Seni Membisik Telinga Kanan, Diari 1 Tahun seorang TA

Seni Membisik Telinga Kanan, Diari 1 Tahun seorang TA
Yulfan (kiri) dan Hasra (kanan), dua putra terbaik asal Lhoknga, Aceh Besar, tampak berdiskusi hangat membahas arah kebijakan untuk kemajuan Aceh Besar. Foto: ING/Jufry Ijup

*) Oleh: Yulfan, S.H., M.H

Saya senang boleh membersamai proses di rumah legislatif Aceh Besar, DPRK. Di sini, saya bertemu dengan banyak politisi muda yang masih berbinar, baru setahun memenangkan kompetisi politik. Banyak yang saya pelajari, perlahan-lahan memahami perbedaan pandangan. Sungguh, lingkup politik tidak sesederhana yang saya bayangkan dari luar. Tapi, persetan dengan istilah ‘politik adalah seni interpretasi’ yang terlalu sering dikutip hanya untuk membenarkan langkah-langkah politisi karbitan. Bukan itu yang ingin saya bahas. Sebisa mungkin, tulisan ini tidak ingin ‘marah-marah’.

Kesadaran itu kian nyata ketika saya turun ke lapangan untuk suatu tugas observasi. Saya bertemu masyarakat. Kebahagiaan saya bukan karena datang sebagai pahlawan, tapi karena menyaksikan secercah keyakinan mereka bahwa institusi ini masih bisa diharapkan untuk membawa perubahan dan perbaikan hidup. Pertemuan-pertemuan inilah yang kemudian terus berdialektika dalam diri saya, membentuk cara pandang baru, tanpa pernah benar-benar bisa melenyapkan cara pandang lama yang lebih sinis.

Lantas, mengapa cara pandang baru ini tidak mampu sepenuhnya menggeser yang lama? Mungkin karena pada akhirnya, semua irisan kebenaran yang saya temukan hanya mengukuhkan hipotesis lama, politik tetaplah kejam. Ia hanya pandai menyesuaikan diri dan menyamar dalam konteks kekinian.

Jika ada yang bertanya bagian tersulit dari menjadi TA, saya akan menjawab, ketika harus berdebat dengan Microsoft Word tentang perbedaan antara ‘penataan’ dan ‘pengaturan’, atau ketika PowerPoint-mu crash tepat saat slide ‘Visi Masa Depan’ mau dipresentasikan. Ya, inilah kenyataan sehari-hari yang tidak pernah tergambarkan dalam buku teori politik mana pun, menjadi mesin kata-kata yang tak kenal lelah.

Tugas saya berkisar antara menyusun rilis pers yang harus dibaca tujuh kali oleh tujuh orang berbeda sampai akhirnya jadi seperti kopi tanpa kafein, aman, hangat, tapi tidak ada efeknya. Atau menulis pidato yang harus terdengar seperti guntur padahal isinya mungkin cuma sekadar mengingatkan untuk tidak parkir sembarangan di halaman gedung dewan. Belum lagi menyiapkan presentasi yang templatenya tidak berubah sejak 2015, seolah-olah inovasi berarti cukup mengganti gambar latar dari merah menjadi biru langit.

Dan jangan lupa briefing note untuk rapat-rapat yang sejujurnya bisa digantikan dengan pesan WhatsApp, ‘Bu, intinya kita setuju tapi belum ada anggarannya.’ Tapi tidak, semuanya harus dirangkum dalam tiga halaman dengan tata bahasa yang sempurna, seolah-olah kita sedang merancang Konstitusi Amerika, bukan sekadar menjadwalkan rapat koordinasi berikutnya.

Tapi di balik semua absurditas ini, saya menemukan seni tersendiri. Seperti mata-mata yang menyelipkan kode rahasia, saya belajar menyisipkan data penting di antara bullet point yang membosankan, atau mengganti kata ‘masalah’ dengan ‘peluang’ yang terdengar lebih optimis. Inilah perang gerilya versi birokrat, tetap ‘gas’ bukan karena mencintai, tapi karena ini satu-satunya kesempatan di mana saya bisa meletakkan ide-ide liar di antara garis-garis resmi, seperti menyelundupkan sayuran ke dalam burger, atau (yang lebih mulia) seperti memasukkan vitamin ke dalam jelly yang disukai anak-anak.

Dalam perjalanan saya berkarya di sini, tanpa bermaksud mengkotak-kotakan, saya mengamati tiga corak relasi yang saling melengkapi. Pertama, para pendebat handal yang dengan semangat menyalurkan gagasan-gagasan segar, bagai penerang yang membuka jalan pemikiran baru. Kedua, para ahli angka yang setia berjibaku dengan lajur-lajur Excel dan rumus-rumus alokasi, mereka adalah penjaga neraca yang tak tergantikan. Ketiga, para penenang dahaga, baik secara harfiah maupun metaforis, yang kehadirannya selalu dinanti untuk melepas penat dan menyegarkan kembali semangat.

Ketiga kelompok ini bagai tiga nada dalam sebuah akor yang saling melengkapi, meski kadang saya mengamati betapa sulitnya menyelaraskan visi mereka. Lalu bagaimana dengan para legislator? Oh, mereka adalah gambaran miniatur masyarakat dengan kepentingan yang beraneka rupa. Cara pandang mereka kadang unik, kerap melampaui logika umum, namun justru di situlah warna-warni demokrasi tampak nyata.

Lalu, apakah ini akan mengubah saya? Apakah saya akan berevolusi menjadi politisi juga?

