Pernah Merasakan Tsunami, Warga Lhoknga Patungan Bantu Korban Banjir Linge

Pernah Merasakan Tsunami, Warga Lhoknga Patungan Bantu Korban Banjir Linge

Suasana di warung kopi nusa malam itu terasa berbeda. Biasanya, warung yang terletak di Kecamatan Lhoknga itu penuh dengan tawa riuh para warga yang membahas rutinitas mereka. Namun kali ini, hembusan angin laut ditambah rintik hujan yang deras mengiringi pembicaraan ke arah yang lebih serius. Di salah satu sudut ruangan, sebuah proyektor menyala terang, memantulkan gambar-gambar memilukan: rumah yang luluh lantak dan hamparan tanah yang tertimbun lumpur.

Yulfan sebagai koordinator Relawan Aceh Tangguh memulai pembicaraan. Di hadapannya, para Keuchik se-Kecamatan Lhoknga duduk berjajar memegang gelas kopi pancung masing-masing, menyimak presentasi mengenai kondisi terkini Kecamatan Linge pasca dihantam banjir bandang.

Bacaan Lainnya

“Hingga hari ini, kampung-kampung di Kecamatan Linge belum pulih. Jalan terputus, jembatan runtuh, dan sawah yang menjadi urat nadi ekonomi mereka lenyap ditelan banjir,” ujar Yulfan dengan nada rendah namun penuh penekanan. “Para warga di sana hanya bisa tertegun, bingung memikirkan bagaimana esok anak-anak mereka bisa makan.”

Pembicaraan yang terjadi malam itu merupakan inisiatif dari Forum Keuchik Lhoknga. Para keuchik merasa perlu menjadi bagian dalam proses pemulihan di kawasan linge yang terdampak bencana banjir bandang. Niat itu tidak muncul begitu saja. Tarmizi Abdullah, Keuchik Meunasah Masjid Lampuuk, mengungkapkan bagaimana hal yang sama pernah melanda kampung mereka saat tsunami 2004. 

“Saat itu, keluarga, rumah, dan kebun kami digulung arus laut. Kampung ini rata dengan tanah,” kenang Tarmizi. “Kami tahu persis rasa sakit itu. Kami tahu rasanya kehilangan segalanya dalam sekejap. Itulah mengapa kami tidak bisa diam melihat saudara kami di Aceh Tengah.”

Tarmizi Abdullah, Keuchik Meunasah Masjid Lampuuk. Foto: Ajarullah

Sebelum pertemuan di warung kopi nusa itu, Tarmizi telah mendengar terlebih dahulu laporan singkat melalui sambungan telfon dari Yulfan yang juga putra asli lhoknga perihal kondisi penduduk Linge. Tidak menunggu lama, Ia bersama keuchik-keuchik Kemukiman Lhoknga bergegas mengagendakan pertemuan dengan Relawan Aceh Tangguh guna mendengar laporan secara utuh dan membahas rencana pemulihan kecamatan linge.

Kecamatan Lhoknga saat malam pertemuan itu diguyur hujan deras. Tim Relawan Aceh Tangguh telah tiba terlebih dahulu di warung kopi nusa selepas sholat Isya. Para relawan yang hadir pesimis dengan kehadiran keuchik-keuchik Kemukiman Lhoknga karena hujan deras.

Perkiraan relawan salah. lima belas menit setelah relawan tiba, para keuchik dengan sepeda motor tiba di warkop langganan warga lhoknga. Raut muka yang cerah dengan baju yang sedikit basah terlihat saat mereka tiba. Hujan tidak menjadi hambatan utama bagi mereka.

“Keuchik yang hadir ada dari 11 gampong. Pak camat lhoknga juga hadir. Ada beberapa keuchik yang gak bisa hadir karena sedang jenguk warga yang sakit dan ada juga yang punya kegiatan lain. Nanti hasil rapat kami teruskan ke mereka,” kata Tarmizi, Ketua Forum Keuchik Kemukiman Lhoknga.

Secara berangsur-angsur para keuchik memasuki ruangan yang disiapkan relawan. Meja dan kursi disusun menghadap layar tancap. Kopi pancung, sanger, dan kue telah berjajar rapi di atas meja.

Tarmizi membuka pertemuan itu layaknya tradisi di Aceh. Ia menjelaskan maksud diadakan pertemuan ini untuk membantu saudara-saudara kita yang masih belum pulih akibat banjir yang melanda Aceh Tengah. Ia berencana untuk tiap-tiap gampong dapat mengumpulkan 2 sak beras, kalau bisa lebih tentu lebih baik. 

