Ketika Guru Tetap Mengajar Meski Rumahnya Tersapu Banjir

Ketika Guru Tetap Mengajar Meski Rumahnya Tersapu Banjir

ACEH TENGAH, INFONANGGROE.COM – Desa Reje Payung, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, masih berada dalam suasana pemulihan. Hamparan tanah berwarna kecokelatan tampak membentang luas, sisa lumpur banjir yang mengering perlahan. Di beberapa titik, batang kayu besar dan puing rumah masih berserakan, menjadi penanda kuat bahwa bencana belum lama berlalu.

Tak jauh dari bantaran sungai, sebuah tenda darurat berwarna oranye berdiri. Di dalamnya, suasana yang berbeda terasa. Sejumlah anak duduk bersila, membuka buku pelajaran, menulis di atas meja kecil seadanya. Tenda itu kini menjadi ruang belajar sementara, pengganti sekolah yang belum bisa kembali difungsikan.

Bacaan Lainnya

Di tengah mereka, seorang perempuan tampak sibuk mendampingi murid-muridnya. Namanya Wina, seorang guru sekolah dasar di Desa Reje Payung. Rumahnya telah lenyap, tersapu banjir beberapa waktu lalu. Sejak itu, ia tinggal di pengungsian. Namun kehilangan rumah tidak membuatnya berhenti menjalankan peran sebagai pendidik.

Setiap hari, Wina datang ke tenda darurat tersebut untuk mengajar. Tanpa papan tulis permanen, tanpa ruang kelas, dan tanpa fasilitas yang memadai, proses belajar tetap berjalan. Anak-anak tetap hadir dengan seragam yang tampak masih baru, kemungkinan adalah donasi dari sejumlah relawan.

“Sekolah belum bisa normal, tapi anak-anak tidak boleh berhenti belajar,” kata Wina kepada Infonanggroe.com, Rabu (4/2/2026), disela-sela tugasnya saat itu merapikan bacaan ayat suci Al-Qur’an para muridnya.

Tenda darurat ini berdiri tak jauh dari lokasi pengungsian dan pinggir sungai, area yang saat bencana mesti hancur luluh lantak, termasuk menyapu rumah Wina hingga ke akar pondasinya.

Namun di tempat inilah pendidikan dipertahankan. Bagi Wina, mengajar bukan sekadar kewajiban profesi, melainkan bentuk tanggung jawab moral agar anak-anak Reje Payung tidak kehilangan masa depan di tengah bencana.

Kondisi warga sekitar tenda masih jauh dari baik-baik saja. Infrastruktur desa rusak, akses warga terbatas, sinyal seluler jauh dari kata pulih dan kehidupan sosial-ekonomi belum kembali normal. Namun di dalam tenda itu, rutinitas belajar menjadi semacam jangkar, mengembalikan ritme sosial di tengah situasi yang serba tidak pasti.

Anak-anak duduk berdampingan, sebagian membaca Al-Qur’an, sebagian menulis, sebagian lagi mendengarkan arahan guru mereka. Di luar tenda, sepatu-sepatu kecil berjejer rapi di atas tanah yang masih keras oleh lumpur kering.

Apa yang dilakukan Wina mencerminkan keteguhan banyak warga terdampak di Aceh Tengah. Di tengah kehilangan, mereka tetap berupaya menjaga hal-hal paling mendasar: pendidikan, kesehatan, dan keberlanjutan hidup komunitas.

Di Desa Reje Payung, proses pemulihan bukan hanya tentang membangun kembali rumah dan jalan. Ia juga tentang menjaga api kecil harapan agar tetap menyala. Dan di sebuah tenda darurat di pinggir sungai, api itu dijaga oleh seorang guru yang memilih tetap mengajar, meski rumahnya sendiri telah tiada.

Untuk informasi Relawan Aceh Tangguh di https://s.id/acehtangguh dan donasi bantuan, dapat menghubungi: Yulfan: +62 811-6883-917 dan Maulana: +62 821-6167-7331. (Donny Utoyo/Tim Relawan Aceh Tangguh)

#RelawanAcehTangguh #AcehTangguh #BeudohMeusaboh #BangkitBersama

Pos terkait