*) Oleh : Yulfan | Direktur Lawfirm Yulfan & Rekan
Selamat kepada Bupati dan Wakil Bupati Aceh Besar Terpilih, H. Muharram Idris (Syech Muharram) dan H. Drs. Syukri A. Jalil. Kemenangan mereka dalam Pilkada 2024 bukan hanya sekadar pencapaian politik, tetapi juga sebuah peristiwa bersejarah bagi Aceh Besar, yang kali pertama terpilihnya pemimpin melalui jalur independen. Kemenangan ini bukan hanya memberikan dampak dalam indikator demokrasi, tetapi juga membuka peluang bagi kebijakan yang lebih objektif, berpihak pada kepentingan masyarakat, dan bukan semata untuk kepentingan politik tertentu.
Aceh Besar, dengan segala keindahan alam dan sejarahnya, kini menghadapi tantangan besar di hadapan pembangunan lima tahun ke depan. Dengan luas wilayah 2.903,49 km² yang terdiri dari daratan dan kepulauan, serta 23 kecamatan dan 604 desa, Aceh Besar memiliki potensi yang sangat besar, tetapi juga dihadapkan pada realitas sosial, ekonomi, dan politik yang kompleks. Letak geografisnya yang strategis, berbatasan langsung dengan Selat Malaka, Samudera Hindia, serta Kabupaten Aceh Jaya, Pidie, dan Banda Aceh, membuat Aceh Besar menjadi daerah yang sangat penting. Namun, geografi ini juga membawa tantangan tersendiri, dengan daerah-daerah terpencil yang terkadang terisolasi dari pusat perkembangan. Beberapa daerah terisolasi, terutama di pedalaman, kekurangan akses pendidikan, layanan kesehatan, dan infrastruktur dasar, yang menghambat upaya keluar dari kemiskinan. Kekurangan sektor ini dapat mengancam keberlanjutan ekonomi jika tidak dikelola dengan bijaksana, pengelolaan yang tidak ramah lingkungan dapat merusak ekosistem alam. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan dan melibatkan masyarakat lokal dalam pengambilan keputusan.
Pembangunan yang Tertunda
Beberapa wilayah di Aceh Besar, terutama yang berada di pedalaman, masih kesulitan mendapatkan akses terhadap jalan yang layak, listrik, air bersih, dan fasilitas kesehatan yang memadai. Keterbatasan infrastruktur ini mempengaruhi kualitas hidup masyarakat dan memperlambat pertumbuhan ekonomi di daerah-daerah tersebut. Dalam lima tahun ke depan, Aceh Besar perlu fokus untuk meratakan pembangunan infrastruktur. Pemerintah perlu memastikan bahwa tidak ada daerah yang terisolasi dan tertinggal. Infrastruktur yang baik bukan hanya tentang pembangunan fisik, tetapi juga menciptakan konektivitas yang lebih baik antar daerah, yang pada gilirannya dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Menghadapi Ancaman Tak Terduga
Meski sistem mitigasi bencana telah semakin maju pasca-tsunami 2004, tantangan untuk mengelola bencana alam dengan lebih efektif tetap ada. Perubahan iklim yang semakin nyata juga menjadi ancaman besar bagi sektor pertanian dan kelautan, dua sektor utama yang menopang ekonomi daerah ini. Perubahan pola cuaca yang ekstrem, seperti hujan deras dan kekeringan panjang, dapat mengguncang ketahanan pangan dan merusak ekosistem sosial. Oleh karena itu, Aceh Besar perlu memperkuat sistem mitigasi bencana, serta membangun ketahanan masyarakat terhadap perubahan iklim. Pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan, seperti praktik pertanian ramah lingkungan dan konservasi pesisir, menjadi langkah penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan memastikan ketahanan pangan masyarakat. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta juga diperlukan untuk membangun kapasitas lokal dalam menghadapi bencana dan perubahan iklim.
