*) Oleh: Jufriadi
Sebelum perjanjian damai ditandatangani, sebelum Aceh mendapat sepeser pun dari hasil gas alam Arun, kami sudah membeli senjata. Kami sudah mengangkat senjata. Dan kami sudah siap mati.
Ini bukan cerita tentang kekayaan alam. Ini cerita tentang harga diri.
Orang-orang di luar sering bertanya: “Kenapa Aceh dulu berperang? Karena gas? Karena minyak?” Pertanyaan semacam itu menunjukkan betapa sempitnya cara mereka memahami luka sejarah kami. Seolah-olah rakyat Aceh bisa dibungkam hanya dengan angka transfer dari pusat. Seolah-olah perlawanan kami lahir dari lapar uang, bukan dari lapar keadilan.
Padahal sejarah mencatat: Gerakan Aceh Merdeka berdiri dan bertahan tanpa sepeser pun dana dari hasil bumi.
Bukan Soal Uang, Ini Soal Martabat
Senjata yang kami pegang dulu bukan dibeli dari hasil migas. Itu datang dari solidaritas diaspora Aceh di luar negeri. Dari uang rakyat yang membayar “pajak perjuangan”, bukan karena takut, tapi karena percaya. Dan dari keyakinan yang ditanamkan sejak kecil: bahwa tanah ini punya hak untuk mengatur dirinya sendiri.
Kami tak butuh sumber daya untuk melawan. Yang kami butuhkan hanyalah alasan. Dan negara telah memberikannya: lewat penindasan, pengkhianatan, dan pengabaian.
Narasi Jakarta: Menyederhanakan Luka
Selama ini, Jakarta nyaman membingkai konflik Aceh sebagai “pemberontakan karena ekonomi”. Narasi ini dibuat agar publik lupa bahwa yang dijarah bukan hanya sumber daya, tapi juga hak hidup, hak berpendapat, dan hak menentukan nasib sendiri. Selama berpuluh tahun, kami dijadikan “daerah operasi militer”, hidup di bawah todongan senapan, bukan di bawah naungan konstitusi.
Maka ketika damai akhirnya datang lewat meja perundingan di Helsinki, yang kami tuntut bukan hanya bagian dari hasil alam. Kami menuntut pengakuan: bahwa Aceh berbeda, bahwa Aceh berhak menentukan jalan hidupnya sendiri.
Damai yang Kami Bayar Sendiri
Jangan pernah salah sangka. Damai bukan hadiah dari Jakarta. Damai adalah hasil dari darah dan air mata rakyat Aceh. Kami bayar mahal untuk sampai di sini dan kami tahu nilainya.
Jadi kalau hari ini ada yang mencoba menafsirkan sejarah Aceh hanya lewat angka APBA atau persentase dana otsus, izinkan kami mengoreksi: kami sudah punya senjata bahkan sebelum hasil bumi itu kami cicipi.
Damai hadir bukan karena kami kaya.
Damai hadir karena kami dipaksa memilih jalan lain, jalan politik, bukan peluru.
*) PENULIS adalah Kader Partai Nanggroe Aceh






