Moral Tanpa Tuhan? Membaca Ulang “Masyarakat Tanpa Tuhan” dengan Kacamata Sejarah

Moral Tanpa Tuhan? Membaca Ulang “Masyarakat Tanpa Tuhan” dengan Kacamata Sejarah

*) Oleh: Duwi Pangestu

Buku Society Without God karya Phil Zuckerman kerap digunakan dalam perdebatan publik sebagai argumen bahwa manusia dapat hidup bermoral, bahagia, dan sejahtera tanpa Tuhan. Dengan menyoroti Denmark dan negara-negara Skandinavia—yang memiliki tingkat religiositas rendah namun indeks kebahagiaan dan kesejahteraan tinggi—buku ini sering dijadikan dasar untuk mempertanyakan relevansi agama dalam pembentukan moralitas.

Namun, persoalan utama dalam penggunaan buku ini bukan terletak pada data empirisnya, melainkan pada cara menarik kesimpulan darinya. Seperti telah diingatkan oleh para sosiolog dan filsuf moral, moralitas tidak dapat dipahami hanya secara sinkronik (potret masa kini), melainkan harus dilihat secara diakronik—yakni melalui proses sejarah yang membentuknya. Esai ini bertujuan menunjukkan bahwa apa yang sering disebut sebagai “masyarakat tanpa Tuhan” sesungguhnya adalah masyarakat pasca-religius, bukan masyarakat yang sejak awal hidup tanpa fondasi religius.

1.⁠ ⁠Skandinavia dan Sejarah Keberagamaan

Skandinavia tidak muncul sebagai ruang kosong dari makna sakral. Sebelum menjadi masyarakat sekuler modern, kawasan ini memiliki sistem religius yang kuat, mulai dari mitologi Nordik hingga Kristen Protestan yang mendominasi kehidupan sosial selama berabad-abad.

Dalam masyarakat Nordik pra-Kristen, moralitas tidak diatur oleh hukum tertulis, melainkan oleh apa yang oleh antropolog disebut sebagai honor culture. Konsep seperti kehormatan, sumpah, kesetiaan, dan aib memiliki bobot moral yang nyata. Dewa-dewa Nordik memang digambarkan tidak sempurna secara moral, tetapi mitologi—sebagaimana dicatat oleh Mircea Eliade—tidak berfungsi sebagai teladan etika literal, melainkan sebagai kerangka simbolik untuk memahami kosmos, konflik, dan batas-batas manusia.

Ketika Kristen masuk, agama tidak hanya menggantikan mitologi lama, tetapi juga memperkuat institusionalisasi moral. Gereja menjadi pusat pendidikan, pencatatan hukum, dan pembentukan etika sosial. Dalam istilah Émile Durkheim, agama berfungsi sebagai collective conscience—kesadaran bersama yang menjaga kohesi sosial. Dengan demikian, moralitas Skandinavia modern tidak dapat dilepaskan dari sejarah panjang keberagamaannya.

2.⁠ ⁠Moralitas sebagai Produk Historis

Salah satu asumsi tersembunyi dalam pembacaan populer buku Zuckerman adalah bahwa moralitas dapat dibangun secara murni dari rasionalitas individu. Asumsi ini bertentangan dengan temuan klasik dalam sosiologi dan filsafat moral.

Durkheim menegaskan bahwa moralitas adalah fakta sosial: ia hadir sebelum individu dan memaksa individu dari luar. Alasdair MacIntyre, dalam After Virtu, bahkan menunjukkan bahwa konsep moral modern kehilangan koherensinya ketika dipisahkan dari tradisi yang melahirkannya. Nilai-nilai seperti keadilan, martabat manusia, dan kewajiban moral tidak muncul dari akal abstrak, melainkan dari narasi dan praktik sosial yang diwariskan.

Nilai-nilai yang kini dianggap universal—larangan membunuh orang tak bersalah, kewajiban menolong yang lemah, atau pentingnya kejujuran—telah lama dilatih melalui ajaran agama, hukum berbasis moral religius, dan pendidikan normatif. Filsafat moral sekuler, seperti utilitarianisme atau deontologi Kantian, muncul belakangan sebagai refleksi rasional atas nilai-nilai yang sudah hidup dalam masyarakat.

