ACEH TAMIANG, INFONANGGROE.COM – Relawan Aceh Tangguh, Yulfan, menyampaikan surat terbuka kepada Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melalui akun Facebook pribadinya. Surat itu berisi kekecewaan terhadap sikap dan pernyataan SBY terkait penanganan bencana yang kembali melanda sejumlah wilayah di Aceh. Yulfan menilai, pernyataan SBY kali ini tidak mencerminkan kepemimpinan kemanusiaan yang pernah ditunjukkan saat tsunami 2004.
Dalam surat tersebut, Yulfan memperkenalkan dirinya sebagai penyintas tsunami Aceh. Saat bencana besar itu terjadi, ia berusia 21 tahun dan tinggal di Lhoknga, salah satu wilayah yang paling parah terdampak. Ia kehilangan rumah dan beberapa anggota keluarga. Yulfan mengaku sangat menghargai keputusan dan langkah cepat SBY kala itu yang mengubah operasi militer menjadi operasi kemanusiaan serta membuka pintu selebar-lebarnya bagi bantuan internasional, meski Aceh masih berada dalam situasi konflik bersenjata.
Namun, menurut Yulfan, situasi bencana yang kini dihadapi Aceh memiliki dampak yang secara sosial hampir serupa dengan tsunami, meski jumlah korban berbeda. Akses terputus, masyarakat kelaparan, dan banyak warga kehilangan tempat tinggal. Dalam kondisi itu, ia mengaku menunggu pernyataan dan bahkan kehadiran langsung SBY, berharap pengalaman penanganan tsunami 2004 dapat menjadi masukan berharga bagi pemerintah saat ini. “Saya menunggu pernyataan Bapak berhari-hari. Namun ketika akhirnya membaca pernyataan itu, saya kecewa,” tulis Yulfan.
Kekecewaan itu terutama diarahkan pada pernyataan SBY yang mengapresiasi kinerja pemerintah. Bagi Yulfan, apresiasi tersebut terasa hampa bagi korban dan relawan di lapangan. Ia membandingkan lambannya birokrasi dan buruknya koordinasi penanganan bencana saat ini dengan kepemimpinan tegas yang pernah ditunjukkan SBY dua dekade lalu. Yulfan juga menyoroti tidak adanya kritik atau arahan konkret dari SBY untuk memperbaiki kinerja penanganan bencana, padahal ia memiliki otoritas moral dan pengalaman panjang dalam situasi krisis nasional.
Surat itu ditutup dengan gambaran kondisi lapangan yang masih memprihatinkan. Yulfan menulis dari Tanjung Gelumpang, Kecamatan Sekarak, Aceh Tamiang, wilayah terisolir yang hanya dapat dijangkau sekitar 2,5 jam perjalanan sungai. Ia menyebut masih banyak tenda bantuan kosong, logistik yang tidak dapat dimanfaatkan, serta wilayah yang gelap gulita akibat listrik belum pulih. “Yang kami butuhkan bukan pernyataan seorang politisi, melainkan suara seorang manusia yang pernah berdiri paling depan dalam kerja-kerja kemanusiaan,” tulisnya.
Berikut surat terbuka Yulfan yang dikutip dari akun Facebook pribadinya:
Saya Yulfan, saat tsunami 2004 saya berumur 21 tahun. Saya berasal dari Lhoknga, salah satu wilayah yang paling parah terdampak. Saya kehilangan rumah dan beberapa anggota keluarga. Kampung saya luluh lantak, hanya masjid dekat rumah saya yang masih tegak. Masjid itu kemudian dikunjungi banyak pihak, termasuk Bill Clinton dan Kofi Annan (Sekjen PBB saat itu).
Saya sangat menghargai apa yang Bapak lakukan saat itu. Respons yang cepat, kebijakan yang tepat, dan prinsipnya, menyelamatkan sebanyak mungkin warga yang terdampak, menyembuhkan yang luka, merelokasi yang hidup, serta mengundang komunitas internasional untuk membantu para penyintas. Padahal kita tahu, saat itu Aceh masih dalam konflik bersenjata. Namun Bapak benar-benar mengesampingkan urusan politik, mengubah operasi perang menjadi operasi kemanusiaan. Itu sangat luar biasa.
Kini, saat Aceh mengalami hal serupa, kerusakan, akses terputus, masyarakat kelaparan dan kehilangan tempat tinggal, secara umum persis seperti tsunami, meski jumlah korbannya berbeda. Dampak yang dirasakan sama, bahkan lebih buruk karena kami merasa sendiri. Secara pribadi, saya menunggu pernyataan Bapak berhari-hari. Saya percaya, pengalaman Bapak menangani tsunami 2004 bisa menjadi masukan berharga untuk pemerintah sekarang, untuk Presiden Prabowo, para menteri, dan badan penanggulangan bencana. Saya tidak hanya menunggu pernyataan, tetapi juga kedatangan Bapak untuk melihat langsung.
