Opini Nanggroe, INFONANGGROE.com – Ada pemandangan yang belakangan terasa semakin biasa. Sekelompok anak muda duduk berdekatan, tetapi masing-masing sibuk dengan telepon genggamnya. Sesekali tertawa, mungkin karena melihat video lucu. Sesekali mengangguk, mungkin membaca sesuatu. Namun, tidak banyak percakapan yang benar-benar terjadi. Mereka dekat secara fisik, tetapi entah seberapa dekat secara pikiran.
Saya tidak sedang menyalahkan telepon genggam. Benda kecil itu telah mengubah banyak hal dalam kehidupan manusia. Kita bisa membaca berita, mengikuti perkuliahan, mempelajari bahasa asing, berdiskusi, bahkan membangun usaha hanya melalui layar yang ukurannya tidak lebih besar dari telapak tangan. Persoalannya bukan pada teknologi itu sendiri, melainkan pada bagaimana manusia menggunakannya.
Sering kali saya berpikir, generasi muda hari ini sesungguhnya memiliki peluang yang luar biasa. Informasi yang dahulu hanya bisa diperoleh melalui perpustakaan besar, ruang kuliah, atau perjalanan jauh, sekarang tersedia dalam hitungan detik. Pengetahuan seperti berada di dalam genggaman. Sayangnya, sesuatu yang mudah diperoleh belum tentu benar-benar dimanfaatkan.
Di sinilah paradoks generasi digital mulai terlihat. Mereka memiliki akses informasi yang luas, tetapi belum tentu memiliki kemampuan memilah informasi. Mereka dapat mengetahui banyak hal dalam waktu singkat, tetapi belum tentu memahami satu persoalan secara mendalam. Mereka bisa mengikuti perkembangan dunia dari berbagai belahan bumi, tetapi terkadang tidak cukup mengenali persoalan di lingkungan sendiri.
Nah, masalahnya, kita sering mengukur kecakapan generasi muda dari seberapa mahir mereka menggunakan teknologi. Cepat mengoperasikan aplikasi, pandai membuat konten, memiliki banyak pengikut, atau mampu mengikuti tren terbaru. Semua itu tentu bisa menjadi keterampilan yang berguna. Namun, apakah ukuran tersebut cukup untuk menyebut seseorang sebagai pemuda ideal?
Saya kira tidak.
Pemuda ideal di era digital bukanlah mereka yang paling lama menatap layar, paling cepat mengikuti tren, atau paling ramai di media sosial. Pemuda ideal adalah mereka yang mampu menjadikan teknologi sebagai alat untuk mengembangkan kapasitas diri, bukan justru menjadi manusia yang kehidupannya dikendalikan oleh teknologi.
Coba perhatikan kebiasaan kita sehari-hari. Berapa banyak waktu yang habis hanya untuk menggulir layar tanpa tujuan yang jelas? Satu video selesai, muncul video berikutnya. Satu informasi dibaca, informasi lain segera mengambil perhatian. Kita berniat membuka media sosial selama lima menit, tetapi tiba-tiba satu jam berlalu. Anehnya, setelah itu kita sering merasa tidak memperoleh sesuatu yang berarti.
Jangan-jangan, kita bukan kekurangan waktu, melainkan kehilangan kemampuan mengelola perhatian.
Perhatian adalah sesuatu yang sangat berharga. Apa yang terus-menerus kita perhatikan perlahan akan membentuk cara berpikir, kebiasaan, bahkan cara kita memandang kehidupan. Jika setiap hari pikiran dipenuhi pertengkaran di media sosial, sensasi, gosip, dan kehidupan orang lain, jangan heran jika kita kesulitan menyediakan ruang untuk membaca, merenung, atau mengembangkan gagasan sendiri.
Persoalan lainnya adalah budaya serba cepat. Di media sosial, segala sesuatu seolah harus segera diketahui, segera ditanggapi, dan segera dibagikan. Orang merasa perlu berkomentar tentang hampir semua hal, meskipun belum memahami persoalannya. Berita baru dibaca judulnya, kesimpulan sudah dibuat. Video pendek ditonton beberapa detik, penilaian terhadap seseorang langsung disampaikan.
Padahal, tidak semua yang viral itu penting. Tidak semua yang ramai itu benar. Dan tidak semua yang terlihat meyakinkan layak dipercaya.
