INFONANGGROE.COM – Video yang memperlihatkan ikan asin diduga disemprot menggunakan Baygon menghebohkan media sosial. Aksi seorang pria yang menyemprotkan produk pembasmi serangga ke ikan asin yang sedang dijemur itu memunculkan kekhawatiran mengenai keamanan pangan.
Dalam video tersebut, pria itu terlihat menyemprotkan cairan dari botol Baygon ke ikan asin yang berada di atas papan. Setelah itu, ia membuang botol tersebut ke tempat sampah di sebelahnya. Hingga kini, belum ada informasi lebih lanjut mengenai identitas produsen maupun lokasi pembuatan ikan asin dalam video tersebut.
Dugaan bahwa penyemprotan dilakukan untuk mengawetkan ikan asin pun bermunculan. Padahal, penggunaan insektisida pada bahan pangan tidak dibenarkan dari sisi keamanan pangan.
Ahli teknologi pangan dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Robi Andoyo, STP, M.Sc, PhD, menjelaskan bahwa penyemprotan insektisida dapat meninggalkan residu kimia pada permukaan ikan. Residu tersebut berpotensi masuk ke saluran pencernaan apabila ikan dikonsumsi.
Ikan asin yang terpapar racun serangga sebaiknya tidak dimakan. Bahkan, proses mencuci, menggoreng, maupun merebus tidak dapat menjamin seluruh residu insektisida hilang sehingga ikan kembali aman dikonsumsi.
Lantas, bagaimana cara membuat ikan asin secara alami tanpa menggunakan racun serangga?
Tahapan pembuatan ikan asin secara alami
Pembuatan ikan asin pada dasarnya mengandalkan proses penggaraman dan pengeringan untuk membantu mengawetkan ikan. Berikut tahapan yang dapat dilakukan.
1. Menyiapkan ikan segar
Jenis ikan yang digunakan bisa berupa ikan berukuran kecil maupun ikan besar, seperti tenggiri, tongkol, dan kakap. Untuk ikan berukuran besar, sisik, insang, dan isi perut perlu dibersihkan terlebih dahulu.
2. Menyiapkan larutan garam
Larutan garam dibuat dengan konsentrasi sekitar 30–50%. Sebagai gambaran, larutan yang lebih lemah menggunakan sekitar 120 gram garam per liter air, sedangkan larutan yang lebih kuat menggunakan sekitar 270 gram garam per liter air.
3. Merendam ikan
Ikan dimasukkan ke dalam larutan garam hingga seluruh bagiannya terendam. Pemberat dapat digunakan agar ikan tidak mengapung.
Waktu perendaman berkisar 1–2 hari, bergantung pada ukuran ikan, konsentrasi garam, dan tingkat keasinan yang diinginkan. Mengutip situs Fish Files, suhu selama perendaman sebaiknya dijaga tetap sejuk atau maksimal 20 derajat Celsius. Jika cuaca panas, ikan dapat direndam di dalam kulkas.
4. Mencuci dan menjemur ikan
Setelah proses penggaraman selesai, ikan dicuci menggunakan air bersih, kemudian dijemur hingga kering.
Mengutip situs Downhome, ikan yang sedang dijemur sebaiknya dimasukkan ke ruangan pada malam hari dan ketika cuaca lembap. Kondisi lembap dapat menghambat pengeringan, sedangkan pengawetan yang tidak tepat berisiko membuat kualitas ikan menurun hingga membusuk.
Penggaraman ikan asin khas Pangandaran
Proses pengolahan ikan asin secara tradisional juga pernah diungkap oleh Kukun, seorang penjual ikan asin jambal roti khas Pangandaran. Ia menjelaskan bahwa produk tersebut biasanya dibuat menggunakan ikan segar jenis kadukang.
Dalam prosesnya, penggaraman dapat dilakukan melalui tiga metode, yakni penggaraman kering dengan menaburkan kristal garam atau garam kasar, penggaraman basah dengan merendam ikan dalam larutan garam, serta penggaraman kombinasi.
Selain garam, bawang putih yang telah ditumbuk juga dapat ditambahkan sebagai bahan pengawet alami.
Ikan kemudian direndam selama 2–3 hari sebelum memasuki tahap pengeringan. Proses ini bertujuan mengurangi kadar air sehingga membantu menghambat pertumbuhan mikroba dan aktivitas enzim yang menyebabkan pembusukan.
Kukun menjelaskan bahwa pengeringan dapat dilakukan menggunakan tenaga surya maupun alat pengering mekanis. Namun, sebagian besar proses pembuatan ikan asin di Pangandaran masih memanfaatkan panas matahari secara alami.
Mengenai proses tersebut, Kukun menerangkan, “Ada yang mengunakan pengeringan tenaga surya dan alat pengering mekanis. Namun di Pangandaran mayoritas secaera alami pakai sinar matahari,” ucapnya.
Durasi penjemuran bergantung pada kondisi cuaca. Ketika matahari bersinar terik sepanjang hari, proses pengeringan bisa selesai dalam sehari. Namun, jika kondisi kurang mendukung, penjemuran dapat berlangsung hingga 2–3 hari.
Kukun juga menjelaskan tujuan pengeringan dalam proses pengolahan ikan asin. Ia mengatakan, “Proses ini bisa menghentikan pertumbuhan mikroba dan enzim yang sebabkan kebusukan,” katanya.
Video ikan asin yang diduga disemprot Baygon tersebut menjadi pengingat pentingnya memperhatikan keamanan pangan. Penggunaan bahan kimia pembasmi serangga pada makanan bukanlah metode pengawetan yang aman, sementara penggaraman dan pengeringan merupakan bagian dari proses pengolahan ikan asin secara tradisional.