3.⁠ ⁠Moralitas Ateis dan Transmisi Sosial

Seorang ateis modern tidak memulai hidupnya dari nol secara moral. Ia lahir dalam masyarakat yang telah memiliki hukum, norma, dan sistem pendidikan. Pengetahuan tentang baik dan buruk diperoleh melalui proses sosialisasi—keluarga, sekolah, dan budaya—bukan melalui penemuan individual.

Charles Taylor, dalam A Secular Age, menjelaskan bahwa sekularisme modern bukan ketiadaan nilai religius, melainkan hasil dari proses panjang di mana nilai-nilai religius mengalami transformasi dan internalisasi. Moralitas ateis, dengan demikian, sah secara praktis, tetapi tetap merupakan produk sejarah sosial.

Hal ini tidak berarti bahwa ateis “meniru” agama secara sadar, melainkan bahwa ia hidup dalam dunia yang telah lama dibentuk oleh struktur moral religius. Moral ateis membuktikan bahwa moral dapat bertahan setelah legitimasi teologisnya melemah, tetapi tidak membuktikan bahwa moral tersebut lahir tanpa peran agama.

4.⁠ ⁠Kekeliruan Sebab-Akibat dalam Argumen Populer

Kesalahan logika yang sering muncul dalam penggunaan contoh Skandinavia adalah pembalikan sebab-akibat. Argumen yang digunakan biasanya berbunyi: karena masyarakat ini tidak religius dan tetap bermoral, maka agama tidak diperlukan untuk membangun moralitas.

Padahal, jika mengikuti pendekatan genealogis—sebagaimana disarankan oleh Nietzsche maupun MacIntyre—urutan yang lebih akurat adalah sebaliknya. Masyarakat Skandinavia dapat hidup relatif stabil tanpa agama karena ia telah melewati proses panjang pembentukan moral yang kuat sebelumnya.

Mengamati masyarakat sekuler yang stabil lalu menyimpulkan bahwa agama tidak pernah berperan sama dengan mengamati pohon besar tanpa melihat akarnya.

5.⁠ ⁠Daya Tarik Narasi “Tanpa Tuhan”

Narasi masyarakat tanpa Tuhan memiliki daya tarik psikologis, terutama bagi mereka yang memiliki pengalaman negatif dengan institusi agama. Dalam konteks ini, buku Zuckerman sering dibaca bukan sebagai studi sosiologis, melainkan sebagai pembenaran eksistensial.

Namun, seperti diingatkan oleh Max Weber, kritik terhadap institusi agama tidak serta-merta meniadakan fungsi historisnya. Membedakan antara agama sebagai institusi dan agama sebagai fondasi kultural adalah langkah penting agar kritik tidak jatuh pada simplifikasi.

6.⁠ ⁠Agama sebagai Fondasi Awal Moralitas

Mengakui peran agama dalam sejarah moralitas tidak berarti menolak kemungkinan moral sekuler. Yang perlu ditegaskan adalah bahwa, dalam sejarah manusia, agama hampir selalu berfungsi sebagai fondasi awal pembentukan moral kolektif.

Setelah fondasi tersebut kuat, masyarakat dapat melakukan rasionalisasi, sekularisasi hukum, dan diferensiasi institusi. Namun, sebagaimana diingatkan oleh MacIntyre, memutus nilai moral dari tradisinya berisiko membuat moralitas kehilangan kedalaman makna.

Penutup

Pertanyaan utama bukanlah apakah manusia dapat bermoral tanpa Tuhan. Dalam kondisi sosial tertentu, jawabannya adalah iya. Namun pertanyaan yang lebih mendasar adalah: bagaimana moral itu dibentuk, diwariskan, dan dipelihara dalam jangka panjang.

Buku Society Without God menawarkan potret menarik tentang masyarakat sekuler modern, tetapi ketika digunakan untuk menyerang agama tanpa mempertimbangkan sejarah panjang pembentukan moral, ia mudah disalahpahami. Skandinavia bukan bukti bahwa moral lahir tanpa Tuhan, melainkan contoh bagaimana moral yang telah lama dibentuk dapat bertahan ketika legitimasi religiusnya memudar.

Memahami perbedaan ini bukan pembelaan dogmatis terhadap agama, melainkan bentuk kejujuran intelektual dalam membaca sejarah moral manusia.

*) PENULIS adalah Filosof.

Rubrik      : Opini

Pos terkait