Potensi yang Belum Tersentuh
Pariwisata Aceh Besar memiliki potensi yang luar biasa, baik dari segi keindahan alam, situs sejarah, hingga budaya yang kaya. Namun, potensi ini belum sepenuhnya dimanfaatkan. Tantangan utama yang dihadapi adalah kurangnya promosi, infrastruktur pariwisata yang terbatas, dan minimnya keterlibatan masyarakat lokal dalam pengembangan sektor ini. Untuk menjadikan pariwisata sebagai pendorong utama ekonomi, diperlukan kolaborasi yang erat antara pemerintah daerah, sektor swasta, dan masyarakat setempat. Pemberdayaan masyarakat lokal menjadi aspek penting dalam memaksimalkan potensi pariwisata. Masyarakat harus dilibatkan dalam setiap tahapan perencanaan dan pengelolaan destinasi wisata. Dengan pendekatan yang berbasis pada kearifan lokal dan keadilan sosial, pariwisata dapat menjadi salah satu sektor unggulan yang mendorong pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.
Pertanian, Kemandirian Pangan, dan Kedaulatan Air
Banyak petani di daerah terpencil yang masih menggunakan metode tradisional, yang membuat sektor ini rentan terhadap perubahan iklim. Cuaca ekstrem, seperti kekeringan dan banjir semakin memperburuk kondisi ini. Oleh karena itu, penting untuk memperkenalkan teknologi pertanian yang ramah lingkungan, seperti penggunaan pupuk organik dan sistem irigasi efisien, untuk meningkatkan produktivitas dan mengurangi dampak perubahan iklim.
Selain itu, keterbatasan akses air untuk irigasi di beberapa daerah menjadi masalah signifikan yang menghambat pertanian, terutama pada musim kemarau panjang. Pemerintah perlu fokus pada pembangunan infrastruktur irigasi yang lebih baik dan pengelolaan air yang lebih efisien agar ketersediaan air tetap terjaga sepanjang tahun. Peningkatan produksi pertanian yang berkelanjutan akan memperkuat ketahanan pangan lokal dan mengurangi ketergantungan pada impor pangan. Dengan mengoptimalkan potensi pertanian, meningkatkan teknologi, serta mengelola air dan sumber daya alam secara bijaksana, Aceh Besar dapat mencapai kemandirian pangan dan berkontribusi pada kedaulatan pangan serta kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Menyongsong Generasi Emas 2045
Salah satu tujuan besar Kabupaten Aceh Besar dalam lima tahun ke depan adalah mewujudkan Visi Generasi Emas Indonesia 2045 bertujuan mengembangkan sumber daya manusia (SDM) unggul untuk menyambut seratus tahun kemerdekaan Indonesia. Untuk mewujudkannya, kualitas pendidikan di Aceh Besar perlu ditingkatkan dengan memperbaiki kualitas guru, kurikulum yang relevan dengan pasar kerja, serta pelatihan keterampilan abad ke-21, seperti kreativitas, pemecahan masalah, dan literasi digital. Partisipasi aktif masyarakat dalam pembangunan juga harus diperkuat agar program lebih inklusif dan sesuai kebutuhan. Tantangan Kabupaten Aceh Besar dalam lima tahun ke depan besar, namun dapat diatasi dengan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta. Pendekatan pembangunan yang berfokus pada keadilan sosial, keberlanjutan, pemulihan pasca-konflik, peningkatan infrastruktur, pengelolaan sumber daya alam, pemberdayaan masyarakat, dan pendidikan berkualitas akan menjadi fondasi menuju Generasi Emas Indonesia 2045. Dengan potensi dan tantangannya, Aceh Besar memiliki peluang besar berkontribusi pada pembangunan Indonesia yang inklusif dan berkeadilan.
Bermarwah dan Bermartabat
Peningkatan infrastruktur, pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan, peningkatan kualitas pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat, untuk menciptakan pembangunan inklusif dan berkelanjutan. Pasca berakhirnya Otsus 2027, strategi peningkatan PAD Aceh Besar harus fokus pada diversifikasi pendapatan, optimalisasi ekonomi lokal, serta penguatan UMKM dan ekonomi digital, untuk mencapai kemandirian ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Lembaga pemerintahan dalam menjalankan visi Aceh Besar memerlukan sinergi antar lembaga, penggunaan teknologi informasi, dan keterlibatan masyarakat dalam perencanaan dan pelaksanaan, serta kepemimpinan yang kuat untuk mewujudkan Aceh Besar yang “Bermarwah dan Bermartabat.”






