*) Oleh: Yulfan
Langit Aceh masih gelap ketika azan Subuh pertama berkumandang. Di masjid-masjid, para mu’takifin berselimut kain suci, sementara di luar, di hamparan sawah yang basah oleh embun pagi, seorang petani sudah membungkuk-bungkuk seperti sedang ruku’ kepada tanah. Tangannya yang pecah-pecah menggenggam bibit padi seperti tasbih, setiap butir yang ditanamnya adalah zikir yang jatuh ke lumpur.
Shalat yang tersembunyi dalam gerak, dermaga Lhoknga, seorang nelayan tua melilitkan tali tambat pada tiang boat. Janggutnya yang sudah memutih bergoyang ditiup angin laut ketika dia melafalkan doa “Bismillahi majreha wa mursaha….” Boatnya yang reyot itu menjadi mihrab terapung. Setiap ombak yang menerpa lambung boat adalah tasbih dari samudera. Di daratan, asap mesin diesel tukang becak mengepul seperti dupa pagi, sementara sopirnya yang kurus mengunyah dzikir antara tarikan gas dan rem.
Mushalla-mushalla tak kasat mata, setiap sudut adalah tempat suci, meja jahit penenun kerawang di Takengon yang berderak-derak seperti suara tasbih, lesung penumbuk padi di Pidie yang berdentum-dentum bagai genderang perang sabil, Gerobak kopi keliling di Banda Aceh yang berderit-derit mengiringi lantunan ayat kursi. Mereka semua adalah Muadzin yang tak bertiang minaret, mengumandangkan keesaan Tuhan melalui derap kehidupan.
Sahur-sahur yang tak bertepi, warung-warung kopi tepi jalan, para penjaga malam menyeruput jahe hangat. Mereka adalah ahli tahajud yang tak sempat sujud panjang karena harus menjaga gerobak dagangan. Ketika orang-orang di masjid bersiap untuk witir, di pasar Peunayong, para penjual ikan sudah membuka lapak dengan “bismillah” yang menggema di antara bau amis dan garam. Seorang ibu penjual kue tradisional di Simpang Surabaya membuka dulang-dulangnya sambil berbisik “Ya Allah, jadikan rezekiku ini berkah seperti malam Lailatul Qadar.” I’tikaf dalam Setiap Butir Keringat, kebun-kebun kopi Gayo, para pemetik berjalan di antara pohon seperti tawaf. Jari-jari mereka yang hitam oleh tanah memetik buah merah dengan ritme tertentu, satu butir untuk keluarga, satu butir untuk tetangga, satu butir untuk sedekah. Di kejauhan, suara mesin penggilingan berdentum seperti beduk, seorang ibu penenun di Bireuen menenun benang emas songketnya sambil matanya berkaca-kaca, “Setiap helai benang ini adalah tasbihku.”
Magrib di pelabuhan, ketika matahari terbenam di ujung Krueng Raya, seorang nahkoda tua menatap laut sambil mengunyah kurma basi. Di masjid, orang-orang bersiap berbuka dengan hidangan mewah, sementara dia hanya punya segenggam kacang dan air zamzam botolan. Tapi senyumnya lebih terang dari lampu-lampu boat, “Inilah jamuan Allah untuk hamba-Nya yang fakir.”
Mereka semua adalah sufi tanpa jubah, ahli ibadah yang tak punya waktu untuk berhenti beribadah. Karena di Tanah Rencong ini, bekerja dengan ikhlas adalah i’tikaf yang paling hakiki, i’tikaf yang tak tercatat di buku, tetapi terukir di Lauh Mahfuz. Dan ketika bulan Ramadan pergi, sajadah-sajadah mereka tetap terbentang: di pematang sawah, di geladak boat, di atas gerobak tua, selamanya menjadi tempat sujud yang tak pernah sepi. Di antara gemerlap lampu masjid yang dipenuhi jamaah ber-i’tikaf, di luar sana, di sudut-sudut kota yang jarang tersentuh cahaya, ada orang-orang yang juga berjuang mendekatkan diri kepada-Nya. Mereka tak bisa berdiam di rumah ibadah, tak punya waktu sepuluh hari untuk mengasingkan diri dari dunia. Mereka harus bekerja menyusuri pasar, mengais sampah, menarik gerobak, atau memikul beban di pelabuhan. Apakah mereka kehilangan hak untuk ber-i’tikaf?
Islam adalah agama yang tidak pernah membedakan hamba berdasarkan kelas sosial. Ia adalah rahmat bagi semua, terutama bagi mereka yang terpinggirkan. I’tikaf, dalam maknanya yang paling hakiki, bukan sekadar duduk bersimpuh di masjid, melainkan upaya menghadirkan Allah dalam setiap tarikan napas, dalam setiap langkah kaki yang lelah. Jika seorang pemulung mengais rezeki sambil berzikir, jika seorang buruh pabrik melaksanakan Shalat di sela jadwal kerjanya yang padat, jika seorang ibu mengayunkan sendok di dapur sambil berdoa, bukankah itu juga i’tikaf?