Sekitar dua hari lalu, saya baru bisa membaca pernyataan Bapak di media karena di wilayah saya listrik dan internet masih terbatas. Namun, saya kecewa. Apa yang Bapak sampaikan jauh dari harapan saya.
Kenapa?
1. Bapak menyatakan ‘mengapresiasi kerja besar pemerintah’. Apresiasi Bapak itu terdengar hampa bagi kami di garis depan. Semangat dan pembelaan Bapak mengalir deras kepada kolega Bapak, Presiden Prabowo, sementara kami, korban dan relawan, hanya jadi latar belakang statemen yang politis. Padahal, langkah pemerintah saat ini, dengan birokrasi yang lamban dan koordinasi yang kacau, jauh berbeda dengan langkah cepat dan tegas yang dulu Bapak ambil. Seolah, demi menjaga harmoni koalisi dan posisi AHY dalam kabinet, Bapak memilih untuk membela kekuasaan, bukan membela kebenaran.
2. Bapak juga menyerukan agar kita bersatu dan tidak menyisakan energi untuk saling menyalahkan. Kami ingin bersatu, Bapak. Tetapi bagaimana mungkin persatuan itu terwujud ketika tidak ada satu pun arahan untuk perbaikan? Mengapa Bapak tidak menggunakan otoritas moral dan pengalaman Bapak untuk memberi kritik yang jujur dan arahan langsung, untuk membenahi birokrasi penanganan bencana yang lamban, merespons keterlambatan distribusi bantuan, atau sekadar menyentil para menteri dan elit yang tampak kehilangan empati? Bapak mengatakan, “menangani bencana tidak mudah.” Kami sepakat. Namun kami juga mengingat dengan jelas bahwa pada tahun 2004, Bapak membuktikan hal yang “tidak mudah” itu dapat diatasi dengan kepemimpinan tegas, komando yang jelas, pemangkasan birokrasi, dan prioritas mutlak pada penyelamatan nyawa manusia. Yang kami sesalkan bukan karena situasi ini sulit, Bapak, melainkan karena ketiadaan langkah-langkah konkret yang dulu justru Bapak contohkan sendiri. Kami tidak melihat kepemimpinan lapangan yang terkoordinasi, tidak merasakan urgensi yang sama, dan tidak mendengar suara Bapak, sebagai pemimpin yang pernah berhasil dalam krisis besar, untuk mengoreksi cara kerja negara yang kini terasa tumpul. Jika memang tidak mudah, mengapa Bapak tidak menyampaikan secara terbuka bagaimana membuatnya lebih mudah berdasarkan pengalaman Bapak, alih-alih sekadar mengapresiasi “kerja berat” yang pada kenyataannya justru paling berat dirasakan oleh para korban, bukan oleh para penyelenggara negara?
Bagaimana memposisikan kemanusiaan di atas urusan politik? Bapak mungkin melihat keringat Presiden Prabowo yang datang berkali-kali, namun di lapangan, kami tetap merasa sendiri. Bapak mungkin melihat keringat para tentara yang bekerja keras. Namun, apakah Bapak juga melihat tenda-tenda kosong BNPB yang tak kunjung terisi bantuan? Atau tumpukan beras bantuan yang tak bisa dimasak karena tak ada air bersih? Sebagian wilayah-wilayah yang gelap gulita karena listrik tak kunjung menyala?
Kami meyakini Bapak masih memiliki ruang dan kemampuan untuk menjelaskan serta mendukung kerja Presiden. Namun pada titik ini, yang paling dibutuhkan bukanlah pembelaan terhadap kepemimpinan, melainkan keberpihakan yang jujur kepada rakyat yang hingga kini masih terjebak dalam puing-puing bencana. Yang kami perlukan adalah keberanian untuk menyampaikan kenyataan apa adanya, bukan narasi yang disusun rapi, tetapi realitas pahit yang dialami masyarakat di lapangan.
Kami mengajak Bapak untuk sekali lagi memilih jalan yang benar, meskipun tidak selalu menjadi jalan yang mudah. Kami tidak sedang membutuhkan pernyataan seorang politisi, melainkan suara seorang manusia yang pernah berdiri paling depan dalam kerja-kerja kemanusiaan. Sosok yang berani menggambarkan kondisi sebenarnya, tanpa simbol kekuasaan dan tanpa kepentingan, lalu meletakkannya dengan jujur di hadapan nurani publik.
Saya menulis ini di sela-sela membantu masyarakat Tanjung Gelumpang, Kecamatan Sekarak, Aceh Tamiang, wilayah terisolir yang harus ditempuh 2,5 jam via sungai. Mohon maaf tulisan ini singkat, BBM genset kami hampir habis, dan saya harus kembali menemani anak-anak yang sekolahnya terendam lumpur.
Sekian surat dari tengah lumpur dan keprihatinan yang tak semua orang mau tempuh.
Yulfan
Relawan Aceh Tangguh






