INFONANGGROE.COM – Kasus video CCTV yang memperlihatkan pasangan suami istri (pasutri) diduga menganiaya anak mereka di dalam lift di Malaysia terus menjadi sorotan. Setelah identitas keduanya ramai diperbincangkan di media sosial, pihak sahabat dan keluarga akhirnya angkat bicara mengenai kondisi terkini pasutri tersebut beserta kedua anaknya.
Pasutri yang semula dikira warga Malaysia itu diduga merupakan warga negara Indonesia. Sang istri berinisial AVSP disebut berasal dari Bandung, Jawa Barat, sedangkan suaminya berinisial MN berasal dari Cirebon.
Berdasarkan informasi di profil LinkedIn, AVSP bekerja sebagai Marketing dan PR Specialist di bidang e-commerce. Sementara itu, MN tercatat berprofesi sebagai Research Data Analyst dan memiliki usaha Event Organizer. Profilnya juga menyebut MN sebagai anggota Keraton Kasepuhan Cirebon.
Sahabat Klarifikasi Hubungan Pasutri dan Anak
Setelah video tersebut viral, seorang perempuan bernama Rini yang mengaku sebagai sahabat dekat AVSP turut memberikan penjelasan melalui media sosial. Ia mengaku terkejut melihat rekaman tersebut karena mengenal langsung pasangan yang terlibat.
Rini mengatakan dirinya sempat berusaha menghubungi sang sahabat melalui berbagai platform, tetapi tidak mendapat balasan. Komunikasi baru terjalin setelah ia mengunggah utas mengenai kejadian tersebut.
“Aku bikin utas gaada maksud buat menaikan engagement. Aku sebelum bikin utas itu, sudah coba untuk chat dari berbagai platform, tapi tidak ada yang dibalas. Setelah aku bikin utas, akhirnya mereka menghubungiku. Mungkin itu cara aku bisa berkomunikasi sama mereka. Karna aku berbeda kota sama mereka, jadi akses 1 1 nya buat komunikasi cuman bisa lewat sosial media,” pungkas Rini, dikutip dari tribunnews.
Rini juga meluruskan sejumlah spekulasi yang berkembang di media sosial. Ia menegaskan bahwa kedua anak dalam rekaman CCTV merupakan anak kandung pasutri tersebut, bukan anak tiri ataupun anak yang memiliki status seperti yang dituduhkan sejumlah warganet.
“Aku mau meluruskan bahwasannya mereka adalah ibu & bapak kandung, tidak ada ibu tiri / bapak tiri & anak haram ya dalam kasus ini, tolong berkomentar yang bijak, aku tidak membenarkan perlakuan temenku, mereka salah. Tapi jangan komen yang menggiring opini yang tidak sesuai dengan faktanya. Keep smart guys,” tulis Rini.
Ia mengaku sahabatnya mengalami trauma setelah identitasnya tersebar luas. Rini menyebut akan berbicara langsung dengan temannya ketika kondisinya sudah membaik.
“Dia lagi trauma parah, ga mungkin langsung aku gobl*kin, kalo dia sudah membaik pasti langsung aku omongin kok,” aku Rini.
Kedua Anak dalam Pengawasan Keluarga
Selain Rini, akun di media sosial X yang mengaku sebagai sepupu MN juga memberikan keterangan mengenai kondisi keluarga setelah kejadian tersebut.
Menurut pengakuan akun itu, keluarga besar sudah mengetahui rekaman CCTV yang beredar. Kedua anak yang diduga menjadi korban kekerasan disebut telah berada dalam pengawasan neneknya.
“Mama dia sudah tau dan anak-anaknya yang kena kekerasan sudah dalam pengawasan keluarga. also, the parents are now monitored by the family & professionals,” kata netizen di Twitter (X) yang mengaku sepupu pasutri.
Berawal dari Rebutan Stroller di Lift
Sebelumnya, rekaman CCTV memperlihatkan seorang wanita berbaju merah muda dan pria berbaju putih diduga memukuli anak di dalam lift di Malaysia.
Peristiwa itu bermula ketika kedua anak mereka disebut tantrum dan berebut naik stroller. Saat memasuki lift, anak tertua duduk di stroller, sedangkan adiknya berjalan bersama sang ayah.
Dalam rekaman tersebut, sang ibu terlihat memukul kepala anak yang duduk di stroller. Sang ayah kemudian ikut menendang stroller, sebelum keduanya bergantian melakukan tindakan kekerasan terhadap anak tersebut.
Anak itu terlihat menangis dan berusaha berlindung di belakang ibunya. Namun, sang ibu diduga terus memukul, mendorong, hingga menghimpit anak tersebut sampai terjatuh di dalam lift.
Hingga berita ini ditulis, pasutri yang viral akibat dugaan penganiayaan tersebut belum memberikan klarifikasi secara langsung kepada publik.





