ACEH BESAR, INFONANGGROE – Di bawah langit senja yang kian meredup, Ketua DPRK Aceh Besar, Abdul Muchti, menginjakkan kaki di Pulo Nasi pada Sabtu, 23 Maret 2025, untuk berbuka puasa bersama masyarakat setempat. Suasana hangat Ramadhan begitu terasa dalam pertemuan ini, di mana keuchik, tokoh masyarakat, serta para pemuda Pulo Nasi berkumpul, berbagi harapan dan kisah tentang kehidupan di pulau mereka.
Selain berbuka puasa, Abdul Muchti mengadakan pertemuan informal dengan berbagai pihak guna mendengar langsung denyut kehidupan masyarakat selama Ramadhan serta kesiapan mereka menghadapi Idul Fitri.
Dalam pertemuan tersebut, ia menyoroti pentingnya infrastruktur transportasi yang memadai bagi masyarakat kepulauan, terutama dalam menghadapi arus mudik dan distribusi logistik. Ia meminta penyedia layanan kapal penyeberangan untuk meningkatkan standar operasional, memastikan jadwal keberangkatan yang konsisten, serta meningkatkan kapasitas angkut guna mengakomodasi lonjakan penumpang saat musim mudik.
Selain itu, koordinasi antara pihak terkait perlu diperkuat agar pasokan kebutuhan pokok tetap lancar dan terjangkau. “Kapal penyeberangan harus beroperasi dengan efisien dan tepat waktu agar mobilitas masyarakat tidak terganggu serta distribusi logistik tetap berjalan tanpa hambatan,” ujarnya.
Saat ini, Kapal Motor Penumpang (KMP) Papuyu saat ini melayani rute penyeberangan dari Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, ke Pulau Aceh, Kabupaten Aceh Besar. Selain KMP Papuyu, boat milik warga juga beroperasi untuk mengangkut penumpang dan barang.
“Jalur ini menjadi sarana transportasi utama bagi masyarakat kepulauan. Peningkatan kualitas layanan dan keandalan operasional kapal dinilai krusial guna menunjang mobilitas warga serta distribusi kebutuhan pokok. Boat milik warga turut berperan dalam memastikan kelancaran logistik dan perekonomian di kawasan tersebut,” katanya.
Disisi lain, Abdul Muchti juga mengajak masyarakat untuk menjadikan Ramadhan sebagai waktu mempererat silaturahmi serta meningkatkan kepedulian sosial. “Kebersamaan adalah kekuatan kita. Jangan biarkan ada yang merasa sendiri dalam kesulitan,” pesannya.
Lebih dari itu, ia menegaskan komitmennya dalam mengawal pembangunan di Kecamatan Pulo Aceh. Sebagai pulau terluar, Pulo Aceh tidak boleh terus tertinggal.

“Pembangunan di Pulo Aceh harus berjalan selaras dengan kebutuhan masyarakat, dengan sinergi antara DPRK dan Pemerintah Kabupaten Aceh Besar. Upaya bersama ini diharapkan mampu menghadirkan perubahan yang nyata, memastikan kesejahteraan masyarakat, serta mendorong kemajuan agar pulau ini berkembang sejajar dengan daerah lain,” katanya.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, DPRK bersama Pemerintah Kabupaten Aceh Besar terus mendorong percepatan pembangunan infrastruktur dasar, seperti akses jalan, fasilitas kesehatan, dan pendidikan. Perhatian juga diberikan pada sektor ekonomi masyarakat, termasuk pengembangan usaha perikanan dan pariwisata berbasis lokal, guna meningkatkan kesejahteraan dan membuka peluang kerja bagi masyarakat Pulo Aceh.
Selain itu, Abdul Muchti juga menyoroti perlunya peningkatan fasilitas publik di Pulo Aceh, seperti penyediaan layanan air bersih yang memadai, peningkatan jaringan listrik yang stabil, serta penguatan pelayanan kesehatan dan pendidikan. Ia menekankan bahwa pembangunan tidak hanya sebatas infrastruktur fisik, tetapi juga peningkatan kualitas layanan yang benar-benar dapat dirasakan oleh masyarakat. “Fasilitas publik yang memadai adalah hak dasar masyarakat. Kami akan terus mengawal agar kebutuhan ini bisa terpenuhi dengan baik,” tegasnya.
Sementara itu, Safwan, seorang tokoh pemuda Pulo Aceh, berharap Abdul Muchti dapat menindaklanjuti aspirasi masyarakat. “Bagi kami, Abdul Muchti bukan lagi sekadar tamu yang datang sesekali, tetapi sudah menjadi bagian dari masyarakat. Kami ingin beliau lebih sering datang, melihat langsung kondisi kami, dan mencari solusi nyata,” ujarnya.
Masyarakat Pulo Nasi berharap kunjungan ini tidak hanya menjadi rutinitas seremonial, tetapi juga membawa dampak nyata yang dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari mereka di kepulauan.