Suatu ketika Abu Hurairah RA melaksanakan ibadah i’tikaf di Masjid Nabawi. Ia tertarik ketika mengetahui ada seseorang duduk, bersedih di pojok masjid. Abu Hurairah pun menghampirinya, menanyakan ada apa gerangan hingga nampak bersedih. Setelah mengetahui masalah yang menimpa orang itu, Abu Hurairah pun segera menawarkan bantuan: Mari keluar bersamaku wahai saudara, aku akan memenuhi keperluanmu”, ajak Abu Hurairah. Apakah engkau akan meninggalkan i’tikaf demi menolongku ? tanya orang tersebut terkejut”. Ya, sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda “Sungguh berjalannya seseorang di antara kamu untuk memenuhi kebutuhan saudaranya itu lebih baik baginya daripada i’tikaf di masjidku ini selama sebulan”. (HR. At Thabrani dan Ibnu Asakir). Kata-kata ini adalah penegasan bahwa ibadah tidak melulu berwujud ritual, tetapi juga kerja keras yang dilakukan dengan niat suci. Seorang ayah yang memilih bekerja ketimbang ber-i’tikaf demi membeli baju Lebaran untuk anaknya, seorang nelayan yang mengarungi lautan sambil bertawakal, atau seorang kuli bangunan yang mengangkat batu sambil mengingat Allah, mereka semua sedang menjalankan i’tikaf dalam bentuknya yang paling nyata.
Kita sering terjebak dalam pemahaman sempit bahwa ibadah harus terlihat, harus sakral, harus dilakukan di tempat-tempat yang disucikan. Padahal, Allah melihat hati, bukan tempat. Seorang yang kaya mungkin bisa dengan mudah meninggalkan urusan dunia untuk ber-i’tikaf, tetapi seorang miskin yang bekerja sambil berdoa justru sedang menjalankan i’tikaf yang lebih berat, karena ia harus membagi diri antara dunia dan akhirat.
Maka, i’tikaf bukanlah hak eksklusif mereka yang mampu. Ia adalah kesempatan bagi siapa saja yang ingin mendekatkan diri kepada Allah, di mana pun, dalam kondisi apa pun. Dari lorong-lorong kumuh tempat pemulung mencari sesuap nasi, dari pabrik-pabrik tempat buruh menahan lelah, dari jalanan di mana tukang becak mengayuh pedal sambil beristigfar, di sanalah i’tikaf sejati sering kali bersemayam. Allah tidak pernah memandang kemewahan tempat kita beribadah. Dia hanya melihat ketulusan. Maka, jangan pernah meragukan bahwa keringat seorang pekerja yang bercucuran demi keluarga, jika diniatkan sebagai ibadah, adalah i’tikaf yang tak kalah mulia dibandingkan mereka yang duduk tenang di serambi masjid. Sebab, di mata-Nya, yang terpenting bukanlah di mana kita berdiam, tetapi seberapa dekat hati kita dengan-Nya.
Maka berhentilah sejenak memandang i’tikaf hanya sebagai ritual para ahli masjid. Lihatlah lebih jauh di pasar-pasar yang sumpek, di pelabuhan yang bau amis, di pabrik-pabrik yang pengap, di sanalah sajadah-sajadah tak kasat mata terbentang. Setiap derap kaki buruh harian yang menapak dengan basmallah, setiap helaan napas pemulung yang terselip istigfar, setiap tetes keringat nelayan yang bercampur doa – itulah i’tikaf sejati. Allah tidak pernah memandang kemewahan tempat hamba-Nya bersujud. Dia hanya menimbang ketulusan hati. Bagi mereka yang tak sempat mengasingkan diri di masjid, seluruh bumi telah menjadi mihrab. Kerja keras mereka adalah wudhu, kejujuran mereka adalah bacaan Al-Fatihah, dan keikhlasan mereka adalah tahiyat terakhir.
Di akhir zaman nanti, mungkin kita akan terkejut melihat siapa yang ternyata menjadi ahli i’tikaf sejati. Bukan mereka yang berjubah putih di serambi masjid, melainkan para pekerja kasar yang selama ini kita pandang sebelah mata – dengan pakaian lusuh penuh tambalan, namun hatinya bersih bagai kafan. Karena sesungguhnya, i’tikaf bukan soal di mana kita berdiam, tetapi bagaimana kita tetap hidup dalam zikir meski dunia terus memanggil. Di sudut-sudut kota yang terlupakan itulah, justru tumbuh bunga-bunga tauhid yang paling harum. Dan Allah Maha Tahu, bahwa di antara gemuruh mesin pabrik dan teriakan pasar, ada suara hati yang lebih khusyuk daripada bisikan-bisikan di mihrab.
Maka bersyukurlah, wahai para pekerja yang tak sempat i’tikaf. Mungkin kalian justru sedang menjalankan i’tikaf yang paling Allah rindukan – i’tikaf kehidupan, di mana setiap nafas adalah tasbih, setiap gerak adalah Shalat, dan setiap tetes keringat adalah ayat-ayat cinta untuk Sang Khaliq.
*) PENULIS adalah Pemerhati Isu Sosial Ekonomi, Lingkar Projusticia






