Menyuarakan Jiwa Lewat Aksara

Menyuarakan Jiwa Lewat Aksara
Fitri Azkia Nasution Mahasiswa FSH UIN Ar-Raniry

*) Oleh: Fitri Azkia Nasution

Menulis adalah perjalanan sunyi yang membawa kita menyelami lorong-lorong terdalam dari jiwa. Di sana, kata-kata bukan sekadar rangkaian kalimat, tetapi suara yang selama ini terpendam menunggu untuk diungkapkan. Di balik setiap goresan pena terdapat kekuatan yang mampu mengungkapkan perasaan yang bahkan tak terucapkan oleh bibir.

Motivasi menulis datang dari dalam, dari kedalaman hati yang ingin bersuara, meskipun hanya lewat diam. Menulis bukan hanya tentang mengalirkan cerita, melainkan juga tentang mengungkapkan segala apa yang tersembunyi, baik itu kegembiraan, kesedihan, atau kegelisahan yang tak tertangkap oleh mata. Di balik kata-kata, ada keinginan untuk dikenal, untuk ditemukan dan mungkin untuk menyentuh hati yang juga berbicara dalam keheningan.

Di balik aksara, ada kilauan jiwa-jiwa yang terluka dan manusiawi. Menulis bukan hanya tentang berbicara, tetapi juga berbicara pada diri sendiri. Menulis sebuah refleksi dari jiwa, pencarian arah dan makna. Terkadang, dalam gemuruh kehidupan, merasa seperti ada banyak pikiran yang berdesakan di dalam hati, tetapi tak tahu bagaimana cara melepaskannya. Disaat pena menyentuh kertas maupun jari menari di atas keyboard, semua perasaan itu seolah menemukan jalan untuk keluar, mengalir dengan bebas, satu per satu membawa ketenangan yang sulit ditemukan di tempat lain. Lewat aksara yang lahir dan mengalir di atas kertas, semua perasaan itu keluar begitu saja, mengalir dengan jujur, dan menjadi jalan pulang bagi diri sendiri. Menulis seperti cermin yang memantulkan diri, memberi ruang untuk mengenal, menerima, bahkan berdamai dengan diri sendiri.

Tetapi, menulis juga datang dengan tantangannya. Ada saatnya kata-kata seolah menghilang, terjebak dalam ruang hening, dan merasa seperti berjalan di tengah kabut. Tak tahu ke mana arah yang terus melangkah. Namun disitulah pentingnya motivasi menulis. Ia tidak selalu datang dari ambisi untuk dikenal atau diakui, melainkan dari kebutuhan untuk terus menulis meskipun tak sempurna. Karena menulis bukan tentang hasil yang gemilang, tapi tentang proses yang jujur. Justru dalam ketidakpastian dan keraguan itulah kita menemukan keindahannya.

Rangkaian aksara adalah seni paling indah dalam melukis sebuah luka, dalam dunia aksara kita bebas menjadi siapapun, kita bisa mengembara semesta tanpa batas, kita menciptakan tokoh yang kita impikan dan menceritakan kisah yang tak bisa kita ucapkan secara langsung. Tak ada aturan yang membatasi. Kata-kata memberi kita sayap untuk menyusupkan pikiran ke tempat-tempat yang belum pernah kita bayangkan sebelumnya. Menulis memungkinkan kita kembali ke diri sendiri sepenuhnya.

Motivasi menulis bukan tentang apa yang kita dapatkan, tetapi tentang apa yang kita berikan. Menulis menjadi jembatan dari hati-ke-hati, sebuah cara untuk mengungkapkan hal yang selama ini tak mampu bersuara-kata. Tidak semua orang memendam atau menyukai apa yang kita tulis, sebab menulis bukan untuk menyenangkan semua orang. Menulis adalah bentuk selebrasi atas keberanian diri untuk berbicara, meskipun lewat sunyi.

Menulis bukan hanya untuk mereka yang ingin menjadi penulis besar, menulis adalah untuk setiap jiwa yang ingin berbagi, untuk hati-hati yang ingin mengungkapkan rasa, untuk setiap langkah kecil yang ingin meninggalkan jejak. Setiap kata yang kita tulis, sekecil apapun adalah bentuk keberanian. Setiap tulisan adalah warisan jiwa yang tak akan hilang. Karena di dunia yang terus berubah, aksara yang lahir dari nurani akan selalu sampai pada jiwa yang bersedia mendengarkan.

*) PENULIS adalah Mahasiswa FSH UIN Ar-Raniry

Rubrik      : Opini

Pos terkait