Selanjutnya, ia mempersilahkan Yulfan untuk menjelaskan pengamatan mereka selama di Linge.

“Kami ke linge itu menempuh waktu kurang lebih 18 jam dari Banda Aceh. untuk ke Linge sendiri kami tidak bisa langsung menggunakan mobil. Akses jalan dan jembatan masih banyak yang rusak,” jelas Yulfan. 

Yulfan duduk seraya menarik napas panjang. Ia bercerita perjumpaanya dengan salah satu warga di kampung Reje Payung yang terdampak parah akibat longsor dan banjir bandang. Warga yang ia jumpai itu mencurahkan kondisi sawah ia hilang dan tidak bisa bertani lagi. Di waktu yang terpisah, Yulfan melihat secara langsung sawah-sawah yang biasa ditanami padi, kini rata ditimpa lumpur. Sawah yang tersisa pun hanya 2-3 hektare, 47 hektare lagi telah berubah menjadi aliran sungai.

“Kondisi mereka memilukan, Pemerintah wara wiri tanpa kejelasan. Merka mau direlokasi dengan huntara tapi tanah tidak disediakan. Karena itu kami (relawan) perlu segera ambil tindakan sejauh kami mampu untuk memulihkan mereka.”

Bagi Yulfan, relawan tidak bisa bekerja sendiri. Sumber daya relawan terbatas, sebab itu ia meminta warga lhoknga yang juga penyintas tsunami 2004 ikut andil dalam aksi pemulihan linge.

Yulfan koordinator Relawan Aceh Tangguh. Foto: Ajarullah

Di tengah pertemuan tersebut, Tarmizi sontak menanyakan kesiapan para keuchik kemukiman lhoknga, “Peu awak droen siap, setuju?

“Setujuuuu..” jawab para keuchik secara kompak. 

Nasrun, Keuchik Meunasah Baro Lamlom, menyela dengan logat khas yang mengundang tawa sekaligus semangat, “Bek pike panyang ile, peu nyang jeut ta bantu, ta bantu! (Jangan pikir panjang dulu, apa yang bisa kita bantu, bantu saja semampu kita! Segera umumkan di gampong masing-masing).”

Zayadinur, Camat Lhoknga, menanyakan bagaimana mekanisme pengumpulan bantuan ini. Ia mengusulkan keuchik-keuchik kampung lhoknga mengumpulkan di tiap desa kemudian membawanya ke kantor camat. Setelah itu kita bisa mengantarkan ke posko relawan aceh tangguh. 

“Usul saya, Bantuan yang dikumpulkan di masing-masing gampong bisa dibawa ke kantor camat. Setelah itu, kita antar sama-sama ke posko relawan tanggal 30 atau dijemput sama relawan aceh tangguh, bagaimana enaknya,” Ujar camat lhoknga.

Zayadinur, Camat Lhoknga. Foto: Ajarullah

Setelah mendengar pemaparan Yulfan dan berdiskusi selama dua jam, Tarmizi menyimpulkan bahwa warga kecamatan lhoknga siap membantu. Ia menyampaikan untuk setiap keuchik sudah bisa mulai mengumpukkan bantuan dari warga gampong masing-masing.

“Para keuchik udah bisa umumkan ke warga masing-masing, nanti hari jumat kita bawa ke kator camat habis solat jumat. apakah nanti kita antar atau dijemput relawan bisa kita koordinasikan lagi.” Tutup Keuchik gampong lhoknga itu.

Malam itu, kopi di gelas mereka mungkin sudah dingin, tapi semangat di dalam ruangan justru membara. Sebelum pertemuan resmi ditutup, pemandangan unik terlihat. Para Keuchik sibuk dengan ponsel masing-masing. Mereka bukan sedang bermain media sosial, melainkan sedang mengetik pesan pengumuman untuk dikirimkan ke grup WhatsApp warga gampong.

Dari sebuah warkop sederhana di pesisir Lhoknga, sebuah gerakan kemanusiaan lahir. Karena bagi mereka, membantu korban bencana bukan sekadar kewajiban sosial, melainkan cara memuliakan sejarah mereka sendiri sebagai bangsa yang pernah bangkit dari puing-puing bencana.

Untuk informasi Relawan Aceh Tangguh di https://s.id/acehtangguh dan donasi bantuan, dapat menghubungi: Yulfan: +62 811-6883-917 dan Maulana: +62 821-6167-7331.

Pos terkait