INFONANGGROE.COM – Kasus pengeroyokan seorang siswa di SMA Negeri 3 Banda Aceh terus menjadi perhatian publik. Tak hanya soal penanganan terhadap para pelaku, insiden tersebut juga memunculkan sejumlah rumor di media sosial.
Salah satu isu yang beredar menyebutkan adanya anak anggota atau pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) yang diduga terlibat dalam pengeroyokan tersebut.
Sekretaris DPRA (Sekwan), Khudri SAg, MA, membantah informasi itu. Ia memastikan tidak ada anak pimpinan maupun anggota DPRA yang terlibat dalam kasus tersebut.
“Hasil penelusuran dan konfirmasi kami kepada pimpinan maupun anggota DPRA yang berdomisili di Kompleks Perumahan DPRA, tidak ada anak mereka yang terlibat dalam kasus tersebut,” tegas Khudri, Selasa (22/9/2026) sore, dikutip dari serambinews.
Khudri juga meluruskan informasi mengenai lokasi terjadinya pengeroyokan. Menurutnya, insiden tersebut tidak berlangsung di Kompleks Perumahan DPRA.
“Sudah sangat jelas bahwa tempat kejadiannya bukan di Kompleks DPRA, melainkan di lingkungan sekolah, sebagaimana disampaikan oleh pihak berwajib,” ujarnya.
Ia turut menanggapi foto-foto yang beredar di media sosial dan disebut-sebut berkaitan dengan kasus tersebut. Khudri menjelaskan, foto yang beredar merupakan dokumentasi lama dan tidak memiliki kaitan dengan pengeroyokan siswa di SMAN 3 Banda Aceh.
Kronologi Pengeroyokan
Pengeroyokan tersebut terjadi pada Jumat (18/9/2026), ketika kegiatan belajar mengajar masih berlangsung.
Berdasarkan narasi dan bukti yang diunggah orangtua korban, saat kejadian korban tengah berada di dalam kelas. Ia kemudian dipanggil oleh sejumlah siswa yang disebut merupakan kakak kelasnya.
Korban selanjutnya dibawa secara paksa menuju area kamar mandi yang berada di belakang sekolah. Di lokasi tersebut, sejumlah siswa lainnya disebut telah menunggu.
Korban kemudian dipukul secara bersama-sama hingga mengalami luka di beberapa bagian tubuh.
Kepala SMAN 3 Banda Aceh, Drs Muzakkir, MPd, mengatakan pihak sekolah telah melakukan verifikasi faktual terkait insiden tersebut.
“Berdasarkan hasil verifikasi faktual, terdapat lima siswa yang terbukti terlibat secara aktif dalam aksi pengeroyokan ini,” ungkap Muzakkir.
Atas hasil tersebut, pihak sekolah menjatuhkan sanksi tegas terhadap kelima siswa yang dinyatakan terlibat.
“Terhadap kelima siswa tersebut, pihak sekolah telah mengambil tindakan berupa pengeluaran (drop out) sesuai dengan tata tertib yang berlaku,” tegas Muzakkir.






