Kepala SPPG Dicopot Usai 395 Orang Diduga Keracunan MBG di Cirebon, Telur Puyuh Jadi Sorotan

Kepala SPPG Dicopot Usai 395 Orang Diduga Keracunan MBG di Cirebon, Telur Puyuh Jadi Sorotan
Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Cirebon, Yulian Septa Pratama (tengah). (Foto: Ony Syahroni/detikJabar )

INFONANGGROE.COM – Dugaan keracunan massal setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Cirebon berbuntut pencopotan Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kelurahan Kalijaga, Kecamatan Harjamukti. Keputusan tersebut diambil setelah ditemukan persoalan dalam pengelolaan dapur, termasuk pengadaan bahan makanan yang kini menjadi perhatian tim pemeriksa.

Meski telah dicopot dari jabatannya, kepala SPPG tersebut masih menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Hasil pemeriksaan akan menjadi dasar untuk menentukan sanksi lanjutan, termasuk kemungkinan penutupan dapur secara permanen.

Bacaan Lainnya

Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Cirebon, Yulian Septa Pratama, menjelaskan bahwa pencopotan merupakan sanksi awal yang telah diberikan kepada yang bersangkutan. Ia menyampaikan hal itu di Cirebon, Jumat (23/10/2026).

“Untuk saat ini, yang bersangkutan sudah dicopot dari (jabatan) Kepala SPPG. Cuma tetap akan ada tindak lanjut berdasarkan hasil pemeriksaan nanti,” kata Yulian di Cirebon, Jumat (23/10/2026), dikutip dari detikjabar.

Salah satu temuan yang menjadi perhatian adalah pengadaan telur puyuh untuk menu MBG. Berdasarkan pemeriksaan awal, kepala SPPG mengaku membeli bahan makanan tersebut dari pihak luar, sedangkan petunjuk teknis program mengatur agar bahan makanan diproses dan diolah di dapur SPPG.

Menanggapi temuan tersebut, Yulian menegaskan bahwa persoalan pengadaan telur puyuh telah masuk dalam catatan pemeriksaan.

“Iya, itu sudah jadi satu poin temuan. Kepala SPPG mengaku membeli telur puyuh dari pihak di luar SPPG, yang seharusnya seluruh bahan makanan itu sesuai juknis diproses dan diolah di dapur,” ujarnya.

Pemeriksaan belum berhenti pada persoalan pengadaan bahan makanan. Tim juga telah melakukan investigasi terhadap kondisi fisik dapur, manajemen, serta pengelolaan SPPG tersebut.

Untuk sementara, operasional dapur dihentikan hingga batas waktu yang belum ditentukan. Yulian mengatakan, pihaknya masih menunggu hasil investigasi dari Kedeputian Pemantauan dan Pengawasan sebelum mengambil keputusan berikutnya.

“Untuk saat ini, SPPG sudah berhenti beroperasional sampai batas waktu yang belum kami tentukan, menunggu hasil investigasi dari Kedeputian Pemantauan dan Pengawasan,” jelasnya.

Yulian menyebut penutupan permanen sebagai salah satu sanksi terberat yang dapat dijatuhkan apabila hasil pemeriksaan menunjukkan adanya pelanggaran. Namun, keputusan tersebut belum ditetapkan karena hasil laboratorium dan investigasi masih ditunggu.

“Bisa sampai tutup permanen sebenarnya. Tapi itu masih menunggu hasil lab dan hasil investigasi kemarin,” ungkapnya.

Penyebab Keracunan Belum Dipastikan

Di tengah pemeriksaan terhadap dapur MBG, penyebab pasti dugaan keracunan yang menimpa ratusan penerima manfaat di Kota Cirebon masih belum diketahui.

Meski sup telur puyuh menjadi salah satu menu yang banyak dikeluhkan, Yulian mengatakan pemeriksaan juga dilakukan terhadap sampel makanan lainnya, termasuk nasi dan menu lain. Sampel air turut diambil untuk menelusuri kemungkinan adanya faktor lain.

Ia menegaskan bahwa dugaan terhadap menu tertentu belum dapat dipastikan sebelum hasil laboratorium keluar.

“Memang masih dugaan, meskipun mungkin itu yang paling kuat, tapi kami masih menunggu hasil lab,” katanya.

Sementara itu, jumlah korban terus bertambah. Dinas Kesehatan Kota Cirebon mencatat sebanyak 395 orang diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu MBG hingga Kamis (22/10/2026). Angka tersebut meningkat 64 orang dibandingkan sehari sebelumnya yang tercatat sebanyak 331 orang.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Cirebon, Siti Maria, mengonfirmasi adanya penambahan jumlah korban tersebut.

“(Jumlah korban) di angka 395, hari sebelumnya itu di 331. Jadi ada penambahan 64,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Cirebon Siti Maria.

Menurut Siti Maria, korban didominasi anak-anak yang berada di jenjang taman kanak-kanak (TK) hingga sekolah dasar (SD). Selain anak sekolah, dugaan keracunan juga dialami orang dewasa, balita, dan lanjut usia.

Ia menjelaskan kelompok usia yang paling banyak terdampak berdasarkan pendataan petugas.

“Anak-anak paling banyak. Usia TK paling tinggi, kedua SD. Selain itu, ada yang dewasa, ada balita, ada juga nenek-nenek,” kata dia.

Sup Telur Puyuh Banyak Dikeluhkan Korban

Menu sup telur puyuh turut menjadi perhatian dalam penyelidikan setelah banyak korban mengeluhkan makanan tersebut. Berdasarkan hasil anamnesis dan wawancara langsung yang dilakukan petugas kesehatan, salah satu keluhan yang muncul adalah rasa kuah sup yang asam.

Siti Maria menyampaikan bahwa keluhan tersebut ditemukan dalam keterangan para korban, tetapi penyebab pasti dugaan keracunan tetap harus menunggu hasil pengujian laboratorium.

“Kalau sejauh dari hasil anamnesa dan wawancara langsung, itu rata-rata mengeluhkan sup telur puyuh. Informasinya asam,” kata Siti Maria.

Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan yang telah diambil nantinya akan membantu memastikan penyebab kejadian tersebut. Hingga hasilnya diketahui, dugaan keracunan MBG di Kota Cirebon masih dalam proses penyelidikan.

Pos terkait