Surat Terakhir dari Kekasihmu

Adli Dzil Ikram*

PADA TAHUN 1965, kamu selingkuh dengan seorang jurnalis yang baru saja mewawancarai suamimu. Suamimu adalah pria kaya di London. Ia sering keluar kota dan pulang telat saat makan malam. Kamu lelah dengan keadaan seperti itu. Padahal, kamu selalu ingin tidur dalam pelukannya.

Kamu dan Si Jurnalis diam-diam sering berbalas surat. Surat-surat yang berisi kata-kata indah dan alamat-alamat di mana kalian akan bertemu.

Cinta kalian bermula saat kamu dan suamimu berlibur ke Portugal. Di sanalah si jurnalis mewawancarai suamimu. Di meja makan siang kalian bertiga mengobrol, saling melempar canda. Hingga, tiba-tiba, suamimu menerima panggilan bisnis dan harus segera pergi. Kamu sudah biasa dengan situasi seperti itu. Kamu mengajak Si Jurnalis berlayar dengan kapal kecil. Di tengah laut luas, kalian saling bercerita.

Saat itulah, aku rasa cinta kalian bersemi dan perselingkuhan berawal.

Perselingkuhan itu semakin hangat. Surat-surat itu semakin romantis. Sebuah taman di pinggir kota London menjadi titik tempat kalian selalu betemu. Terkadang, kamu gelisah menunggu, terkadang Si Jurnalis gelisah menunggumu. Kalian berpesta, berdansa, dan bercinta. Tidak ada yang tahu. Kamu pikir, kalian akan merahasiakannya, selamanya.

Suatu hari, Si Jurnalis mengajakmu lari ke New York. Ia baru saja ditawari kerja di sana. Tapi, kamu ragu. Hubungan kalian sedikit longar. Si jurnalis mengirim surat terakhir beserta tiket kereta. Sekali lagi kamu ragu.

Masa-masa itu sulit bagimu. Kamu hilang ingatan karena kecelakaan. Karena kecelakaan itu pula suamimu mengetahui perselingkuhan kalian. Ia bersedih dan marah, tapi memilih tak meninggalkanmu.

Si Jurnalis tetap mengirimu surat-surat. Tapi selalu disembunyikan oleh suamimu. Bahkan kotak pos bernomor 13 milikmu ditutup. Percuma bukan? Kamu tak mengingatnya. Kamu tak mengingat di mana saja kamu menyimpa surat-surat indah itu. Kamu juga tak mengingat, sebagian surat-surat itu telah kamu kirim ke Si Jurnalis. Entah kenapa? Aku juga tak tahu.

Si Jurnalis tahu ia cinta mati padamu dan kamu merasakan ada kisah yang hilang dalam hidupmu.

Waktu mengubur kisah kalian dan waktu pula yang membangunkannya lagi.

Saat ini, kamu sedang duduk di sofa kesayanganmu, sembari membaca surat kabar lokal. Menikmati hidup di zaman penuh teknologi baru. Kulit-kulit di wajahmu mulai kendor. Tidak ada siapa-siapa di rumahmu itu. Aku tidak tahu di mana suamimu. Atau jangan-jangan kalian sudah berpisah?

Tiba-tiba bel berbunyi. Itu Jurnalis Muda yang ingin mewawancaraimu. Pertama-petama, ia ditugaskan untuk menulis biografi seorang editor yang baru saja pensiun. Ya, ia adalah selingkuhanmu dulu, lelaki yang sangat kamu cintai.

Namun, Jurnalis Muda itu menemukan tiga surat indah kalian di gudang arsip. Ia malah tertarik menulis kisah cinta kalian. Dari surat-surat itu ia menjahit kisah cinta kalian, dan Jurnalis Muda tahu bahwa kalian berselingkuh. Ia sangat yakin masih banyak surat-surat yang tercecer di gudang arsip. Ia juga yakin kamu masih hidup. Jurnalis Muda itu terus mencari dan mencari. Surat demi surat ia temukan. Hingga ia menemukan alamatmu hari ini.

Sungguh, Jurnalis Muda itu punya keinginan untuk mempertemukan kalian lagi. Tapi, aku tidak tahu apakah ia berhasil? Apakah kamu mau? Apakah Si Jurnalis mau? Kamu harus menonton film di bawah ini, jika ingin menemukan jawabannya. Jika kamu marah karena aku membongkar sebagian besar alur dalam film ini, sungguh, aku mengarang sebagian besar alurnya. Ada detail yang tak mampu kutulis. Kisahnya lebih menarik lagi.

Kuharap kamu mau bertemu dengan si jurnalis dan ia pun menginginkannya. Sebab, kisah cinta yang tak selesai, selamanya membekas.

Judul film: The Last Letter from Your Lover
Durasi: 1 jam, 50 menit
Sutradara: Augustine Frizzell
Diangkat dari novel berjudul sama karya Jojo Moyes

Adli Dzil Ikram, penulis lepas tinggal di Banda Aceh.

Rubrik      : Essay

Pos terkait