One Piece, Perlawanan Perayaan Fiksi

One Piece, Perlawanan Perayaan Fiksi
Yulfan, Praktisi Hukum

*) Oleh: Yulfan

Menjelang  Hari Kemerdekaan ke-80, di banyak sudut negeri berkibar bukan hanya Merah Putih, tapi juga bendera tengkorak bertopi jerami, Jolly Roger dari anime One Piece. Ia bukan lambang makar, tapi ekspresi simbolik dari generasi muda yang resah, kecewa, dan mungkin mulai putus asa pada narasi kemerdekaan yang terasa seremonial belaka.

Dalam dunia One Piece, Jolly Roger melambangkan kebebasan, solidaritas, dan perlawanan terhadap sistem yang korup. Dalam konteks Indonesia, pengibarannya mencerminkan kegagalan elite membaca keresahan anak muda, ketimpangan ekonomi, dan krisis kepercayaan. Ini bukan sekadar tren budaya pop, melainkan kritik sosial yang hadir dalam bahasa baru, bahasa simbol.

Budaya populer kini melampaui fungsi hiburan. Ia menjadi ruang pelarian dan perlawanan. Ketika simbol resmi terasa jauh dari realitas, anak muda mencari simbol alternatif yang lebih “relatable”. Dalam Luffy dan krunya, mereka melihat kepemimpinan yang jujur, egaliter, dan berpihak pada yang lemah, berbanding terbalik dengan dunia nyata yang birokratis, angkuh, dan penuh kepura-puraan.

Bukan berarti anak muda kehilangan nasionalisme. Justru sebaliknya, mereka mendambakan makna yang lebih jujur dari sekadar lomba tujuhbelasan dan pidato resmi. Ketika bendera bajak laut dikibarkan di bulan kemerdekaan, itu bukan ancaman, melainkan panggilan untuk didengarkan. Dan mungkin, karena Luffy meski fiktif, tetap membawa satu hal yang makin langka di dunia nyata, integritas.

Mungkin, si pengibar hanya ingin menyampaikan satu pesan sederhana, bahwa kemeriahan perayaan kemerdekaan tidak berbanding lurus dengan realitas hidup sehari-hari. Kalangkaan bahan pokok, pelayanan kesehatan yang buruk, jaminan pendidikan yang lemah, serta rumitnya distribusi gas, BBM, dan Listrik, semua masih menjadi cerita lama, bahkan di tahun ke-80 kemerdekaan. Alih-alih menjadi bagian dari seremoni penuh formalitas, mereka memilih menyampaikan keresahan melalui symbol, bendera bajak laut.

Fenomena ini tidak lahir dalam ruang hampa. Setelah gerakan-gerakan besar ditaklukkan oleh kekuasaan-baik melalui kooptasi, pembelahan, maupun represi, bukan berarti perlawanan padam. Ia justru bertransformasi dalam bentuk-bentuk kecil dan simbolik. Ia mempreteli lambang resmi dan menggantinya dengan tokoh fiksi. Satu pertanyaan penting muncul, mengapa One Piece-sebuah animasi Jepang, tiba-tiba menjadi tempat pelarian simbolik bagi anak-anak bangsa? Mungkin karena Luffy dan krunya mewakili kepemimpinan yang langka, jujur, egaliter, berani, dan berintegritas. Ironisnya, karakter-karakter fiksi itu tidak ditemukan dalam kelakuan pejabat negeri ini, atau dalam teladan mereka.

Apakah negara akan menjawab simbol ini dengan penangkapan, tuduhan makar, atau pendekatan represif? Itu adalah respons yang keliru. Penanganan yang hanya menyasar pada dampak tanpa menyelami akar munculnya imajinasi perlawanan justru mencerminkan cara pikir otoritarian. Negara yang alergi terhadap simbol adalah negara yang kehilangan daya dengar terhadap warganya sendiri.

Pertanyaan yang tak bisa lagi ditunda, ke mana perginya suara-suara besar yang dulu lantang menyuarakan jerit rakyat? Gerakan mahasiswa, kaum intelektual, organisasi masyarakat sipil, semua yang dulu berdiri di garis depan perlawanan, kini redup dalam sunyi. Mereka tak lenyap, tapi melebur dalam administrasi, proposal kerja sama, bimtek, pemberdayaan, lomba-lomba bertema nasionalisme.

