INFONANGGROE.COM – Liburan dan perjalanan bisnis yang seharusnya berjalan lancar berubah menjadi pengalaman menegangkan bagi sejumlah warga negara Malaysia di Jakarta. Erupsi Gunung Anak Krakatau tak hanya menyemburkan abu vulkanik ke udara, tetapi juga melumpuhkan aktivitas penerbangan, memaksa mereka merogoh kocek lebih dalam akibat harga tiket pengganti yang melonjak gila-gilaan dan biaya penginapan yang tak terduga.
Salah satu penumpang yang terdampak parah adalah Dhia Adawiah (26). Warga asal Kuala Lumpur ini awalnya terbang sendirian ke Jakarta pada 4 September lalu demi menonton konser grup musik Kahitna. Namun, tiket kepulangannya yang dijadwalkan pada Minggu (6/9/2026) pukul 05.00 pagi terpaksa hangus karena maskapai asal Indonesia yang ia gunakan membatalkan penerbangan.
Ketika berusaha mencari opsi tiket pulang untuk keesokan harinya, Senin (7/9/2026), Dhia terkejut melihat harganya meroket hingga 1.071 ringgit Malaysia atau sekitar Rp 4,6 juta per kepala. Padahal, ia juga dituntut memutar otak untuk membayar ekstra biaya hotel selama tertahan di Jakarta.
“Harga tiket semuanya sudah naik tiga kali lipat. Kalau mau pulang besok, yang paling murah 1.071 ringgit, ditambah hotel satu malam 150 ringgit,” keluh Dhia, dikutip dari kompas melalui media Malaysia, Harian Metro, Minggu.
Kondisi yang serba tidak pasti ini membuat Dhia memilih bersabar. Ia berencana memantau situasi keamanan udara sebelum benar-benar membeli tiket baru. Namun, keterlambatan ini jelas mengganggu rutinitasnya. Dhia mengaku stres karena banyak urusan pekerjaan di Malaysia yang terbengkalai. Sembari memproses pengembalian dana dari maskapai sebelumnya, ia menyebut pengalaman ini sebagai yang tersulit dalam hidupnya.
Satu Keluarga Ikut Luntang-lantung
Kepanikan serupa turut melanda Fatin Nur Athirah Mohd Rodzi, warga asal Shah Alam, Selangor. Datang bersama lima anggota keluarganya untuk urusan pekerjaan sejak Kamis, Fatin harus menelan kekecewaan saat penerbangan pulang mereka—yang dijadwalkan Minggu malam menggunakan maskapai Belanda—mendadak dibatalkan pada pagi harinya.
Fatin sangat mengkhawatirkan nasib anak-anaknya yang harus kembali bersekolah pada hari Senin, belum lagi kewajibannya untuk kembali bekerja di kantor. Ia mengaku serba salah dan panik karena baru pertama kali merasakan telantar di negara orang.
Fatin beserta keluarganya pun terpaksa luntang-lantung di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang kian padat oleh penumpang bernasib serupa. Ia sempat berusaha mencari kejelasan mengenai kompensasi dan jadwal pengganti, sayangnya konter maskapai yang bersangkutan belum beroperasi. Di sekitar area luar bandara, Fatin bahkan bisa melihat langsung bagaimana debu vulkanik menempel pekat pada deretan kendaraan.
Erupsi Anak Krakatau Melumpuhkan Rute Internasional
Kekacauan jadwal terbang di Jakarta ini bermula dari aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang terus erupsi sejak Jumat (4/9/2026). Abu pekat yang menyelimuti wilayah udara memaksa otoritas penerbangan dan sejumlah bandara menghentikan operasional sementara demi keselamatan penumpang.
Dampaknya sangat masif. Gangguan tidak hanya memukul penerbangan domestik, tetapi juga melumpuhkan rute-rute internasional. Sederet jadwal penerbangan vital yang menghubungkan Jakarta dengan kota-kota besar dunia seperti Kuala Lumpur, Singapura, Hong Kong, Sydney, Seoul, Doha, hingga Amsterdam terpaksa ditunda atau dibatalkan sepenuhnya. Kini, ribuan penumpang termasuk warga negara asing hanya bisa menunggu di bandara, menanti langit kembali bersih dari ancaman abu vulkanik.






