Terungkap! Kopilot Sengaja Jatuhkan Pesawat Germanwings 4U 9525, 150 Orang Tewas

Terungkap! Kopilot Sengaja Jatuhkan Pesawat Germanwings 4U 9525, 150 Orang Tewas
Sisa Bangkai Germanwings Penerbangan 4U 9525 (Dok. Istimewa)

INFONANGGROE.COM – Suara teriak peringatan sistem pull up membahana di dalam kokpit, bertabrakan dengan gedoran keras pada pintu besi yang terkunci rapat. Di luar, Kapten Patrick Sonderheimer panik berjuang membongkar pembatas agar bisa mengendalikan pesawat. Namun di dalam ruang kemudi yang hening, sang kopilot justru duduk tenang tanpa mengucap sepatah kata pun—hanya hembusan napasnya yang teratur terekam jelas, mengiringi detik-detik akhir sebelum 150 nyawa dihempaskan ke lereng Pegunungan Alpen.

Dikutip dari detiknews, kecelakaan tragis pesawat Germanwings penerbangan 4U 9525 pada 24 Maret 2015 tersebut awalnya diduga sebagai musibah teknis murni. Namun, tabir yang terkuak kemudian melukiskan kenyataan yang jauh lebih mengerikan: burung besi jenis Airbus A320 itu sengaja dihempaskan oleh sang kopilot sendiri, Andreas Lubitz.

Penerbangan komersial yang bertolak dari Barcelona, Spanyol, menuju Duesseldorf, Jerman, itu semula berlangsung normal. Pesawat sempat mendaki mulus ke ketinggian cruising 38.000 kaki hanya dalam tempo setengah jam. Kontak rutin terakhir dengan petugas pengawas lalu lintas udara (ATC) pun berjalan tanpa kendala untuk meminta izin melanjutkan jalur penerbangan.

Petaka dimulai tak lama setelah komunikasi tersebut. Kapten Sonderheimer meninggalkan kokpit sejenak untuk pergi ke toilet dan menyerahkan kendali penuh kepada Lubitz. Kesempatan singkat inilah yang dimanfaatkan pria berusia 27 tahun tersebut. Begitu pintu tertutup otomatis, Lubitz menguncinya dari dalam agar sang kapten tak bisa kembali masuk.

Tanpa ragu, Lubitz memutar knop pengaturan autopilot secara manual, mengubah target ketinggian secara drastis dari 38.000 kaki menjadi hanya 100 kaki. Burung besi itu pun langsung menukik tajam ke bawah selama hampir 10 menit tanpa kendala mekanis.

Usaha darurat dilakukan oleh ATC dan pertahanan udara Prancis yang mencoba mengontak kokpit berulang kali, tetapi tak ada satu pun respons yang diberikan. Rekaman Cockpit Voice Recorder (CVR) menangkap jeritan Kapten Sonderheimer yang berusaha mendobrak pintu, diiringi raungan sirine alarm keselamatan. Namun Lubitz tetap bungkam hingga akhirnya CVR terhenti total pada saat pesawat menghantam dinding batu Alpen dan hancur berkeping-keping.

Benturan dahsyat tersebut menewaskan seluruh 150 orang di dalam pesawat, terdiri dari 144 penumpang dan 6 awak kabin. Di antara korban tewas terdapat 72 warga negara Jerman—termasuk rombongan 16 siswa sekolah yang hendak pulang—serta 51 warga Spanyol. Korban lainnya berasal dari berbagai belahan dunia seperti Inggris, Australia, Argentina, Amerika Serikat, Jepang, Kolombia, hingga Belanda.

Penyelidikan mendalam melalui Flight Data Recorder (FDR) menyingkap fakta menakutkan lainnya. Lubitz disinyalir sempat melakukan “simulasi” aksi nekat ini pada penerbangan rute sebaliknya dari Duesseldorf ke Barcelona beberapa jam sebelum tragedi. Ia kedapatan berulang kali mengubah parameter ketinggian ke 100 kaki saat kapten sedang keluar kokpit, lalu dengan cepat mengembalikannya ke posisi normal sebelum kapten kembali.

Sisi gelap sang kopilot semakin terang benderang setelah tim penyidik menggeledah kediamannya. Terungkap bahwa Lubitz memiliki riwayat perawatan depresi berat sejak April 2009, sebelum ia mengantongi lisensi terbangnya. Di rumahnya, polisi menemukan deretan obat antidepresan serta surat keterangan sakit dari dokter untuk hari kejadian yang telah disobek-sobek—sebuah indikasi kuat bahwa ia sengaja menyembunyikan kondisi psikisnya demi menjalankan aksi fatal tersebut.

Pos terkait