Teungku dan Marwah Keilmuan Aceh: Sebuah Renungan di Hari Guru Nasional

Opini Nanggroe, INFONANGGROE.com – Hari Guru Nasional setiap tanggal 25 November bukan hanya perayaan profesi pendidik, melainkan ruang refleksi terhadap sejarah panjang pendidikan di Indonesia. Dalam konteks Aceh, identitas guru memiliki kedalaman makna yang lebih kompleks dan khas. Guru di Aceh bukan sekadar pendidik akademik, tetapi penjaga marwah keilmuan, penata moral masyarakat, dan jembatan antara tradisi serta perubahan zaman. Sosok itu dikenal dengan satu gelar yang sarat nilai: Teungku.

Peranan teungku (Tgk) dalam sejarah Aceh tidak dapat dipisahkan dari struktur sosial, sistem pendidikan tradisional, dan perjalanan panjang peradaban Aceh Darussalam. Melalui peranan ilmiah dan spiritual mereka, Aceh membangun tradisi kecendekiaan yang melahirkan ulama, pemimpin, negarawan, penulis, hingga pembaru sosial. Dalam momen Hari Guru, renungan terhadap peran teungku menjadi penting agar generasi kini memahami akar historis dan etika keilmuan yang telah diwariskan.

Bacaan Lainnya

1. Teungku sebagai Fondasi Peradaban Keilmuan Aceh

Sejak abad ke-13 hingga masa keemasan Aceh Darussalam, dayah berfungsi sebagai institusi pendidikan tertinggi di Nusantara. Para pengasuh dan pengajarnya teungku memiliki peranan sebagai ulama-intelektual yang mengajarkan tidak hanya fikih, tauhid, dan tasawuf, tetapi juga astronomi, logika, retorika, dan tata pemerintahan (siyasah). Mereka memadukan disiplin ilmu Islam dengan konteks lokal, sehingga menciptakan model pendidikan yang membumi sekaligus kosmopolit.

Tradisi ini melahirkan tokoh-tokoh besar seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin al-Sumatrani, Nuruddin ar-Raniry, dan Syekh Abdurrauf as-Singkili. Mereka tidak hanya ulama, tetapi juga cendekia yang menulis karya monumental—banyak di antaranya menjadi rujukan dunia Melayu-Islam hingga hari ini. Semua itu menunjukkan bahwa teungku adalah fondasi utama lahirnya peradaban intelektual Aceh.

2. Teungku sebagai Guru, Penjaga Moral, dan Penata Komunitas

Berbeda dengan model guru modern yang lebih terfokus pada ruang kelas, peranan teungku memiliki spektrum sosial yang lebih luas. Ia mengajarkan ilmu, memandu akhlak, menyelesaikan sengketa, dan bahkan memberikan fatwa atas persoalan sosial. Dalam masyarakat Aceh tradisional, teungku di meunasah adalah pusat pengetahuan dan moral masyarakat.

Kehadiran teungku bukan hanya memuliakan ilmu, tetapi juga menjaga keseimbangan sosial melalui tiga fungsi utama:

Fungsi Edukatif

Mengajarkan agama, membaca Al-Qur’an, membentuk karakter, dan mengenalkan adab dalam kehidupan. Pembelajaran berlangsung dari meunasah hingga dayah sebagai jenjang tertinggi.

Fungsi Kultural

Menyampaikan nasihat melalui hikayat, syair, atau tradisi lisan Aceh. Teungku sering menjadi penjaga tradisi lokal yang sarat nilai, seperti hukôm ngon adat lagee zat ngon sifeut.

Fungsi Sosial-Moral

Menjadi penengah konflik, penasihat dalam adat, dan panutan dalam kehidupan berkomunitas. Perilaku moral teungku adalah “kurikulum hidup” yang ditiru masyarakat.

Dalam konstruksi sosial seperti ini, teungku tidak hanya mengajar, tetapi membentuk cara berpikir dan cara hidup generasi Aceh.

3. Teungku dalam Arus Kolonialisme: Guru sebagai Penjaga Harga Diri Bangsa

Ketika Belanda menyerbu Aceh tahun 1873, teungku menjadi figur pertama yang berdiri di garis depan perlawanan. Peranan ini menunjukkan bahwa guru di Aceh bukan pemilik wacana akademik semata, tetapi pembela martabat. Mereka menggerakkan masyarakat dengan kekuatan ilmu dan moral.

