INFONANGGROE.COM – Kepulan asap tebal dan kobaran api yang melahap pemukiman telah mengubah musim panas di Aljazair menjadi tragedi mematikan. Menyusul kebakaran hutan dahsyat yang merenggut 12 nyawa dan membuat negara itu menetapkan tiga hari masa berkabung, Presiden Abdelmadjid Tebboune kini mengambil langkah tegas: ia bersiap menerapkan kembali hukuman mati bagi para pelaku pembakaran.
“Ini tragedi besar,” ujar Presiden Tebboune saat menanggapi hilangnya nyawa warga tak bersalah akibat musibah tersebut, dikutip dari euronews, Selasa (1/9/2026). Ia juga menegaskan bahwa, “Amandemen KUHP sedang dilakukan,” untuk menindak tegas pihak-pihak yang terbukti sengaja memicu bencana ini.
Langkah ini menandai perubahan besar dalam sistem peradilan Aljazair, mengingat negara tersebut telah menerapkan moratorium (penangguhan) hukuman mati sejak tahun 1993. Revisi undang-undang ini ditargetkan rampung paling lambat 15 September mendatang.
Hingga Senin, situasi di lapangan masih mencekam. Otoritas setempat mencatat 46 titik api masih berkobar dari total 193 kebakaran yang terjadi dalam kurun waktu 24 jam terakhir. Di media sosial, rentetan video yang belum diverifikasi memperlihatkan kengerian warga yang terjebak kobaran api raksasa di dalam rumah mereka sendiri.
Menteri Dalam Negeri Said Sayoud mengonfirmasi rincian korban jiwa akibat amukan si jago merah. Sebanyak lima orang tewas di Provinsi Jijel, empat di Bejaiia, dan tiga lainnya di Tizi Ouzou. Selain korban tewas, 54 orang kini harus dirawat intensif di rumah sakit akibat luka bakar parah, dengan enam di antaranya berada dalam kondisi kritis.
Dampak kebakaran juga melumpuhkan infrastruktur dan mobilitas warga. Polisi militer Aljazair, Gendarmerie, terpaksa menutup tiga jalan raya utama yang menghubungkan wilayah timur demi alasan keselamatan publik.
Kebakaran hutan di musim panas sejatinya kerap melanda kawasan utara Aljazair. Namun, kekeringan panjang dan suhu panas ekstrem belakangan ini membuat intensitas api semakin mematikan dan tak terkendali.
Bencana ini seakan mengulang mimpi buruk pada Juli 2023 silam, ketika api melanda ribuan hektar lahan pertanian dan hutan di dekat Bejaia, menghancurkan ratusan rumah serta menewaskan lebih dari 30 orang. Ancaman ini terus berlanjut, terbukti dari catatan pihak berwenang yang mendeteksi hampir 2.000 insiden kebakaran di seluruh penjuru negeri pada bulan Juli tahun ini saja.






