INFONANGGROE.COM – Kemacetan panjang di Jembatan Cot Iri terus menjadi keluhan masyarakat yang melintas antara Banda Aceh dan Aceh Besar. Padatnya kendaraan, terutama pada jam sibuk, mendorong anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Munawar AR atau Ngohwan, meminta pemerintah mencari solusi agar arus lalu lintas di kawasan tersebut tidak semakin semrawut.
Keluhan itu datang dari pengendara yang melintasi jalur Ulee Kareng, Banda Aceh, maupun dari arah Lam Ateuk, Aceh Besar. Menurut Ngohwan, peningkatan jumlah penduduk di kawasan tersebut tidak diimbangi kapasitas jembatan yang memadai.
“Pertumbuhan penduduk di kawasan tersebut sangat tinggi setiap tahunnya. Jembatan yang ada sekarang sudah tidak mampu menampung volume kendaraan, sehingga kemacetan panjang tidak terhindarkan lagi,” kata Ngohwan, Kamis (8/10/2026), dikutip dari SerambiNews.
Untuk mengatasi persoalan itu dalam jangka panjang, Ngohwan mengusulkan pembangunan jembatan kembar atau jembatan duplikat di Cot Iri. Namun, rencana tersebut diperkirakan membutuhkan anggaran besar sehingga sulit direalisasikan dalam waktu dekat.
Ia menyebutkan, berdasarkan informasi yang diterimanya, pembangunan jembatan duplikat diperkirakan menelan biaya sekitar Rp 60 miliar. Sementara itu, kondisi fiskal Aceh saat ini masih menghadapi kebutuhan pembiayaan untuk berbagai kepentingan lainnya.
“Berdasarkan konfirmasi yang saya terima, pembangunan jembatan duplikat itu membutuhkan anggaran sekitar Rp 60 miliar. Dengan kondisi fiskal Aceh saat ini, tentu pembangunan sulit dicapai dalam waktu dekat,” ungkap Ngohwan.
Sebagai alternatif yang dinilai lebih memungkinkan dari sisi anggaran, politikus muda Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tersebut meminta Pemerintah Aceh melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) mengkaji pelebaran sayap jembatan atau pembangunan jalur kuping (loop ramp).
Menurutnya, jalur tersebut dapat membantu kendaraan yang hendak berbelok ke kanan di persimpangan pada kedua sisi jembatan tanpa memotong arus utama. Dengan begitu, penumpukan kendaraan di atas jembatan diharapkan dapat dikurangi.
Ngohwan berharap opsi tersebut dapat dikaji sebagai langkah jangka pendek sembari mempertimbangkan pembangunan jembatan duplikat sebagai solusi jangka panjang.
“Pembangunan jalan kuping mungkin lebih rasional. Saya berharap Pemerintah Aceh melalui Dinas PUPR bisa mengkajinya,” ujar Ngohwan.





