilakukan karena pihak keluarga tidak menyetujuinya.

“Korban telah menjalani pemeriksaan luar melalui visum et repertum serta CT scan jenazah. Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk membantu mengetahui kondisi tubuh korban, termasuk memeriksa adanya memar atau ruam kemerahan,” jelasnya.

Tgk Agam menilai penanganan perkara juga perlu memastikan mahasiswa memperoleh perlindungan selama menjalani pendidikan di Poltekpel Malahayati.

Pos terkait