ACEH TENGAH, INFONANGGROE.COM – Bagi sebagian warga Desa Jamat, jarak antara bantuan dan kebutuhan sehari-hari hanya sejauh satu batang sinyal. Tanpa internet, mereka tak bisa menyentuh haknya sendiri. Di titik itulah Relawan Aceh Tangguh (RAT) hadir, bukan sekadar membawa sembako, tetapi menghadirkan koneksi yang menghidupkan kembali denyut ekonomi kecil desa.
Di Desa Jamat, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, banjir memang telah surut. Namun lumpuhnya jaringan komunikasi membuat bantuan sosial yang sudah masuk ke rekening warga tak bisa dicairkan. Dana Program Keluarga Harapan (PKH), bantuan sosial lainnya, hingga bantuan pendidikan tertahan di sistem digital, sementara kebutuhan rumah tangga tak bisa menunggu.
Sejak pagi, warga mengantre di sebuah warung sederhana milik Ibu Istiharah, warga setempat. Ini adalah warung yang sehari-hari menjual kebutuhan pokok dan sekaligus memberikan layanan penarikan uang tunai. Di tempat itulah harapan warga dapat dimungkinkan.
Sejumlah ibu tampak menggenggam Kartu Keluarga Sejahtera (KKS), berharap bantuan pangan bisa segera dicairkan. Sejumlah remaja usia sekolah menengah tampak sabar duduk mengantri sambil membawa kartu Program Indonesia Pintar (PIP) atau KIP Anak Sekolah yang ketika uangnya berhasil dicarikan akan digunakan untuk mendukung aktivitas belajarnya di sekolah darurat setempat.
Tanpa internet, semua kartu itu, ATM, KKS, maupun PIP, menjadi tak berarti. Bantuan yang sangat dibutuhkan terasa begitu dekat, tetapi tak bisa disentuh.
Melihat situasi tersebut, Relawan Aceh Tangguh (RAT) memasang perangkat Starlink Mini di warung tersebut sebagai akses internet darurat. Pemasangan dilakukan langsung oleh Fakhrullah Maulana, Ketua Relawan TIK Aceh yang juga tergabung dalam RAT.
“Ketika saya melihat ibu-ibu membawa KKS dan anak sekolah menggenggam kartu PIP, saya sadar ini bukan sekadar persoalan teknis. Ini tentang keberlangsungan hidup dan masa depan mereka. Mereka hanya ingin mengambil haknya sendiri,” ujar Maulana, Sabtu (7/2/2026).
Sejak akses internet tersedia, transaksi kembali berjalan normal. Satu per satu warga berhasil mencairkan dana yang sebelumnya tertahan. Pegiat ICT Watch, Donny Utoyo, menegaskan bahwa langkah tersebut mungkin terlihat sederhana, namun dampaknya jauh melampaui sekadar koneksi internet.
“Walau tampak sederhana, keberadaan Starlink di warung warga itu sejatinya menjadi pemantik berputarnya kembali roda perekonomian desa. Warga bisa mengambil uangnya, uang itu dibelanjakan untuk kebutuhan sehari-hari, dan secara tidak langsung menghidupkan kembali usaha-usaha mikro setempat,” ujar Donny yang juga tergabung dalam RAT.
Menurutnya, dalam konteks pascabencana, denyut ekonomi sering kali dimulai dari hal-hal kecil. Ketika uang bantuan berhasil dicairkan, warung-warung kembali mendapatkan pembeli. Para petani, pekebun dan peladang dapat kembali melakukan aktivitas ekonominya. Perputaran uang di tingkat desa perlahan hidup kembali.
“Internet di sini bukan sekadar sinyal. Ia menjadi jembatan antara sistem bantuan sosial dengan dapur warga. Ketika koneksi pulih, bukan hanya transaksi yang berhasil, tetapi harapan dan aktivitas ekonomi juga ikut bergerak,” tambahnya.
RAT membatasi pemasangan Internet di warunghanya untuk kebutuhan mendesak warga, terutama pencairan bantuan sosial dan pendidikan. Setelah kebutuhan darurat terpenuhi, perangkat dicabut kembali untuk menghindari kecemburuan sosial di tengah masyarakat yang sama-sama terdampak.
Dari sebuah warung sederhana di Desa Jamat, pemulihan itu dimulai. Bukan dengan proyek besar, melainkan dengan memastikan warga bisa membawa pulang uang untuk belanja harian, dan para pelajar tetap memiliki kesempatan melanjutkan sekolahnya. Sebab di desa kecil seperti ini, satu batang sinyal Internt bisa berarti satu desa yang kembali bergerak.
Untuk informasi Relawan Aceh Tangguh di https://s.id/acehtangguh dan donasi bantuan, dapat menghubungi: Yulfan: +62 811-6883-917 dan Maulana: +62 821-6167-7331. (*)
#RelawanAcehTangguh #AcehTangguh #BeudohMeusaboh #BangkitBersama