Jawabannya tetap, TIDAK. Saya memilih untuk tetap profesional, memberi sejauh mampu, membantu seutuhnya. Pilihan ini bukannya tanpa konsekuensi. Beberapa kawan lama bertanya, kenapa saya tidak lagi berteriak-teriak seperti dulu; apakah saya sudah dijinakkan kekuasaan, atau disuap oleh upeti kuasa? Saya jarang menjawab. Bukan karena tidak bisa, tapi karena bagi saya, jawaban itu bukanlah kata-kata, melainkan sebuah tindakan bernama ‘otokritik’. Inilah instrumen yang saya pegang teguh untuk menjaga diri agar tetap berada di jalan yang lurus.

Lalu, apa sebenarnya yang saya lakukan selama setahun menjadi TA ketua DPRK? Ini bukan laporan kinerja, karena tanggung jawab saya bukan langsung ke publik, melainkan pada pimpinan saya. Namun, tentu saja keberadaan saya bukan tanpa arti. Di sinilah mungkin saya menemukan peran yang paling pas, sebagai seorang ‘tukang bisik’.

Sebagai tukang bisik, saya memilih telinga kanan, sisi yang diasosiasikan dengan hal yang baik dan logis. Apa yang baik menurut pertimbangan saya dan kiranya baik bagi orang banyak, itulah yang saya bisikkan. Itu yang akan saya lanjutkan. Namun, saya akan memilih ‘diam’ ketika ada yang membisikkan sesuatu ke telinga kiri. Bukan karena saya tidak peduli atau takut mencegah, tetapi karena TUPOKSI saya adalah pembisik telinga kanan. Lagi pula, beliau memiliki filter-nya sendiri yang canggih, yang tak perlu saya intervensi.

Dari sini, pelajaran terbesar saya pun mengkristal, ‘bahwa kekuatan sejati tidak selalu terletak pada volume suara, tetapi pada ketepatan bisikan.’ Saya menyaksikan sendiri bagaimana sebuah usulan kecil, yang disampaikan pada saat dan kepada orang yang tepat, bisa mengalir bagai sungai dan pada akhirnya menggerakkan kapal yang besar. Mereka yang di luar mungkin hanya melihat kapal bergerak, tanpa pernah menyadari angin macam apa yang mendorongnya. Mereka yang dulu seperjuangan mungkin mengira saya telah berhenti berteriak. Padahal, saya sedang belajar sebuah kebijaksanaan baru, teriakan hanya memekakkan telinga, sementara bisikan bisa menembus pikiran.

Pada akhirnya, saya adalah suara yang berjalan di lorong-lorong yang diam. Sebuah bayangan yang menyaksikan bagaimana cita-cita diperdebatkan dan kompromi dirajut. Posisi saya sebagai ‘otokritik’ bukanlah bentuk pemberontakan atau pengkhianatan dengan ‘balik kanan’. Ini adalah bentuk lain dari kesetiaan, sebuah kesetiaan yang tidak buta, yang berani membisikkan, ‘Wahai, ada noda di jubahmu,’ dengan harapan jubah itu bisa disucikan kembali. Ini adalah upaya perbaikan dari dalam, yang justru lahir dari pengalaman dan ‘luka’ yang saya alami sendiri.

Sebagai ‘orang dalam’, saya memegang kunci yang membuka pintu rahasia, percakapan tak tercatat, dan kepentingan yang tak terucap. Ada hal-hal yang saya pilih untuk simpan, bukan untuk menyembunyikan keburukan, melainkan justru sebagai wujud integritas. Sebab integritas sejati bukan hanya tentang berteriak menyampaikan kebenaran, tetapi juga tentang mengetahui ‘kapan’ harus diam. Ini adalah tarian halus antara dua peran, sebagai Tenaga Ahli yang profesional dan sebagai seorang teman yang mengkritik dengan rasa.

Maka, kritik saya adalah bisikan. Bukan teriakan. Saya menyampaikannya ke telinga kanan, dibungkus dalam data dan analisis, bukan sebagai kecaman di depan umum. Saya percaya pada filter dan kebaikan yang pada akhirnya akan berbuah.

Dan terhadap bisikan telinga kiri, bisikan yang beraroma kekuasaan dan jalan pintas, saya memilih untuk ‘diam’. Diam saya bukan persetujuan, apalagi ketakutan. Itu adalah bentuk perlawanan pasif saya, dengan menolak menjadi corong bagi kepentingan yang kotor. Tupoksi saya hanyalah menjadi pembisik telinga kanan. Itulah batas etik sekaligus kekuatan saya.

Posisi seperti ini mungkin takkan pernah sepenuhnya dipahami. Bagi dunia luar, saya adalah bagian dari mesin. Bagi kawan lama, saya mungkin dianggap telah terjinakkan.

Biarlah, saya telah memilih untuk tidak lagi berteriak di luar pagar, tetapi membawa obor kecil ke dalam gua, menerangi sudut-sudut gelap dari dalam. Mungkin obor ini tak sanggup mengusir semua kegelapan, tetapi bagi mereka yang matanya telah terbiasa dengan gelap, cahaya sekecil apa pun akan terasa terang benderang.

Dan dalam diam yang penuh perhitungan, dalam bisikan yang penuh niat, di situlah letak revolusi saya yang sebenarnya. Sebuah teriakan yang justru terdengar paling keras dalam kesunyian.

*) PENULIS adalah Tenaga Ahli Ketua DPRK Aceh Besar

Pos terkait