Imum Mukim Lampuuk Tegaskan Persatuan dan Perjuangan Tanah Adat Saat Maulid

Imum Mukim Lampuuk Tegaskan Persatuan dan Perjuangan Tanah Adat Saat Maulid
Imum Mukim Lampuuk, Muntaran H. Abdullah

ACEH BESAR, INFONANGGROE – Warga dari lima gampong di Mukim Lampuuk menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Rahmatullah. Acara maulid turut dimeriahkan dengan lantunan Hikayat Sri Musim oleh Pemuda Mukim Lampuuk, serta tabligh akbar di halaman masjid pada malam harinya, Kamis (25/9/2025).

Imum Mukim Lampuuk, Muntaran H. Abdullah, menegaskan bahwa seorang pemimpin harus menjadi panutan sekaligus pemersatu dalam kehidupan masyarakat. Ia mengingatkan agar warga tidak hidup berkelompok-kelompok. Menurutnya, peringatan maulid, kegiatan khauri, serta semangat gotong royong merupakan wujud kepedulian dan persatuan masyarakat Mukim Lampuuk dalam menjaga tradisi adat.

Bacaan Lainnya

“Pemersatu antara si miskin dan si kaya, antara si gam pae dan si gam carong, tidak ada perbedaan. Kita semua mampu dan bisa, baik secara ekonomi maupun tingkat kecerdasan,” jelasnya saat memberi sambutan.

Terkait status Gunung Lampuuk yang saat ini diklaim sebagai hutan Lindung Banda, ia menegaskan, “Mari kita berikhtiar dengan tegas untuk menuntaskan hingga menjadi hak milik kita kembali.”

“Di atas podium ini, ini adalah terakhir kalinya saya memberikan kata sambutan dalam peringatan Maulid, mengingat masa tugas saya sebagai Mukim sudah hampir selesai,” tegasnya dengan semangat berapi-api.

Ia menambahkan, tonggak kepemimpinan akan diteruskan oleh generasi selanjutnya, begitu pula semangat jiwa Sri Musim dalam mempertahankan keunebah indatu akan diwariskan. “Perjuangan merebut kembali tanah adat masyarakat Mukim Lampuuk tidak akan pernah berhenti sampai hak kita dikembalikan,” tegasnya.

Menutup sambutannya, Muntaran H. Abdullah menekankan, sering kali konflik agraria merugikan masyarakat adat sebagai pemilik asli tanah. Rakyat terjebak dalam tumpang tindih aturan, keadilan sosial dipertanyakan, dan dengan janji-janji investasi serta kemajuan teknologi, rakyat dipaksa diam.

“Bersuara dianggap menentang kemajuan! Sering kali kita lupa memanusiakan manusia. Tidak ada peradaban tanpa kemanusiaan dan keadilan, kemanusiaan yang adil dan beradab, seperti bait kedua Pancasila.”

Pos terkait