INFONANGGROE.COM – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kembali menjadi sorotan setelah dampaknya dirasakan hingga Malaysia dan Singapura. Di tengah kekhawatiran negara tetangga terhadap kualitas udara, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah RI (Bakom), Syahganda Nainggolan, meminta mereka memahami kondisi kebakaran yang disebutnya dipengaruhi faktor alam.
Pernyataan tersebut disampaikan Syahganda di kantor Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), Jakarta, Sabtu (10/10/2026). Ia menilai kebakaran yang terjadi saat ini tidak semata-mata berkaitan dengan kesalahan manusia.
“Jadi, kita juga minta kepada semua tetangga kita untuk mengerti ini adalah di luar beyond human error, ini betul-betul alam,” kata Syahganda, Dikutip dari Kompas.
Selain menyinggung penyebab kebakaran, Syahganda mengingatkan bahwa hutan Indonesia juga memiliki peran dalam lingkungan regional. Ia menilai hubungan ekologis antarnegeri tidak seharusnya hanya dilihat dari dampak asap ketika kebakaran terjadi.
“Kita bukan hanya mengirim asap, tapi kalau asapnya enggak ada, kita mengirim oksigen. Oksigen Singapura dan Malaysia itu kan datang dari hutan-hutan kita,” ujarnya.
Pernyataan tersebut merupakan pandangan Syahganda. Tidak ada hasil penyelidikan yang disertakan dalam laporan ini untuk memastikan seluruh titik karhutla disebabkan faktor alam. Begitu pula, klaim mengenai pasokan oksigen bagi Malaysia dan Singapura perlu dipahami sebagai pernyataannya, bukan kesimpulan ilmiah tentang ketergantungan kedua negara terhadap hutan Indonesia.
Di tengah persoalan tersebut, Malaysia telah menawarkan bantuan untuk memadamkan karhutla di Indonesia. Menteri Luar Negeri Malaysia Mohamad Hasan mengatakan Presiden Prabowo Subianto telah menyetujui tawaran itu. Namun, pelaksanaannya masih menunggu pembahasan teknis, termasuk mekanisme operasi, pembagian tugas, dan lokasi penugasan tim Malaysia.
Mohamad Hasan berharap koordinasi kedua negara segera rampung agar bantuan dapat direalisasikan.
“Saya berharap perundingan mengenai operasi ini, termasuk bagaimana dan di mana tim dari Malaysia dapat membantu, bisa segera diselesaikan,” kata Mohamad Hasan, sebagaimana dikutip dari Harian Metro, Rabu (7/10/2026).
Malaysia secara khusus menyoroti kebakaran di Kalimantan karena luas wilayah terdampak dan potensi asap melintasi perbatasan. Mohamad Hasan juga menggambarkan kondisi kualitas udara di negaranya yang semakin mengkhawatirkan.
“Keadaan kabut asap di negara kita sudah sangat parah. Sudah melewati kategori tidak sehat dan hampir masuk indeks berbahaya,” ujarnya.
Sementara itu, Syahganda memastikan komunikasi diplomatik Indonesia dan Malaysia tetap berjalan baik. Ia menyebut Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim telah mengirim utusan melalui Menteri Luar Negeri Malaysia untuk membahas persoalan karhutla dengan Menteri Luar Negeri Indonesia.
Komunikasi tersebut dilakukan untuk memperjelas penanganan kebakaran dan membahas bentuk kerja sama yang bisa dijalankan. Di tengah dampak kabut asap yang meluas, pembahasan teknis bantuan Malaysia menjadi salah satu langkah yang diharapkan dapat memperkuat upaya pemadaman.





