INFONANGGROE.COM – Aceh Besar | Ratusan jamaah yang sedang khusyuk menunaikan Shalat Istisqa tetap berdiri di tempatnya meski hujan mulai turun. Tak ada yang berlari mencari teduh. Air hujan justru membasahi wajah-wajah yang sejak beberapa pekan terakhir menatap langit dengan penuh kecemasan.
Mereka sedang menunaikan Shalat Istisqa, salat sunnah yang dilakukan untuk memohon turunnya hujan. Maklum, kemarau yang melanda kawasan itu mulai meninggalkan jejak nyata. sebagaimana dilansir dari modusaceh.co.
Saluran irigasi menyusut, tanah sawah pecah-pecah, dan tanaman padi yang memasuki masa pembentukan bulir terancam kekurangan air.
Makanya, sejak pagi, masyarakat dari berbagai gampong berdatangan memenuhi halaman masjid. Di antara mereka tampak petani, tokoh agama, aparat pemerintah, hingga puluhan murid SD Negeri Lamkunyet yang hadir bersama guru-gurunya.
Kehadiran para pelajar menjadikan kegiatan itu bukan sekadar ibadah bersama, tetapi juga pelajaran tentang bagaimana masyarakat Aceh memadukan ikhtiar lahir dan batin saat menghadapi bencana alam.
Sebelum salat dimulai, Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Darul Kamal, Tgk Muhibuddin, mengajak seluruh jamaah meluruskan niat dan memperbanyak doa.
“Mari bersama memohon kepada Allah SWT agar menurunkan hujan dan keberkahan bagi negeri dan umat,” katanya, Senin. Dia mengingatkan bahwa setiap permohonan harus diawali dengan hati yang bersih dan kesungguhan untuk memperbaiki diri.
Kekeringan yang melanda Darul Kamal bukan lagi sekadar kekhawatiran. Camat Darul Kamal, Husaini, mengatakan dampaknya sudah terlihat jelas di lapangan. Banyak petani mulai cemas karena lahan mereka kehilangan pasokan air pada fase penting pertumbuhan padi.
“Kita melihat langsung kondisi sawah yang mulai mengering, bahkan tanahnya sudah retak-retak. Ini tentu akan memengaruhi hasil pertanian masyarakat,” ujar Husaini. Menurut dia, pemerintah kecamatan terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk mencari solusi terhadap persoalan tersebut.
Namun, di tengah keterbatasan yang ada, masyarakat memilih mengawali ikhtiar dengan bermunajat bersama. “Shalat Istisqa adalah ikhtiar batin kita. Di sisi lain, pemerintah tetap berupaya mencari solusi secara teknis. Kita berharap Allah SWT segera menurunkan hujan dan memberikan keberkahan,” katanya.
Harapan itu seolah mendapat jawaban lebih cepat dari yang dibayangkan. Ketika rangkaian ibadah masih berlangsung, hujan perlahan turun membasahi halaman masjid. Jamaah tidak meninggalkan saf. Mereka tetap khusyuk mengikuti doa hingga selesai. Momen itu menghadirkan suasana haru yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Kontributor INFONANGGRO.COM liputan Aceh Besar melaporkan. Sebelumnya, Imum Mukim Biluy, Rusdi, menggambarkan betapa berat kondisi yang sedang dihadapi para petani. Menurut dia, sebagian besar lahan pertanian dan perkebunan sudah kehilangan cadangan air.
“Tanah sudah sangat kering bahkan pecah-pecah, sementara padi mulai mengeluarkan bulir. Kalau hujan tidak segera turun, ancaman gagal panen akan semakin besar,” katanya.
Rusdi menilai Shalat Istisqa bukan hanya permohonan agar hujan turun. Tradisi itu juga menjadi sarana pendidikan bagi generasi muda agar memahami bahwa setiap ujian harus dihadapi dengan usaha sekaligus doa.
Pelaksanaan salat dipimpin Tgk Jufri dari Masjid Lamkunyet. Sebelum salat dimulai, ia terlebih dahulu menjelaskan tata cara Shalat Istisqa agar seluruh jamaah dapat melaksanakannya sesuai tuntunan syariat.
Pada akhir kegiatan, Tgk Muhibuddin kembali mengajak masyarakat memperbanyak istighfar, menjaga hubungan baik dengan sesama, menjauhi perbuatan zalim, serta memperbanyak sedekah. Menurutnya, keberkahan bukan hanya lahir dari turunnya hujan, tetapi juga dari perubahan sikap manusia kepada Allah dan sesamanya.
Kegiatan itu turut dihadiri mantan Camat Darul Kamal yang kini menjabat Camat Blang Bintang, Subhan, unsur Forkopimcam, serta masyarakat dari berbagai gampong.
Di Darul Kamal, hujan yang turun siang itu mungkin belum cukup untuk mengisi seluruh saluran irigasi atau memulihkan sawah yang telanjur mengering. Namun, bagi ratusan warga yang tetap bertahan di bawah rintiknya hingga doa usai, hujan telah menjadi lebih dari sekadar air yang membasahi bumi.
Rahmat Allah SWT ini hadir sebagai jawaban atas sebuah ikhtiar yang dilakukan bersama, dengan keyakinan bahwa harapan selalu memiliki jalan untuk sampai ke langit.






