Mudik ke Tuhan

Mudik ke Tuhan
Risky Almustana Imanullah, Ketua MWC NU Kecamatan Kuta Malaka

*) Oleh : Risky Almustana Imanullah

Dua hari menjelang bulan Ramadhan, saya bersama tiga orang teman sedang santai di warung kopi tepi jalan raya. Matahari begitu terik. Jalanan begitu riuh dengan suara knalpot dan klakson pemudik yang hendak kembali ke kampung halamannya. Suara kapak yang menghantam tulang belulang di lapak penjualan daging (Meugang) dan suara tawar menawar ibu-ibu di pasar ikut menghiasi keriuhan hari itu.

Bacaan Lainnya

“Sang hayeu cit mudik nyan oeh? Hawa cit sigoe ta mudik, tapi tanyoe hana gampong, cit sinoe tinggai (sepertinya seru juga mudik itu ya? Sesekali pengen mudik juga, tapi kita tidak ada tujuan mudik karena memang disini kampung halaman kita),” ucap saya.

Teman di sebelah menyahuti ucapan saya, “kita mudik ke Tuhan saja”. Dua teman yang duduk tepat di hadapan kami spontan tertawa mendengarkan sahutan tersebut.

Terdengar seperti guyonan. Namun, jawaban itu sepertinya memiliki makna yang begitu filosofis.

Jam menunjukkan pukul 18.20 WIB, kami harus beranjak pulang, mandi dan siap-siap ke masjid menunaikan ibadah sholat Maghrib dan Isya. Namun, rasa penasaran terkait makna “kita mudik ke Tuhan saja” masih melekat erat di kepala saya.

Keesokan harinya kami kembali bertemu di balai desa pada jam 10.00 WIB. Saya menyapa dan menyuruhnya menunggu sementara waktu. “Bro, preh siat, lon na pertanyaan bak droe. Tapi nyoe lon jak blo kuphi dile jeut mangat ta peugah haba (Bro, tunggu sebentar, saya ada pertanyaan untuk kamu. Tapi saya beli kopi dulu biar lancar obrolan kita)”.

Saya langsung bergegas ke warung kopi terdekat. Kopi dan roti selai Samahani (cemilan khas ditempat kami).

10 menit kemudian, saya tiba kembali di balai desa. Saya menyodorkan plastik yang berisi kopi dan roti, dia membersihkan gelas dan menuangkan kopi ke gelas tersebut.

Saya memulai, “bro kapan kita mudik ke Tuhan?”.

“Dua hari lagi,” jawabnya.

“Lho, kok dua hari lagi?,” tanya saya.

“Kan dua hari lagi puasa, ya bulan puasa kita mudik ke Tuhan,” jawabnya lagi.

“Hahah, sudah-sudah, jangan bercanda, aku penasaran makna dari ucapan kemarin sore perihal jawaban kita mudik ke Tuhan saja. Aku ingin mendengarnya,” ucap saya.

“Kamu pernah mendengar kalimat innalillahi wa innailaihi rajiun? Apa makna dari kalimat itu? Segala sesuatu pada hakikatnya kembali kepada Tuhan kan?” dia memulai.

Saya hanya mengangguk dan mendengar penjelasannya secara seksama.

“Mudik diartikan sebagai proses kembalinya seseorang dari rantauan ke kampung halaman, seperti halnya manusia yang diciptakan Tuhan, dilahirkan ke bumi, ditugaskan untuk mengembara. Saat waktunya tiba, kita semua akan kembali ke tempat asal, kembali ke kampung halaman, kembali kepada Tuhan. Bukankah begitu mudik ke Tuhan?”

“Lantas, apa kaitannya mudik ke Tuhan dengan bulan Ramadhan?”

Mudik kepada Tuhan dalam arti kembali ke asal, menyucikan diri bak hari pertama lahir. Tanpa dosa dhohir dan batin, menjadi manusia yang lemah, tanpa status, tanpa pangkat dan jabatan, hanya sebatas hamba. Kita semua sama dan setingkat di hadapan Tuhan.

Saat kita sampai ke Tuhan, kita menyadari bahwa hanya Tuhan yang Maha Kuasa, hanya Tuhan Yang Maha mengatur segalanya. Kita sebagai hamba sebatas mengikuti perintah-Nya tanpa ada perlawanan sedikitpun.

Tuhan memperlihatkan kepada mereka yang mau melihat, dan mengajarkan kepada mereka yang mau berpikir tentang ke Maha Kuasaan-Nya. Di bulan ramadhan Tuhan mengatur manusia tanpa kasta, tanpa membedakan si miskin dan si kaya. Tuhan mengatur jadwal imsak dan berbuka dengan waktu yang sama (terbit fajar hingga terbenam matahari). Semua patuh tanpa makan minum selama waktu yang ditentukan.