Tokoh seperti Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman, Teungku Chik di Pasi, Teungku Chik Kutakarang, dan banyak ulama lainnya memperlihatkan bagaimana pendidikan dapat bertemu dengan perjuangan. Mereka mendidik generasi agar memahami bahwa ilmu harus dibela dengan tindakan. Karena itu, kolonial Belanda mencatat ulama Aceh sebagai “pemimpin perang yang paling sulit ditundukkan”.

Dari konteks ini, tampak jelas bahwa teungku Aceh berfungsi sebagai:

guru yang memerdekakan,

pendidik yang menumbuhkan keberanian,

intelektual yang tidak membiarkan masyarakatnya kehilangan harga diri.

4. Teungku dan Transformasi Pendidikan Aceh Modern

Abad ke-20 menjadi fase di mana pendidikan Aceh menghadapi tantangan baru: masuknya sistem sekolah modern dan modernisasi sosial. Dalam fase ini, banyak teungku tampil sebagai pembaharu pendidikan, di antaranya Tgk. Muhammad Hasan Krueng Kalee, Tgk. Daud Beureueh, Tgk. Abdullah Ujong Rimba, dan Prof. Ali Hasjmy. Mereka menggabungkan literasi agama dan pengetahuan umum, mendorong budaya menulis, serta memperkuat pendidikan formal.

Selain mereka, figur seperti Ayah Hamid Samalanga memperlihatkan wajah guru Aceh yang moderat dan progresif. Beliau menekankan bahwa mengajar harus memadukan kedalaman ilmu, keikhlasan hati, dan disiplin etika. Kontribusi tokoh-tokoh ini membuktikan bahwa transformasi pendidikan Aceh selalu dipandu oleh teungku yang mampu membaca zaman.

5. Relevansi Peranan Teungku untuk Guru Aceh Masa Kini

Meskipun dunia digital mengubah pola belajar, peranan teungku tetap relevan dan bahkan semakin penting. Ada beberapa nilai yang dapat diadaptasi oleh guru Aceh masa kini:

a. Integritas keilmuan

Teungku mengajarkan bahwa ilmu bukan dagangan, tetapi amanah. Guru modern harus menjaga integritas ilmu di tengah maraknya plagiarisme, disinformasi digital, dan budaya instan.

b. Keteladanan moral

Tradisi Aceh menempatkan akhlak di atas semua prestasi akademik. Guru masa kini perlu membangun karakter siswa melalui perilaku, bukan hanya instruksi.

c. Pembelajaran berbasis nilai lokal

Mengajar sejarah lokal, hikayat, adat, dan tokoh Aceh menjadi kunci untuk menjaga identitas generasi muda. Pendidikan yang tercerabut dari akar budaya akan kehilangan makna.

d. Keberanian intelektual

Teungku adalah figur yang berani bersikap terhadap ketidakadilan. Guru Aceh perlu memupuk keberanian moral agar pendidikan menjadi jalan menuju kemanusiaan dan keadilan sosial.

Oleh karena itu hari Guru Nasional mengingatkan kita bahwa profesi guru adalah profesi peradaban. Dalam narasi sejarah Aceh, marwah keilmuan dibangun oleh para teungku yang tidak hanya mengajar, tetapi membentuk masyarakat. Dari dayah hingga sekolah modern, dari meunasah hingga kampus, jejak teungku menjadi pijakan penting yang harus dirawat.

Mengambil inspirasi dari keteguhan ulama besar Aceh, keberanian para teungku dalam perjuangan, serta keluhuran moral pendidik seperti Ayah Hamid Samalanga, generasi guru Aceh masa kini memiliki modal historis dan spiritual untuk meneruskan cahaya ilmu. Dengan menjaga marwah keilmuan, guru Aceh akan tetap menjadi suluh yang menerangi perjalanan generasi kini dan mendatang.

Penulis; Tgk. Avicenna Al Maududdy, M.Hum
Dosen Tetap Prodi Pengembangan Masyarakat Islam di Universitas Islam Al-Aziziyah Indonesia (UNISAI) Samalanga, Kabupaten Bireun, Aceh

Pos terkait