BANDA ACEH – Gubernur Aceh Muzakir Manaf, yang akrab disapa Mualem, memastikan proyek hilirisasi di ladang minyak dan gas (migas) Blok Andaman akan segera berjalan. Kepastian ini diperoleh setelah Pemerintah Aceh mengantongi lampu hijau dari pemerintah pusat.
“Gas alam kita melimpah, kita harus persiapkan diri dengan matang. Lampu hijau hilirisasi sudah kita dapatkan,” ujar Mualem di Jakarta, Rabu, 1 Juli 2026.
Mualem menilai Blok Andaman merupakan peluang raksasa untuk mendongkrak perekonomian Serambi Mekah. Ia menegaskan, pemanfaatan blok migas ini tidak boleh sekadar berfokus pada pembagian hak daerah dalam bentuk nominal rupiah semata.
Lebih dari itu, Mualem menginginkan Blok Andaman menjadi motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi makro di Aceh. “Mulai dari mengembangkan sumber daya manusia hingga kemanfaatan turunan lainnya. Karena itu, perlu perencanaan matang. Ini tidak semudah membalikkan telapak tangan,” katanya.
Pernyataan Mualem tersebut disampaikan melalui Juru Bicara Pemerintah Aceh, Nurlis Effendi. Demi mematangkan eksekusi proyek ini, Pemerintah Aceh dilaporkan telah menggelar serangkaian rapat intensif yang dipimpin oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M. Nasir Syamaun.
Kawasan Andaman memiliki enam blok migas utama, yakni Andaman I, Andaman II, Andaman III, Central Andaman, South Andaman, dan South West Andaman. Sebagai langkah awal, Mubadala Energy akan menggarap Lapangan Gas Tengkulo yang berada di Wilayah Kerja South Andaman. “Proyek di Lapangan Tengkulo inilah yang mengawali pergerakan hilirisasi,” kata Nurlis.
Proyek hilirisasi ini akan diintegrasikan dengan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun Lhokseumawe. Langkah tersebut berjalan linier dengan arah kebijakan pusat. Seperti diketahui, Presiden Prabowo Subianto telah merancang 77 Proyek Strategis Nasional (PSN) dalam RPJMN 2025-2029, di mana pengembangan KEK Arun Lhokseumawe masuk di dalamnya. Rencana ini juga sinkron dengan RPJMA Aceh 2025-2029.
Nurlis menjelaskan, cetak biru hilirisasi ini sangat masuk akal karena didukung oleh pasokan gas dan kondensat yang masif dari Lapangan Tengkulo. Dari total potensi gas sebesar 300 MMSCFD di lapangan tersebut, baru sekitar 160 MMSCFD yang terikat komitmen Gas Sale Agreement (GSA) dengan PT PLN (Persero).
“Artinya, sisa kuota yang belum terpakai masih sangat besar. Ini membuka peluang lebar bagi pertumbuhan industri baru,” ucap Nurlis.
Secara teknis, komoditas gas dari Blok Andaman ini berpotensi diolah menjadi metanol dan hidrogen. Menurut Nurlis, Aceh harus mulai bersiap membangun pabrik metanol guna mendukung program strategis nasional komoditas biodiesel, mengingat produksi biodiesel dari kelapa sawit membutuhkan campuran metanol.
Selain gas murni, lapangan ini diproyeksikan memproduksi 7.500 barel kondensat per hari. Output dari kondensat ini dapat diolah menjadi nafta dan kerosin untuk kebutuhan industri cat, serta gasoline untuk bahan bakar minyak (BBM) jenis solar dan premium.
“Pasokan kondensat ini dapat memicu berdirinya kilang minyak (refinery) baru. Dampak ekonomi riil akan langsung terasa begitu industri-industri turunan ini mulai beroperasi,” kata Nurlis menambahkan.






