Kontraktor Lari, Warga Pante Bidari Menanggung Utang dan Hidup di Gubuk Kayu Bekas

Kontraktor Lari, Warga Pante Bidari Menanggung Utang dan Hidup di Gubuk Kayu Bekas
Suasa di lokasi pengungsian Dusun Peulalu, Gampong Blang Seunong, Kecamatan Pante Bidari, masih banyak tenda BNPB ditempati korban banjir karena tak punya Huntara, Selasa (17/3/2026).  Foto: Serambinews.com/Maulidi Alfata

INFONANGGROE.COM – Empat bulan telah berlalu sejak banjir besar menyapu Dusun Peulalu, Gampong Blang Seunong, Kabupaten Aceh Timur. Namun, alih-alih menempati Hunian Sementara (Huntara) yang dijanjikan, warga terdampak justru terpaksa bertahan di bawah tenda BNPB dan gubuk-gubuk darurat yang memprihatinkan.

Pangkal persoalannya, pembangunan Huntara terhenti total. Para pekerja proyek dikabarkan meninggalkan lokasi karena upah mereka tak kunjung dibayarkan oleh kontraktor.

Bacaan Lainnya

“Kontraktornya melarikan diri. Informasi yang kami terima, para pekerja belum dibayar oleh BNPB, sehingga mereka memilih angkat kaki begitu saja,” ujar Kepala Dusun Peulalu, Amran, Selasa (17/3/2026) dikutip serambinnews.

Ironisnya, pelarian para pekerja yang mayoritas berasal dari Sumatera Utara itu meninggalkan luka baru bagi ekonomi warga lokal. Intan Putriyani, salah seorang warga, mengaku warung kecilnya kini terbebani utang rokok dan minuman yang ditinggalkan para pekerja proyek tersebut.

“Saat ditagih, alasannya belum ada uang karena belum dibayar ‘toke’ (kontraktor). Sekarang mereka pulang kampung dan tidak kembali lagi,” keluh Intan lesu.

Demi menyambung hidup dan mencari tempat berteduh yang lebih layak dari tenda, Intan terpaksa mengumpulkan kayu sisa hanyutan banjir untuk membangun barak darurat sendiri. Sudah dua bulan ia dan keluarganya mendekam di gubuk seadanya itu.

Ketidakpastian ini juga menghantui Murtini. Ia mulai mencemaskan kesehatan anak-anak yang terlalu lama tidur di tenda pengungsian. “Kami mohon pemerintah tolong pikirkan nasib kami. Jangan hanya datang mendata tanpa kepastian kapan pembangunan ini selesai,” tegasnya.

Hingga berita ini diturunkan, warga Blang Seunong mengaku merasa “dianaktirikan” oleh Pemerintah Daerah. Meski banyak pihak datang melakukan peninjauan, realisasi bantuan fisik berupa tempat tinggal yang layak masih nihil, sementara pejabat daerah pun belum pernah menginjakkan kaki di lokasi pengungsian mereka. **

Pos terkait