INFONANGGROE.COM – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengaku sempat merasa kesepian saat menghadapi berbagai persoalan pada awal memimpin lembaga yang bertanggung jawab mengawal program Makan Bergizi Gratis (MBG). Di tengah tekanan tersebut, ia mengingat sosok Ketua DPD Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Aceh terpilih, T. A. Khalid, yang memberikan dukungan moral ketika banyak orang memilih menjauh.
Pengalaman itu diceritakan Sudaryono saat memberikan sambutan dalam pelantikan pengurus DPD HKTI Provinsi Aceh di kawasan Aceh Besar, Selasa (13/10/2026). Ia mengungkapkan, penunjukannya sebagai Kepala BGN oleh Presiden Prabowo Subianto terjadi setelah dirinya menjabat Wakil Menteri Pertanian.
Pada bulan pertama memimpin BGN, Sudaryono mengaku harus menghadapi beragam persoalan, termasuk kasus keracunan makanan di sejumlah titik. Ia menceritakan situasi tersebut sebagai masa yang cukup berat baginya.
“Sebelumnya kan sebagaimana Anda ketahui kan saya Wakil Menteri Pertanian, kemudian oleh Presiden saya diberi kepercayaan menjadi Kepala Badan Gizi Nasional. Begitu ada kasus dan kasus demi kasus ya di awal-awal saya menjabat periode mungkin kan saya baru sekitar 2 bulan. Jadi di bulan pertama saya jadi Kepala BGN dengan berbagai persoalan ya, ada keracunan makanan dan lain sebagainya di beberapa titik,” kata Sudaryono, dikutip dari detiknews.
Tekanan yang dihadapinya saat itu bahkan berdampak pada kondisi fisik. Sudaryono merasa tidak banyak orang yang mendekatinya ketika berbagai masalah BGN menjadi sorotan.
“Mohon maaf saja, pernah saya merasa jadi Kepala BGN tuh merasa lonely, merasa kayak kesepian. Jadi enggak banyak orang, mungkin ya karena begitu banyak masalah jadi orang tuh mungkin menghindari saya,” ucapnya.
Di tengah situasi tersebut, T. A. Khalid menghubunginya melalui telepon. Sudaryono mengingat panggilan itu sebagai bentuk kepedulian yang sangat berarti ketika dirinya sedang menghadapi masa sulit.
“Pak TA Khalid telepon saya ya. Telepon sambil agak menangis gitu. Prihatin dan kasihan sama saya. Di momen itu ya, Pak Khalid ya, Kakanda saya, di momen 1 bulan pertama saya jadi Kepala BGN, tidak banyak orang telepon saya either memberi either menawarkan bantuan atau paling tidak berempati, enggak banyak,” cerita Sudaryono.
Ia juga mengenang kondisi dirinya ketika menerima telepon tersebut, mulai dari pikiran yang sedang kalut hingga perubahan fisik akibat tekanan pekerjaan.
“Abang ini di saat saya lagi galau, gundah, kantung mata saya tebal sebelah sini terus uban saya tambah banyak, Abang ini telepon saya di momen yang memang kawan di saat susah itu adalah kawan sejati,” sambung dia.
Meski mengakui banyaknya persoalan di BGN, Sudaryono menegaskan pihaknya tidak akan membiarkan pelanggaran dalam pelaksanaan program MBG. Ia bahkan mempersilakan masyarakat melaporkan temuan terkait kualitas makanan maupun pengelolaan limbah dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
“Kalau kontennya memang ada temuan misalnya ada menu yang enggak bagus, ada kemudian ada dapur yang pengolahan limbahnya enggak bagus, laporkan di sosmed kan enggak ada masalah. Begitu kita temui langsung saya tutup, langsung saya periksa, saya tutup kalau perlu,” tegasnya.
Selain membahas pengalaman memimpin BGN, Sudaryono menyinggung program pompanisasi pertanian yang dijalankan saat dirinya masih menjadi Wakil Menteri Pertanian. Menurutnya, lebih dari 20 ribu pompa telah disalurkan ke berbagai wilayah di Aceh.
Program tersebut membantu meningkatkan frekuensi panen petani. Sawah yang sebelumnya hanya menghasilkan satu kali panen dalam setahun kini dapat panen dua hingga tiga kali.
“Alhamdulillah yang tadinya panen sekali setahun, itu bisa panen 2 sampai 3 kali setahun dan ini kemudian menambah produktivitas kita menjadi sekarang tidak perlu impor beras lagi, enggak impor jagung. Bahkan di tengah El Nino yang sekarang ini, itu produksi pertanian kita lumayan terjaga,” tutur Sudaryono.
Dalam kegiatan tersebut, Sudaryono yang juga menjabat Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional HKTI melantik pengurus DPD HKTI Aceh periode 2026-2031. Susunan pimpinan yang dilantik terdiri atas T. A. Khalid sebagai ketua, Cut Huzaimah sebagai sekretaris, dan Teuku Ali Devi sebagai bendahara.





