Kabut Asap Selimuti Sabang Sejak Pagi, Nelayan Batasi Jarak Melaut Demi Keselamatan

Kabut Asap Selimuti Sabang Sejak Pagi, Nelayan Batasi Jarak Melaut Demi Keselamatan
LAUT - Suasana aktivitas laut di pesisir Teupi Cirik, Krueng Raya, Sabang, Kamis (15/10/2026) sore. Sejumlah perahu tampak beraktivitas di perairan dengan latar perbukitan yang terlihat samar di kejauhan.

INFONANGGROE.COM – Kabut asap yang diduga berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyelimuti Kota Sabang pada Kamis (15/10/2026). Kondisi ini tidak hanya mengurangi jarak pandang, tetapi juga membuat nelayan membatasi aktivitas di laut demi menghindari risiko keselamatan.

Kabut mulai terlihat sejak pagi hari dan bertahan hingga beberapa jam kemudian. Dedi Kurniawan (41), seorang nelayan di Sabang, mengaku mendapati suasana yang tidak biasa saat hendak menuju Pantai Kasih sekitar pukul 05.00 WIB.

Bacaan Lainnya

Ia menceritakan kondisi yang dilihatnya ketika kabut asap mulai menyelimuti kawasan tersebut.

“Sekitar pukul lima pagi saya keluar rumah menuju Pantai Kasih. Suasananya terasa gelap, padahal matahari sudah hampir terbit. Dari situ saya menyadari Sabang mulai diselimuti kabut asap,” kata Dedi, dikutip dari tribunnews.

Menurut Dedi, kabut masih terlihat hingga sekitar pukul 09.00 WIB. Situasi tersebut membuatnya memilih untuk tidak melaut terlalu jauh dari pantai karena jarak pandang yang terbatas berpotensi membahayakan perjalanan.

Bagi nelayan, kemampuan melihat kondisi sekitar menjadi faktor penting ketika berada di perairan. Pandangan yang terhalang dapat menyulitkan pengendalian perahu, pemantauan lingkungan sekitar, hingga upaya mengantisipasi perubahan situasi di laut.

Atas pertimbangan itu, Dedi memilih lebih berhati-hati dalam menentukan lokasi penangkapan ikan. Ia tidak ingin memaksakan perjalanan ke perairan yang lebih jauh ketika kondisi belum mendukung.

Sementara itu, catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Maimun Saleh menunjukkan adanya perubahan jarak pandang di Sabang pada hari yang sama.

Pada pengamatan pukul 10.00 WIB, jarak pandang tercatat mencapai 7 kilometer. Namun, empat jam kemudian, tepatnya pukul 14.00 WIB, jarak pandang menurun menjadi 3 kilometer dengan kondisi berasap.

Angka tersebut merupakan hasil pengamatan di stasiun meteorologi dan tidak serta-merta mewakili seluruh wilayah Sabang maupun perairan di sekitarnya. Kondisi jarak pandang dapat berbeda-beda sesuai dengan sebaran asap dan keadaan atmosfer di setiap lokasi.

Situasi ini menjadi perhatian bagi nelayan dan masyarakat yang beraktivitas di laut. Memantau perkembangan cuaca serta kondisi jarak pandang sebelum berangkat penting dilakukan untuk mengurangi risiko selama perjalanan.

Ketika asap masih membatasi pandangan, keselamatan perlu menjadi pertimbangan utama, termasuk dengan membatasi jarak tempuh atau menghindari perairan yang dinilai berisiko.

Pos terkait