INFONANGGROE.COM – Aksi pemotongan tiang penyangga wahana bermain anak oleh komplotan “rayap besi” di Taman Meuraxa memantik respons tegas dari Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Banda Aceh. Pemerintah Kota (Pemko) didesak segera mengambil langkah cepat agar insiden pencurian fasilitas publik ini tidak terus berulang dan merugikan masyarakat.
Wakil Ketua Komisi III sekaligus Ketua Fraksi PKS DPRK Banda Aceh, Tuanku Muhammad, menilai kejadian ini merupakan alarm serius terkait lemahnya pengawasan aset daerah.
“Taman Meuraxa dibangun untuk memberikan ruang bermain yang aman dan nyaman bagi anak-anak serta menjadi ruang interaksi masyarakat. Jangan sampai fasilitas yang dibangun dari uang rakyat terus menjadi korban pencurian berulang,” tegas Tuanku Muhammad dalam keterangannya pada Jumat (7/8/2026), dikutip dari bithe.
Kondisi fasilitas di taman tersebut saat ini cukup memprihatinkan. Berdasarkan pantauan di lokasi, wahana perosotan anak tidak dapat lagi difungsikan dan justru berpotensi membahayakan pengunjung akibat hilangnya sejumlah besi penopang yang diduga digergaji pelaku. Jika tidak segera ada langkah antisipasi, sisa tiang besi yang belum dicuri sangat rentan kembali menjadi sasaran.
Menyikapi hal tersebut, Tuanku Muhammad meminta Pemko Banda Aceh segera melakukan inventarisasi kerusakan dan mempercepat proses perbaikan agar taman bisa kembali digunakan. Lebih dari sekadar memulihkan fasilitas, ia menekankan urgensi penguatan sistem keamanan kawasan. Langkah ini bisa diwujudkan melalui pemasangan kamera pengawas (CCTV) di titik-titik rawan, peningkatan pencahayaan, serta evaluasi patroli rutin.
Menurutnya, pemerintah lebih baik berinvestasi pada sistem pengamanan dan pencegahan sejak awal, alih-alih harus terus-menerus membuang anggaran untuk mengganti aset yang dicuri. Sebagai pimpinan di Komisi III, ia menegaskan akan mengawal persoalan ini agar kebijakan perlindungan aset publik dapat berjalan secara berkelanjutan.
Di sisi lain, ia turut mengimbau warga untuk menjadikan upaya menjaga fasilitas umum sebagai tanggung jawab dan budaya bersama demi mewujudkan Banda Aceh yang maju dan ramah anak. Taman kota bukan sekadar ruang terbuka hijau, melainkan cerminan kualitas hidup masyarakat dan simbol kepedulian pemerintah yang tidak boleh terus-menerus dirusak oleh segelintir oknum.






