Sudut Pandang Terhadap terdamparnya Warga Rohingya Kesekian Kalinya Di Aceh

  • Whatsapp

Pemulia Jamee (Memuliakan Tamu ) Merupakan Salah satu bentuk perlakuan menjamu terhadap siapa saja yang menginjakkan kaki di provinsi paling ujung barat Indonesia yang dijuluki Bumi Serambi Mekkah. Hal tersebut dapat dikatakan sebagai karakteristik masyarakat Aceh sudah mendarah daging dalam kehidupan yang di wariskan oleh para Endatu dari masa ke masa bahkan masih sangat kental dan melekat dikehidupan masyrakat Aceh hingga saat ini.

Perilaku tersebut justru sangat mulia. Namun belakangi ini pada akhir Juni 2020 lalu ada kedatangan tamu dari muslim Rohingya dengan jumlah Hampir 100 orang termasuk 79 wanita dan anak-anak di dalam nya yang di selamatkan oleh Nelayan Aceh.

Baca juga:
Indonesia Sedang Tidak Baik-Baik Saja, Krisis Ekonomi Merajalela

Setelah sekian lama terombang-ambing di lautan setelah ditolak Malaysia dan Thailand karena perbatasan di perketat akibat wabah mematikan Covid-19.

Tepatnya Senin 7 September 2020 lalu, Aceh kembali kedatangan tamu dari negara yang sama tetapi dengan jumlah hampir 300 orang yang di yakini sudah terombang-ambing beberapa hari di lautan dan berhasil mendarat di Pantai Ujong Blang Kota Lhokseumawe Provinsi Aceh.

Menurut saya selaku Mahasiswa Politeknik Negeri Lhokseumawe terdampar pengungsi Rohingya yang kesekian kalinya di Aceh perlu di tanggapi dengan serius terhadap maksud serta tujuan mereka yang memilih mendarat di Aceh khususnya dengan alasan perlindungan karena tertindas di Negara Asalnya.

Bagi saya pribadi tindakan menampung mereka bahkan ada isu ingin di jadikan warga negara indonesia itu sangat tidak tepat di karenakan identitas setiap individual mereka saja tidak jelas, Jauh-jauh ini perilaku mereka sangat membuat para relawan di pengungsian kuawalahan seperti melarikan diri pengungsian bahkan ada yang melakukan tindakan tidak senonoh terhadap masyarakat sekitaran pengungsian.

Baca juga:
Bupati Rocky : Saya Marah Bila Pembangunan Jalan MYC Gagal

Hal ini perlu ada tanggapan yang serius dari pihak pemerintahan seperti saat ini kita perhatikan pihak pemerintahan seolah-olah lepas tangan sedangkan masyarakat dan relawan dari berbagai bersusah payah mecari solusi terhadap pengungsi seperti membuka open donasi untuk memenuhi kebutuhan mereka selama di pengungsian.

Hingga saat ini masih banyak masyarakat Aceh yang miskin, anak yatim hingga janda tua serta para keluarga korban Konflik Silam yang memerlukan perhatian khusus dari pemerintah, Namun semua penderitaan itu terabaikan begitu saja akibat semua sibuk memikirkan para pengungsi Rohingya hingga lupa bahwa bangsa sendiri lebih menderita daripada mereka.

Solusi dari saya untuk menanggapi para pengungsi Rohingya tersebut bukan dengan cara menampung mereka dengan jangka waktu yang lama tetapi dengan cara memenuhi semua kebutuhan mereka baik dari logistik, obat-obat serta bahan bakar serta memperbaiki kapal apabila ada kerusakan sebelum melanjutkan perjalanan.

Penulis : Maulana Fikri Mahasiswa Politeknik Negeri Lhoksemawe.
Rubrik       : Opini

Pos terkait