ACEH TENGAH, INFONANGGROE.COM -Putusnya jembatan di Sungai Kala Ili membuat akses utama menuju Desa Reje Payung, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, hingga kini belum pulih sepenuhnya. Jalur tersebut merupakan salah satu akses vital bagi mobilitas warga dan distribusi kebutuhan dasar. Pascabencana banjir dan longsor, masyarakat warga masih bergantung pada jembatan darurat yang hanya dapat dilalui sepeda motor dan pejalan kaki.
Satgas Bencana BWS Sumatera 1 telah menurunkan satu unit ekskavator ke alur Sungai Kala Ili untuk membantu penanganan darurat, khususnya dalam perbaikan jembatan sementara dan penataan badan sungai. Kehadiran alat berat ini diharapkan dapat membuka kembali akses yang selama ini terputus, meski belum menyentuh pembangunan jembatan permanen.
Selain jembatan, persoalan lain yang dihadapi warga adalah kondisi jalan menuju Reje Payung yang masih setengah beraspal. Sejumlah ruas jalan masih berupa kerikil dan tanah, bahkan sebelum bencana telah rawan longsor. Pascabencana, kerusakan semakin parah akibat pergerakan tanah dan timbunan material, sehingga menyulitkan kendaraan dan aktivitas warga sehari-hari.
Kondisi ini dinilai menjadi momentum penting untuk melakukan perbaikan akses secara menyeluruh. Jalan yang belum beraspal penuh tidak hanya menghambat mobilitas masyarakat, tetapi juga mempersulit pengangkutan hasil pertanian dan akses layanan dasar, termasuk pendidikan dan kesehatan.
Untuk sementara, akses warga menuju dan dari Reje Payung hanya dapat dilakukan melalui jalur darurat. Tali sling sebagai sarana penyeberangan hanya tersedia di satu titik, yang menghubungkan Desa Reje Payung dengan Desa Jamat. Jalur ini menjadi satu-satunya alternatif bagi warga, termasuk bagi 15 kepala keluarga yang saat ini terpaksa menumpang di rumah kerabat di Desa Jamat akibat rumah mereka rusak berat.
Data lapangan mencatat, Desa Reje Payung dihuni 301 jiwa dari 89 kepala keluarga. Tidak terdapat korban jiwa dalam bencana tersebut, namun dampak kerusakan cukup signifikan. Sebanyak 23 rumah mengalami rusak berat dan 66 lainnya rusak sedang hingga ringan. Infrastruktur publik, termasuk jembatan dan jalan, menjadi sektor yang paling terdampak.
Di sektor pendidikan, kegiatan belajar mengajar masih berlangsung dalam keterbatasan. SD Negeri 10 Linge beroperasi di sekolah darurat, sementara fasilitas SMP belum dapat digunakan secara optimal. Listrik baru kembali tersedia sekitar satu minggu setelah bencana dengan mengandalkan genset, dan akses internet dibantu perangkat Starlink dari relawan.
Sektor pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi warga juga terdampak serius. Dari sekitar 50 hektar lahan sawah, kini hanya sekitar 3 hektar yang masih dapat dimanfaatkan. Kerusakan lahan dan irigasi membuat sebagian besar warga kehilangan sumber pangan dan pendapatan sementara waktu.
Hingga kini, pemerintah telah menyampaikan rencana pembangunan hunian sementara dan hunian tetap bagi warga terdampak. Namun bagi masyarakat Reje Payung, pemulihan akses jalan dan jembatan dinilai sebagai kebutuhan paling mendesak, mengingat seluruh aktivitas sosial dan ekonomi masih bergantung pada jalur darurat yang rawan dan terbatas.
Untuk informasi Relawan Aceh Tangguh di https://s.id/acehtangguh dan donasi bantuan, dapat menghubungi: Yulfan: +62 811-6883-917 dan Maulana: +62 821-6167-7331. (Donny Utoyo/Tim Relawan Aceh Tangguh)
#RelawanAcehTangguh #AcehTangguh #BeudohMeusaboh #BangkitBersama






