Dana Swakelola Cair, 1.308 Hektare Sawah Terdampak Banjir di Aceh Barat Segera Dipulihkan

Dana Swakelola Cair, 1.308 Hektare Sawah Terdampak Banjir di Aceh Barat Segera Dipulihkan
Tim Satgas PRR Aceh meninjau salah satu lokasi lahan sawah yang dilakukan optimalisasi lahan oleh kelompok tani di Desa Putim, Kecamatan Kaway XVI, Kabupaten Aceh Barat. Hingga Minggu (9/8/2026) program tersebut masih terus berjalan dan ditargetkan tuntas pada Oktober mendatang. ANTARA/Teuku Dedi Iskandar

INFONANGGROE.COM – Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Aceh Barat resmi mencairkan dana swakelola kepada sejumlah kelompok tani setempat. Langkah strategis ini diambil guna merehabilitasi sekitar 1.308 hektare lahan persawahan yang mengalami kerusakan parah akibat terjangan banjir bandang pada 26 November 2025 lalu.

“Penyaluran dana swakelola kepada kelompok tani ini merupakan langkah percepatan agar lahan yang terdampak bencana bisa segera produktif kembali,” kata Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Aceh Barat, Hendra Marsigi, pada Minggu, dikutip dari Antara.

Bacaan Lainnya

Hendra memaparkan bahwa pengerjaan fisik di lapangan sepenuhnya dikendalikan oleh para petani melalui mekanisme swakelola tipe IV. Bentuk perbaikannya cukup beragam, mulai dari pemasangan sistem perpipaan (pipanisasi), normalisasi saluran pengairan, hingga peningkatan kualitas drainase sawah.

Anggaran pemulihan yang digelontorkan oleh pemerintah ini ditransfer langsung ke rekening masing-masing kelompok tani. Hal ini sengaja dilakukan agar para petani memiliki keleluasaan untuk mengelola dan mengeksekusi perbaikan lahannya secara mandiri.

Secara keseluruhan, program optimalisasi lahan ini melibatkan 96 kelompok tani yang tersebar di delapan wilayah kecamatan Aceh Barat, yakni Kecamatan Kaway XVI, Pante Ceureumen, Arongan Lambalek, Bubon, Woyla, Woyla Barat, dan Woyla Timur. Khusus untuk Kecamatan Sungai Mas, proses pengembangannya akan dialokasikan ke dalam program rehabilitasi lahan yang berbeda.

Pemerintah daerah menargetkan seluruh proses konstruksi dan perbaikan fisik ini dapat rampung pada akhir September atau paling lambat awal Oktober mendatang. Percepatan ini menjadi prioritas utama karena aktivitas musim tanam rendeng dijadwalkan akan segera dimulai pada awal Oktober.

Pos terkait