Nestapa Warga Reje Payung Pascabanjir Bandang

Nestapa Warga Reje Payung Pascabanjir Bandang

ACEH TENGAH, INFONANGGROE.COM – Meski bencana banjir bandang telah berlalu sejak Kamis, 26 November 2025, duka mendalam masih menyelimuti warga Kampung Reje Payung, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah. Hingga pertengahan Januari 2026, kondisi kehidupan warga dilaporkan belum pulih total.

Nasrun, salah seorang warga setempat, hanya bisa menatap hamparan persawahan yang kini rata dengan tanah. Lahan yang dulunya hijau dan menjadi tulang punggung ekonomi keluarga, kini berubah menjadi hamparan lumpur dan bebatuan.

Bacaan Lainnya

Nasrun mengenang detik-detik pilu saat bencana itu datang. Padahal, saat itu ia dan petani lainnya hanya tinggal menghitung hari untuk merayakan masa panen.

“Waktu banjir bandang terjadi, kami melihat dari area pengungsian di atas bukit dengan wajah termenung. Pasrah kami, Bang. Kami menangis, padahal tinggal satu minggu lagi kami mau panen padi,” kenang Nasrun saat ditemui di lokasi, Rabu (15/1/2026).

Bencana tersebut meluluhlantakkan sektor pertanian desa. Dari total 50 hektar sawah warga, kini hanya tersisa sekitar 2 hektar yang masih bisa ditanami. Sisanya hilang tersapu arus atau terkubur material banjir.

“Derasnya air sungai yang membawa gelondongan kayu dari Sungai Jamat dan Sungai Alur Tukik menghanyutkan lahan kami. Inilah mata pencaharian kami, Bang. Kalau tidak ada sawah, kami bingung bagaimana melanjutkan hidup, apalagi anak-anak masih ada yang sekolah dan kuliah,” tambahnya dengan suara bergetar.

Selain hilangnya lahan pertanian, warga kini dihadapkan pada krisis air bersih.. Instalasi pipa air sepanjang 4 kilometer yang bersumber dari hulu Sungai Alur Tukik putus total diterjang banjir.

Kini, warga terpaksa berjalan kaki sejauh 3 kilometer untuk mendapatkan air. Namun, air yang tersedia di sungai pun tidak lagi layak konsumsi seperti sedia kala. Kondisinya kini keruh dan berlumpur.

“Pipa-pipa dari hulu hanyut semua. Sekarang kami terpaksa mengambil air ke sungai, itu pun kondisinya sudah berubah, keruh sekali,” ujar Nasrun.

Saat ini, warga bersama para relawan sedang berjibaku membangun kembali instalasi air bersih secara swadaya. Namun, minimnya peralatan dan medan yang berat membuat proses perbaikan belum dapat dipastikan kapan akan rampung.

Warga Kampung Reje Payung sangat berharap adanya perhatian serius dalam proses pemulihan lahan pertanian dan air bersih dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi Aceh, maupun Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah.

“Harapan kami besar, semoga ada proses pemulihan lahan pertanian, perbaikan infrastruktur, dan saluran air bersih agar keberlangsungan hidup kami bisa kembali normal,” tutup Nasrun penuh harap.

Pos terkait