Sekerak Terisolasi Pascabanjir, Relawan Aceh Tangguh Gerak Cepat Buka Akses

Sekerak Terisolasi Pascabanjir, Relawan Aceh Tangguh Gerak Cepat Buka Akses
Tim Relawan Aceh Tangguh, Rabu (10/12/2025). Foto : Wahyu

ACEH TAMIANG, INFONANGGROE.COM – Kecamatan Sekerak, salah satu wilayah pedesaan di Kabupaten Aceh Tamiang, menjadi kawasan yang terdampak serius pascabanjir besar yang melanda daerah itu pada 26 November 2025. Dengan luas 257,95 kilometer persegi dan dihuni sekitar 8.150 jiwa, kawasan yang terdiri dari 14 desa ini dikenal memiliki akses terbatas serta infrastruktur yang minim.

Dalam kondisi normal, sebagian wilayah Sekerak hanya dapat dijangkau melalui jalur darat sempit dengan jembatan kecil, dan layanan dasar di desa-desa pun belum merata. Namun, setelah banjir, kondisi ini semakin parah: akses menuju sejumlah desa terganggu, jalur distribusi bantuan terputus, dan warga terpaksa menghadapi hari-hari sulit di tengah lumpur yang menutupi permukiman.

Bacaan Lainnya

Menurut Yulfan dari Komunitas Tikar Pandan, yang tergabung dalam Tim Relawan Aceh Tangguh, banyak permukiman di tepian sungai kecil yang membelah kecamatan mengalami kerusakan parah. “Banyak rumah warga rusak tersapu arus atau dipenuhi lumpur. Sebagian warga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih tinggi atau bertahan sementara di balai desa,” ujarnya, Kamis (11/12/2025).

Warga yang kembali ke permukiman menemukan bau menyengat di beberapa titik, diduga berasal dari bangkai ternak yang hanyut atau tertimbun lumpur. Ancaman kesehatan pun muncul, karena wilayah Sekerak hanya memiliki poskesdes dan puskesmas dengan jarak yang cukup jauh antar-desa. “Minimnya tenaga medis dan keterbatasan obat membuat risiko penyakit seperti diare, infeksi kulit, dan gangguan pernapasan meningkat,” kata Yulfan.

Ketersediaan air bersih menjadi masalah paling mendesak. Sumur warga tercemar lumpur, sementara aliran sungai masih dipenuhi sampah dan material banjir. Desa-desa pedalaman yang tidak memiliki sistem air bersih terpusat kini mengandalkan air hujan atau menunggu distribusi dari luar wilayah.

Lanjutnya, dampak banjir tidak hanya soal rumah dan kesehatan. Kerusakan lahan pertanian membuat ekonomi warga terpukul. Sebagian besar penduduk Sekerak bekerja sebagai petani, pekebun, dan peternak. Sawah, kebun, dan kandang terendam banjir, sehingga banyak warga kehilangan mata pencaharian.

Sejumlah desa seperti Sekerak Hulu, Sekerak Kanan, dan Kampung Baru sempat terisolasi akibat jalan rusak dan jembatan kecil yang terputus. Di beberapa lokasi, bantuan logistik hanya bisa dikirim menggunakan perahu atau kendaraan khusus. Yulfan menegaskan bahwa dukungan kemanusiaan sangat dibutuhkan untuk mempercepat pemulihan.

“Sekerak membutuhkan distribusi air bersih, makanan siap konsumsi, layanan kesehatan, serta dukungan pembersihan rumah dan fasilitas umum, sementara banyak warga kehilangan mata pencaharian sehingga pendampingan ekonomi menjadi sangat mendesak. Pascabanjir, kebutuhan lain yang tak kalah penting mencakup asesmen kerusakan yang cepat, obat-obatan, peralatan pembersihan seperti cangkul, karung, selang, dan APD, serta perlengkapan khusus untuk bayi dan perempuan, sementara dukungan psikososial bagi anak-anak menjadi prioritas untuk membantu mereka pulih dari trauma akibat bencana,” katanya.

Tim Aceh Tangguh merespons situasi ini melalui dua gelombang. Gelombang pertama, pada 10 Desember 2025, terdiri dari enam personel yang fokus membuka jalur, melakukan koordinasi dengan kampung dan kecamatan, serta membawa logistik awal. Gelombang kedua, sehari kemudian, diperkuat sepuluh personel untuk mendirikan posko, menyalurkan logistik, dan memberikan layanan langsung kepada warga terdampak.

“Fokus tugas tim gelombang kedua mencakup pembukaan jalur ke desa-desa terdampak, pendirian dapur umum, pembersihan rumah dan fasilitas umum, distribusi logistik seperti makanan, air, selimut, kebutuhan anak dan perempuan, serta obat-obatan dasar, hingga penyediaan layanan dan kegiatan bermain untuk anak-anak. Tim juga membawa peralatan teknologi dan energi darurat, termasuk Starlink, solar panel berdiri, genset, power station, dan access point Ruijie, untuk mendukung komunikasi dan operasional di lapangan,” jelasnya.

Posko rintisan Aceh Tangguh yang berdiri di pusat Kecamatan Sekerak menjadi pusat koordinasi, pendataan, komunikasi, dan distribusi logistik, menjangkau sekitar 12 desa terdampak banjir. Posko ini diharapkan mempercepat penanganan darurat dan memastikan bantuan sampai ke warga yang membutuhkan.

Untuk informasi Relawan Aceh Tangguh di https://s.id/acehtangguh dan donasi bantuan, dapat menghubungi: Yulfan: +62 811-6883-917 dan Maulana: +62 821-6167-7331. #relawanacehtangguh.

Pos terkait