Tidak ada Presiden, Gubernur, Hakim, Jaksa Jenderal, dan legislatif sekalipun yang mampu mengatur, memerintah dan mengajukan hak angket terhadap ketentuan yang sudah ditetapkan Tuhan.

Sebagai muslim, kita sepakat bahwa bulan ramadhan merupakan bulan yang paling istimewa daripada bulan yang lain. Di sela-sela bulan ramadhan ada satu malam yang Allah selipkan satu malam rahasia nan penuh berkah yang disebut dengan malam Lailatul Qadar, sehingga semua orang berlomba-lomba memperbanyak amal ibadah dan berharap dapat melaksanakan ibadah maksimal di malam tersebut.

Dalam kitab Tanqihul Qauli karangan Syaikh Muhammad bin ‘Umar An-Nawawi Al-Bantani terdapat hadis yang mengatakan bahwa “….Allah SWT menghiasi segala bulan dengan bulan Ramadhan, dan menghiasi segala malam dengan malam Lailatul Qadar…..”

Kemudian dalam Al-Qur’an Allah SWT juga menjelaskan kemuliaan malam tersebut yang melebihi seribu bulan dalam ayat al-Qadr ayat 4: “Tanazzalu almalaikatu waalrroohu fiiha biithni rabbihim min kulli amrin(Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan).”

Namun hanya sebagian kecil orang yang beruntung, mampu memaksimalkan peribadatan pada malam itu.

Mereka yang mudik, kemudian sampai pada Tuhan-nya akan memperoleh cinta kasih dari Tuhan-nya, mereka terpilih karena kegigihan dalam mendekatkan diri, mampu melawan nafsu dan kemalasannya.

Banyak ulama yang berpendapat tentang kemungkinan terjadinya malam Lailatul Qadar di 10 terakhir Ramadhan, namun tempat peribadatan semakin sepi, shaf sholat berjamaah mulai berkurang.

Menjelang akhir Ramadhan, orang-orang lebih banyak menghabiskan waktu di pasar. Mereka disibukkan dengan kue lebaran dan baju hari raya. Situasi tersebut telah melalaikan banyak orang dari esensi utama bulan ramadhan.

Sebenarnya bulan ramadhan merupakan bulan terbaik, bulan yang tepat untuk mudik ke Tuhan. Setiap perbuatan yang dilakukan bernilai ibadah, tidur sekalipun.

Ramadhan sebagai momentum puncak peribadatan umat Islam, banyak challenge dan gift dari Tuhan kepada hamba-hamba-Nya yang taat.

Suasana siang itu mulai panas, matahari tepat di atas kepala, dari toa masjid kami mendengar suara orang mengaji sebagai pertanda sebentar lagi azan dzuhur segera dikumandangkan.

Sebelum mengakhiri obrolan hari itu saya mengajukan satu pertanyaan terakhir, “apakah kelengahan yang dialami oleh manusia dalam hal beribadah di akibatkan oleh jin atau syaitan?”.

“Tidak. Jin, Iblis, Syaitan atau apapun sejenisnya yang bertugas menggoda umat manusia telah dibelenggu selama ramadhan. Namun, apa yang terlihat oleh kita saat ini adalah kelengahan manusia dalam mengelola hawa nafsunya masing-masing.” Jelasnya.

Dengan raut wajah yang sedikit tertawa dia mengatakan, “mungkin kita harus meminta maaf pada Jin atau Syaitan atas tuduhan kita kepada mereka”.

Saya ikut tertawa mendengar kalimat tersebut, “bagaimana mungkin itu terjadi?” tanya saya.

“Setiap kali kita lengah dalam hal beribadah, selalu mengkambing hitamkan Jin atau syaitan bahwa mereka telah menggoda kita. Padahal tanpa kita sadari, bisa jadi hawa nafsu kita yang mendorong kita untuk menyibukkan diri dengan hal-hal yang tidak bermanfaat lainnya. Apalagi di bulan puasa seperti ini, mereka sudah di ikat, masak kita terus menyalahkan mereka?” jelasnya.

Azan berkumandang, kami segera mengakhiri obrolan dan bergegas menuju masjid. Sambil bergerak saya nyeloteh “sepertinya lebaran nanti kita harus bersilaturahmi ke rumah jin dan syaitan atas tuduhan kita kepada mereka selama ini”.

Dan kami pun tertawa, ”hahahahahah…..”.

*) PENULIS adalah Ketua MWC NU Kecamatan Kuta Malaka

Rubrik      : Essay, Opini
Editor       : Adli Dzil Ikram

Pos terkait