Saya justru berpikir bahwa salah satu ciri pemuda ideal hari ini adalah keberanian untuk tidak ikut-ikutan. Berani memeriksa informasi sebelum membagikannya. Berani berbeda pendapat tanpa harus menghina. Berani mengakui bahwa dirinya belum mengetahui sesuatu. Bahkan, berani diam ketika memang belum memiliki pengetahuan yang cukup untuk berbicara.
Sikap semacam ini mungkin terdengar sederhana, tetapi tidak selalu mudah dilakukan di tengah budaya digital yang memberikan penghargaan kepada mereka yang paling cepat bereaksi.
Selain itu, kita juga perlu membicarakan produktivitas. Era digital menyediakan peluang yang sangat besar bagi pemuda untuk berkarya. Mereka bisa menjadi penulis, desainer, peneliti, pengusaha, pendidik, kreator, atau mengembangkan berbagai keterampilan tanpa harus menunggu fasilitas yang sempurna. Banyak pekerjaan dan peluang baru lahir dari kreativitas serta kemampuan memanfaatkan teknologi.
Namun, ada kecenderungan menarik: kita semakin sibuk menampilkan produktivitas daripada benar-benar produktif. Foto sedang membaca buku, tetapi belum tentu selesai membacanya. Unggahan tentang pengembangan diri, tetapi kebiasaan tidak banyak berubah. Membagikan kutipan motivasi setiap hari, tetapi menghadapi pekerjaan sendiri masih sering ditunda.
Tentu tidak semua orang demikian. Media sosial juga menjadi ruang berbagi inspirasi dan pengalaman yang bermanfaat. Akan tetapi, kita perlu berhati-hati agar kehidupan tidak berubah menjadi panggung tempat semua hal harus terlihat mengesankan.
Pemuda tidak harus selalu terlihat hebat. Mereka perlu bertumbuh menjadi pribadi yang benar-benar memiliki kemampuan.
Dalam konteks Aceh, pembicaraan tentang pemuda ideal juga tidak dapat dilepaskan dari identitas, nilai keagamaan, dan tanggung jawab sosial. Kemajuan teknologi semestinya tidak membuat generasi muda kehilangan akar kebudayaannya. Menjadi modern tidak berarti harus meninggalkan kearifan lokal. Menjadi warga dunia tidak berarti melupakan tanggung jawab terhadap kampung halaman.
Justru teknologi dapat digunakan untuk memperkenalkan kebudayaan Aceh, mengembangkan ekonomi masyarakat, mendokumentasikan tradisi, memperluas literasi keagamaan, dan menyuarakan berbagai persoalan sosial yang selama ini kurang mendapat perhatian.
Di sinilah pemuda memiliki tanggung jawab lebih besar daripada sekadar menjadi pengguna teknologi. Mereka perlu hadir sebagai pencipta gagasan, penggerak perubahan, dan bagian dari solusi.
Saya kira, pendidikan keluarga, sekolah, madrasah, perguruan tinggi, dan lingkungan masyarakat memiliki peran penting dalam membentuk karakter tersebut. Kita tidak cukup hanya mengajarkan anak muda cara menggunakan perangkat digital. Kita juga harus membiasakan mereka berpikir kritis, berdialog, membaca secara mendalam, menghargai perbedaan, dan bertanggung jawab atas setiap tindakan di ruang digital.
Pada akhirnya, pemuda ideal bukanlah manusia yang harus sempurna. Mereka boleh salah, boleh mencoba, boleh gagal, dan boleh mengubah pilihan hidupnya. Yang penting, mereka memiliki kemauan untuk terus belajar dan kesadaran bahwa masa depan tidak dibangun hanya dengan mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga dengan kemampuan menentukan arah.
Sebab, teknologi boleh semakin canggih, informasi boleh semakin melimpah, dan dunia boleh berubah semakin cepat. Namun, satu pertanyaan tetap relevan: apakah kita sedang menggunakan teknologi untuk memperluas kemampuan manusia, atau justru perlahan-lahan menyerahkan kemampuan berpikir kita kepadanya?
Jangan-jangan, tantangan terbesar pemuda di era digital bukan bagaimana menjadi lebih canggih daripada teknologi, melainkan bagaimana tetap menjadi manusia di tengah kecanggihan teknologi.
Penulis; Ismail Darimi, S.Pd.I., M.Ag.,
Sekretaris Gerakan Pemuda Ansor Kota Banda Aceh





