ACEH BESAR, INFONANGGROE.com – Muhammad Reza Rachmadhani Ketua Panitia pelaksana kegiatan Festival Virtual Budaya Pulau Aceh dengan tema “ketahanan budaya pesisir” menjelaskan kronologis batalnya Ketua DPRK Aceh Besar hadir dalam Zoom Meeting serta respon Sekda Aceh Besar dalam kegiatan yang kami laksanakan mulai tanggal 6-8 Oktober 2021 di mercusuar William’s torrens, Pulo Breuh.
Hal tersebut bermula, Setelah Ia memperhatikan dan mempertimbangkan perbincangan di media sosial (Facebook) sehari lalu.
Reza menjelaskan, mereka sudah melakukan persiapan selama 3 bulan untuk set-up jaringan internet dan turut melibatkan kawan-kawan dari RTIK (relawan teknologi informasi dan komunikasi) Aceh, mengingat lokasi William’s Torrent tidak memiliki akses Internet (Blank Spot), segala perangkat IT dan sumber daya digunakan untuk memastikan kegiatan Zoom Meeting berjalan lancar.
“hajat kami, Pulo Aceh tersambung dengan Jakarta,”tuturnya.
Ketika ditanya sampai dengan status ini apakah sudah ada penjelasan atau klarifikasi dari Sekda Aceh Besar dan Ketua DPRK?
“ya, sampai saat ini belum ada penjelasan dari Ketua DPRK Aceh Besar maupun Sekda Aceh Besar kepada saya maupun unsur panitia pelaksana,”jawabnya.
Berikut kronologis yang dikutip media infonanggroe.com di status facebook Reza Muhammad Reza Rachmadhani.
Sangat perlu dan teramat penting untuk saya sampaikan kepada semua pihak, sebagai pelaksana teknis, penjelasan ini akan saya sampaikan secara detil, profesional dan proporsional,” tulisan Reza di status akun facebook pribadinya.
Lanjutnya, Pertama, zoom meeting tersebut dihadiri oleh direktur pengembangan kebudayaan dan analis kebudayaan dari kementerian pendidikan kebudayaan riset dan teknologi.
Kedua, zoom tersebut sebagai sebuah ruang dialog anak dengan pemangku kepentingan baik pusat maupun lokal. Artinya, kami menggunakan subjektifitas anak untuk menyampaikan kesusahan dan kekhawatiran mereka dalam melihat Pulo Aceh sebagai daerah yang terisolir mulai dari akses (informasi dan teknologi) serta kemegahan sarana dan prasarana.
Sederhana, kami menarik para pemangku kepentingan di Kabupaten Aceh Besar untuk masuk dalam perspektif anak dalam memaknai Pulau Aceh.
Ketiga, atas ketidakhadiran Ketua DPRK barang tentu sangat mempengaruhi semangat siempunya hajat dan aspirasi dalam hal ini anak-anak. Padahal, sehari sebelumnya mereka telah menyelesaikan sebuah lukisan hasil karya mereka untuk di perlihatkan kepada Ketua DPRK Aceh Besar yang sangat mereka sayangi. Apalah dikata nasi sudah jadi bubur.
Keempat, Bapak Sekda Aceh Besar yang konon putra asli Pulo Aceh hadir dalam zoom meeting tersebut menjelang zoom berakhir 10 menit kemudian. Namun, dalam keadaan wajah yang berkeringat serta suara riuh dengan sorak-sorai bunyi peluit yang menggema-gema. Beberapa waktu kemudian tersebar foto Ketua DPRK sedang mengacungkan sebuah piala berwarna emas di salah satu lapangan Futsal dengan beberapa orang termasuk Bapak Sekda Aceh Besar dangan gaya yang sangat sporti.
Terakhir, atas status bernada kecewa yang di perlihatkan salah satu pemuda Pulo Aceh di akun Facebooknya yang ditanggapi dengan bermacam variasi komentar, saya menyimpulkan bahwa sipemuda menyentil dengan sempurna profesionalitas dan Proporsionalitas kedua Bapak Bapak tersebut sebagai unsur pemimpin dan pihak yang bertanggung jawab terhadap keberlangsungan hak-hak anak Pulo Aceh.
Sebagai renungan, secara teknis kami melakukan persiapan selama 3 bulan untuk set-up jaringan internet dan turut melibatkan kawan-kawan dari RTIK (relawan teknologi informasi dan komunikasi) Aceh, mengingat lokasi William’s Torrent tidak memiliki akses Internet (Blank Spot), segala perangkat IT dan sumber daya digunakan untuk memastikan kegiatan Zoom Meeting berjalan lancar. hajat kami, Pulo Aceh tersambung dengan Jakarta.
Reza juga membagikan hasil rekaman zoom untuk menguji apa yang telah ia sampaikan, di link ini.