Naskah-naskah perlawanan yang dulu ditulis dengan darah dan keberanian kini berubah jadi format RAB. Simbol-simbol perjuangan tak lagi menghantam pintu kekuasaan, melainkan sibuk memenuhi lembar pertanggungjawaban anggaran. Bukan karena rakyat tak lagi menderita, tapi karena keberanian perlahan dikalahkan oleh kenyamanan yang diangsur lembut lewat dana kegiatan dan jargon kolaborasi.

One Piece bukan sekadar cerita fiksi, melainkan simbol perlawanan anak muda yang menggugat kemerdekaan seremonial tanpa makna. Namun, di tengah semangat itu, muncul tawaran dana yang seharusnya mendukung, tapi malah menjebak gerakan kritis dalam ruang seremonial yang steril dan penuh kepentingan.

Tawaran dana tersebut menjadi jerat yang mengerdilkan keberanian, mengubah aksi nyata menjadi formalitas kosong. Simbol perlawanan seperti bendera bajak laut pun terjepit, kehilangan makna asli di antara gemerlap janji-janji yang lebih memuaskan mereka yang ingin menenangkan ketidakpuasan tanpa benar-benar mendengarkan.

Menarik melihat bagaimana gerakan-gerakan kecil ini justru lebih cerdik membaca momentum. Mereka tidak menggelar orasi. Mereka tidak membuat pernyataan sikap. Mereka cukup mengibarkan simbol. Dan negara pun gelisah. Satu gambar mampu mengguncang lebih dari seribu kata. Tapi justru di situlah letak panggilan untuk mendengarkan.

Bendera bajak laut yang berkibar di bulan kemerdekaan bukanlah ancaman bagi negara. Ia adalah undangan untuk merenung bersama. Bahwa narasi besar tentang kemerdekaan harus dikembalikan ke kehidupan sehari-hari rakyat, bukan sekadar parade, lomba panjat pinang, dan pidato resmi. Sebelum Merah Putih kehilangan makna, kita harus berani mendengar suara yang datang dari tiang bambu, dari dinding kos mahasiswa, dari truk jalanan. Bahkan jika itu dalam bentuk tengkorak bertopi jerami.

Namun, mari kita hentikan sejenak ilusi bahwa “anak muda” adalah satu entitas monolitik yang bergerak serempak dalam barisan suara dan niat. Tidak semua pengibar bendera Jolly Roger itu pahlawan perlawanan, ada yang sekadar ikut-ikutan tren, ada yang mungkin hanya iseng menantang arus kebosanan. Membuat generalisasi atas keberagaman mereka sama saja dengan mengerdilkan kompleksitas emosi dan keresahan yang seharusnya kita pahami lebih dalam.

Lalu, alih-alih berteriak meminta negara “mendengarkan” yang jelas-jelas sudah seringkali diabaikan dengan rapi, mungkin sudah saatnya kita berhenti berpura-pura bahwa suara anak muda hanya soal didengar. Bukankah lebih nikmat menonton drama konsultasi yang berakhir di meja arsip daripada membuka ruang partisipasi nyata? Mari kita tuntut negara menyediakan kanal ekspresi yang bebas dari sensor moral yang sok suci dan birokrasi berbelit yang lebih lihai dari labirin mitos. Beri mereka tempat berteriak tanpa harus dicap subversif, tanpa harus jadi kambing hitam kemunafikan institusi.

Di zaman ketika simbol fiktif seperti Jolly Roger terasa lebih jujur dan berani daripada lembaga-lembaga negara yang katanya mewakili rakyat, bukan pelarangan yang dibutuhkan, melainkan pemulihan kepercayaan yang telah terkubur dalam prasangka dan kepura-puraan. Dialog yang sebenarnya, bukan retorika kosong, dan keberanian untuk berubah, bukan sekadar menyembunyikan kegagalan di balik tirai aturan dan larangan. Karena, jika yang ada hanya ketakutan dan larangan, jangan harap bendera fiksi itu akan pernah turun.

Di tengah riuh perayaan kemerdekaan yang dipenuhi protokol dan tawaran dana seremonial kepada kelompok-kelompok yang mestinya menjadi ujung tombak kritik sosial, bendera bajak laut One Piece tetap berdiri sebagai simbol kejujuran dan keberanian. Ia menantang narasi mapan dan mengingatkan bahwa perlawanan sejati tak bisa dibungkam oleh uang atau ritual kosong, melainkan harus hidup di setiap denyut rakyat yang tak mudah dijinakkan oleh kepentingan sesaat.

*) PENULIS adalah Praktisi Hukum

Rubrik      : Opini

Pos terkait