BANDA ACEH, INFONANGGROE.COM – Relawan Aceh Tangguh merilis laporan kegiatan penanganan pasca bencana banjir di Desa Tanjung Gelumpang, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, yang dilaksanakan sepanjang tahun 2025. Laporan tersebut disusun sebagai bentuk dokumentasi sekaligus pertanggungjawaban kepada para donor, mitra kemanusiaan, relawan, dan seluruh pihak yang mendukung upaya pemulihan masyarakat terdampak.
Laporan kegiatan ini memuat gambaran menyeluruh mengenai konteks kebencanaan, tujuan program, bentuk intervensi, hingga capaian dan tantangan selama proses pemulihan. Data lengkap laporan dapat diakses melalui dokumen PDF yang disediakan oleh Relawan Aceh Tangguh melalui tautan s.id/acehtangguh.
Koordinator Relawan Aceh Tangguh, Yulfan, mengatakan bencana banjir yang melanda Desa Tanjung Gelumpang meninggalkan dampak jangka panjang bagi masyarakat. Kerusakan permukiman, terganggunya mata pencaharian, serta melemahnya kondisi sosial ekonomi warga masih dirasakan hingga tahun 2025.
“Penanganan pasca bencana tidak bisa berhenti pada fase darurat. Dibutuhkan upaya lanjutan berupa pemulihan, pendampingan, dan penguatan kapasitas masyarakat agar mereka mampu bangkit serta lebih siap menghadapi risiko bencana di masa depan,” kata Yulfan dalam keterangannya, Jumat (9/1/2026).
Sepanjang tahun 2025, Relawan Aceh Tangguh bersama masyarakat setempat dan para mitra melaksanakan berbagai kegiatan kemanusiaan. Kegiatan tersebut meliputi pendampingan warga terdampak, distribusi bantuan lanjutan, dukungan psikososial, penguatan kesiapsiagaan masyarakat, serta partisipasi dalam rehabilitasi lingkungan dan sosial.
Dalam laporan tersebut disebutkan, total donasi yang berhasil dihimpun dari para dermawan mencapai Rp364.763.082. Dana dan bantuan tersebut disalurkan ke 13 desa dan satu sekolah di sejumlah wilayah terdampak banjir di Aceh.
Wilayah penyaluran bantuan meliputi Kabupaten Aceh Tamiang, yakni Desa Paya Bedi, Tanjung Gelumpang, Lubuk Subuk, Sunting, dan Alur Bamban, serta MTsN 1 Aceh Tamiang. Selain itu, bantuan juga disalurkan ke Aceh Utara di Desa Trieng Pantang dan Tanjung Punti, Pidie Jaya di Desa Beurawang dan Pante Raja, Aceh Timur di Kecamatan Pante Bidari, Gayo Lues di Desa Teripe Jaya, Aceh Barat Daya di Blang Pidie, serta Kabupaten Bireuen di Kecamatan Juli.
Adapun jenis bantuan yang disalurkan mencakup logistik dan sembako, perangkat komunikasi dan kelistrikan, kebutuhan sanitasi, hunian darurat, peralatan pembersihan material banjir, obat-obatan, perlengkapan mesjid hingga perlengkapan sekolah bagi anak-anak terdampak.
Menurut Yulfan, seluruh kegiatan tersebut dilaksanakan dengan menjunjung tinggi prinsip kemanusiaan, netralitas, serta partisipasi masyarakat. Relawan Aceh Tangguh juga menjalin koordinasi dengan pemerintah setempat dan pihak terkait lainnya agar upaya penanganan pasca bencana berjalan selaras dan saling melengkapi.
“Setiap bantuan yang disalurkan merupakan amanah dari para donor. Karena itu, laporan ini kami susun sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas agar setiap kontribusi dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka dan jelas,” ujarnya.
Selain sebagai laporan pertanggungjawaban, dokumen ini diharapkan menjadi media pembelajaran bersama mengenai pentingnya peran relawan dan masyarakat sipil dalam penanganan bencana. Pengalaman di Desa Tanjung Gelumpang menunjukkan bahwa kolaborasi, gotong royong, dan keberpihakan pada nilai-nilai kemanusiaan sangat membantu mempercepat proses pemulihan.
Relawan Aceh Tangguh juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh donor, mitra kemanusiaan, komunitas relawan, serta individu yang telah memberikan dukungan tenaga, pikiran, logistik, dan pendanaan sepanjang tahun 2025.
“Setiap bantuan sangat berarti dan meringankan beban masyarakat terdampak. Perjalanan pemulihan masih panjang, dan kolaborasi serta gotong royong adalah kunci untuk memastikan masyarakat dapat bangkit dan membangun kehidupan yang lebih aman dan bermartabat,” tutur Yulfan.






