BANDA ACEH, INFONANGGROE – Proses pemulangan jamaah haji asal Aceh tengah berlangsung setiap hari, mulai Sabtu (28/6) hingga Rabu (9/7). Namun, keluarga jamaah diimbau untuk tidak menjemput ke Asrama Haji Aceh di Banda Aceh.
Imbauan tersebut disampaikan oleh Ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Aceh, Drs. H. Azhari, M.Si.
“Keluarga jamaah cukup menunggu di titik penjemputan yang sudah ditetapkan di kantor Kemenag kabupaten/kota masing-masing,” kata Azhari, dikutip dari Kompas.com.
Ia menegaskan, penjemputan hanya diperbolehkan untuk jamaah yang berasal dari Banda Aceh dan Aceh Besar. Untuk jamaah dari daerah lain, keluarga cukup menunggu di titik yang telah ditentukan oleh Kemenag setempat.
Menurut Azhari, proses pemulangan jamaah tidak memakan waktu lama seperti saat keberangkatan. Setelah mendarat di Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM), jamaah langsung dibawa ke Asrama Haji Aceh. Di sana hanya dilakukan pelepasan singkat dan pemeriksaan dokumen selama sekitar satu jam. Setelah itu, jamaah langsung diberangkatkan ke daerah masing-masing menggunakan bus.
“Kalaupun keluarga datang ke Asrama Haji Banda Aceh, tidak akan sempat bertemu dengan jamaah. Karena dari bandara langsung masuk aula, lalu naik bus untuk kembali ke daerah,” ujarnya.
Ia juga menambahkan, rombongan jamaah akan dikawal oleh vooridjer (pengawal lalu lintas), sehingga tidak memungkinkan bagi keluarga untuk ikut serta dalam rombongan. Jika keluarga tetap memaksa menjemput ke Banda Aceh, mereka justru berisiko tidak bisa pulang bersama-sama atau bahkan tertinggal.
“Justru sayang nanti kalau sampai di daerah, jamaahnya tidak ada yang menjemput karena keluarganya masih di Banda Aceh,” kata Azhari.
Ia menjelaskan, masing-masing kabupaten/kota telah menetapkan titik penjemputan. Beberapa daerah seperti Aceh Utara dan Aceh Selatan menetapkan banyak titik, sementara daerah lain seperti Pidie, Bener Meriah, dan Aceh Tengah hanya menetapkan satu titik penjemputan.






