5 Aktivis Greenpeace Dibebaskan Usai Bentangkan Spanduk di Bundaran HI, 6 Masih Diperiksa

5 Aktivis Greenpeace Dibebaskan Usai Bentangkan Spanduk di Bundaran HI, 6 Masih Diperiksa
Aktivis Greenpeace Indonesia membentangkan spanduk protes di atas Patung Selamat Datang, Bundaran Hotel Indonesia (HI), Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (20/10/2026) pagi.(Dokumentasi: Greenpeace Indonesia)

INFONANGGROE.COM – Lima dari 11 aktivis Greenpeace yang ditangkap Polda Metro Jaya setelah membentangkan spanduk protes di Monumen Patung Selamat Datang, Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, Selasa (20/10/2026), telah dibebaskan.

Tim pendamping aktivis Greenpeace dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, Alif Fauzi, mengatakan lima orang yang diperbolehkan pulang terdiri dari tim penyelamat (rescue) dan awak pers.

Bacaan Lainnya

“Ada lima orang yang merupakan tim rescue dan pers sudah diperbolehkan pulang,” ujar Alif saat dikonfirmasi, Selasa, dikutip dari kompas.

Sementara itu, enam aktivis lainnya masih berada di Mapolda Metro Jaya untuk menunggu tindak lanjut proses hukum bersama pihak terkait.

“Enam (orang) masih menunggu tindak lanjut dari Korwas Penyidik Reskrimsus dengan PPNS (Penyidik Pegawai Negeri Sipil),” lanjut Alif.

Sebelumnya, enam aktivis Greenpeace yang terdiri dari dua perempuan dan empat laki-laki membentangkan spanduk di atas monumen sekitar pukul 06.05 hingga 06.15 WIB. Polisi kemudian mengevakuasi mereka dan membawa seluruh aktivis untuk menjalani pemeriksaan.

Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol Reynold E.P. Hutagalung mengatakan, polisi akan memeriksa rekaman CCTV dan meminta keterangan petugas yang berjaga untuk mengetahui bagaimana para aktivis bisa memanjat monumen tersebut.

“Kita akan cek CCTV dan anggota yang jaga,” kata Reynold di Jakarta, Selasa.

Menurutnya, air mancur di sekitar Bundaran HI menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan karena dapat menghalangi pandangan petugas ke arah monumen.

Setelah dievakuasi, para aktivis dibawa ke Biddokkes Polda Metro Jaya untuk menjalani pemeriksaan. Salah satu aktivis perempuan dilaporkan lemas setelah turun dari monumen sehingga petugas medis memberikan oksigen di dalam ambulans sebelum membawanya ke klinik Biddokkes.

“Yang pertama tadi turun adalah seorang wanita dengan keadaan yang cukup memprihatinkan, sehingga kami sediakan dari Unit Dokkes Polda Metro Jaya. Secara kasat mata dan tadi penyampaian dari Dokkes memang lemas, sehingga tadi langsung dimasukkan ke ambulans dan dibawa ke klinik Biddokkes,” kata Reynold.

Dalam aksi tersebut, Greenpeace membentangkan dua spanduk yang berisi kritik terhadap penanganan krisis iklim dan kenaikan biaya hidup. Spanduk pertama bertuliskan, “Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah, Apa Kerja Pemerintah?”

Sementara spanduk kedua memuat tulisan, “Tangani Krisis Iklim, Turunkan Biaya Hidup”.

Juru Kampanye Keadilan Iklim Greenpeace Indonesia, Jeanny Sirait, mengatakan aksi itu dilakukan untuk menyoroti krisis iklim, kebakaran hutan, serta meningkatnya biaya hidup masyarakat. Aksi tersebut juga bertepatan dengan dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Jeanny mendesak pemerintah agar lebih serius menangani krisis iklim yang dinilai berdampak pada kehidupan masyarakat, terutama kelompok pekerja yang rentan secara ekonomi.

“Dampaknya paling berat dirasakan oleh kelompok pekerja yang hidup dalam kerentanan ekonomi,” kata Jeanny dalam siaran pers, Selasa.

Ia juga menyoroti kebakaran hutan yang menyebabkan kabut asap berkepanjangan di sejumlah wilayah Kalimantan.

“Kabut asap berkepanjangan adalah salah satu contoh nyata bagaimana krisis ekologis membebani kehidupan masyarakat, mulai dari gangguan kesehatan hingga aktivitas ekonomi sehari-hari,” sambungnya.

Pos terkait