Festival Sri Musim 2026: Merawat Ingatan Hutan, Menjaga Kedaulatan Adat

Festival Sri Musim 2026: Merawat Ingatan Hutan, Menjaga Kedaulatan Adat

BANDA ACEH, INFONANGGROE.COM – Komunitas Tikar Pandan akan menggelar Festival Sri Musim 2026 dengan tema “Merawat Ingatan Hutan, Menjaga Kedaulatan Adat”. Festival ini menjadi ruang kebudayaan berbasis komunitas yang memadukan pendidikan adat, seni, penguatan ekonomi lokal, hingga advokasi kebijakan.

Ketua Koordinator Festival Sri Musim, Muhammad Dimas Al-Aziz, mengatakan kegiatan ini merefleksikan komitmen masyarakat adat Mukim Lampuuk dalam menjaga hutan, sumber air, serta sistem nilai adat yang diwariskan lintas generasi.

Bacaan Lainnya

“Festival ini kami rancang sebagai medium edukasi publik sekaligus ruang konsolidasi masyarakat adat untuk memperkuat kedaulatan ruang hidup,” ujar Dimas, Selasa (17/2/2026).

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, panitia membuka pendaftaran peserta Sekolah Adat dan Workshop Penulisan Hikayat Sri Musim pada 17–21 Februari 2026 melalui tautan s.id/srimusim. Calon peserta diwajibkan mengirim artikel ilmiah minimal 500 kata tentang adat, yang akan menjadi bahan kurasi sekaligus diskusi awal.

Rangkaian festival berlangsung dari 23 Februari hingga 18 April 2026. Kegiatan diawali dengan Sekolah Adat pada 23–25 Februari 2026 di Jambo Turki Lampuuk yang berfokus pada penyusunan draf kurikulum adat dan rekomendasi kebijakan sebagai dasar perancangan Qanun.

Selanjutnya, Workshop Penulisan Hikayat Sri Musim digelar pada 26–28 Februari 2026 untuk menghasilkan naskah hikayat yang akan diadaptasi menjadi pertunjukan teater rakyat.

Memasuki akhir Ramadan, festival dilanjutkan dengan Pameran Budaya dan Pasar Adat pada 12–14 Maret 2026 di Meunasah Mesjid Lampuuk, yang mengintegrasikan isu adat, mitigasi bencana, kesehatan, serta ekonomi kreatif. Rangkaian Ramadan ditutup dengan Haflah Khatamul Qur’an di Gampong Meunasah Mesjid Lampuuk.

Puncak kegiatan berlangsung pada 18 April 2026 melalui pergelaran Teater Rakyat Hikayat Sri Musim yang melibatkan pelajar SMA dan SMK. Pada penutupan, panitia juga akan menyerahkan rancangan Qanun sebagai bentuk konsolidasi gerakan adat.

“Melalui festival ini, kami berharap posisi masyarakat hukum adat semakin kuat dalam kebijakan daerah, kesadaran ekologis tumbuh, dan ekonomi berbasis budaya semakin berkembang,” kata Dimas. (*)

Pos terkait