INFONANGGROE.COM – Korban tewas akibat banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Nepal dan China terus bertambah. Hingga Sabtu, jumlah korban meninggal dunia mencapai 633 orang, sementara hampir 3.000 orang lainnya masih dinyatakan hilang di tengah berlangsungnya operasi pencarian dan penyelamatan.
Dikutip dari ANTARA, di Nepal jumlah korban tewas meningkat menjadi 626 orang, sedangkan 2.426 orang masih belum diketahui keberadaannya berdasarkan data Otoritas Nasional Pengurangan Risiko dan Penanggulangan Bencana Nepal (NDRRMA) yang dimuat Kathmandu Post.
Tim pencari terus menemukan jenazah yang hanyut terbawa arus sungai yang meluap akibat hujan deras.
Wilayah Chitwan dan Nawalparasi East menjadi daerah yang mengalami dampak paling parah. Selain itu, puluhan korban juga ditemukan di Gorkha, Dhading, dan Nuwakot setelah Sungai Bhotekoshi dan Trishuli meluap. Kedua sungai tersebut merupakan aliran utama yang berhulu di kawasan Himalaya.
Sejumlah jenazah bahkan ditemukan hingga kawasan perbatasan India. Di sisi lain, banyak warga negara asing masih termasuk dalam daftar orang yang belum ditemukan.
Pemerintah India menyatakan sebanyak 320 warganya masih hilang di Nepal, menjadikan warga India sebagai kelompok warga negara asing terbesar yang belum ditemukan.
“Sejauh menyangkut jumlah orang yang tidak dapat kami hubungi atau yang hilang, angkanya saat ini adalah 320,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri India Randhir Jaiswal dalam konferensi pers pada Jumat (28/8), sebagaimana disampaikan melalui pernyataan resmi kementerian di media sosial X.
Jaiswal juga mengungkapkan sekitar 100 orang keturunan India yang kemungkinan memiliki kewarganegaraan lain hingga kini masih belum dapat dihubungi.
Meski demikian, India melaporkan puluhan warganya telah berhasil diselamatkan, termasuk 63 pekerja di proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Trishuli-1.
Sementara itu, di China tercatat tujuh orang meninggal dunia dan 554 lainnya masih dinyatakan hilang, menurut kantor berita Xinhua.
Jumlah orang hilang diperkirakan masih dapat berubah karena tim pencarian terus menemukan warga yang sebelumnya tidak dapat dihubungi akibat terputusnya jaringan komunikasi setelah banjir merusak infrastruktur kelistrikan.
Otoritas Nepal melaporkan sebanyak 2.301 orang telah berhasil diselamatkan atau mendapatkan perawatan akibat cedera. Sebagian besar korban selamat berasal dari Distrik Nuwakot dan Rasuwa.
Data kepolisian menunjukkan 27 personel masih belum dapat dihubungi. Untuk mempercepat proses pemulihan, sebanyak 4.811 petugas telah dikerahkan ke berbagai wilayah terdampak.
Pemerintah Nepal juga telah menyetujui masuknya tim pencarian dan penyelamatan internasional.
“Kami mendapat tekanan besar dari komunitas internasional untuk mengizinkan setidaknya tim pencarian dan penyelamatan serta sejumlah ahli karena warga negara mereka juga hilang dalam banjir,” ujar seorang pejabat yang identitasnya tidak disebutkan kepada Kathmandu Post.
Sementara itu, Asosiasi Produsen Listrik Independen melaporkan sebanyak 934 orang yang berkaitan dengan 11 lokasi pembangkit listrik tenaga air yang terdampak banjir di Nepal masih belum diketahui nasibnya.
Palang Merah Internasional memperkirakan sekitar 93.000 orang berpotensi terdampak bencana tersebut. Namun, proses penilaian masih berlangsung, terutama di wilayah-wilayah yang sulit dijangkau.
Otoritas memperkirakan jumlah korban tewas maupun orang hilang masih berpotensi berubah seiring tim penyelamat berhasil menjangkau daerah-daerah yang terisolasi dan jaringan komunikasi kembali pulih.






